Tuhan, Perlukah Dibela?

 

Tuhan membela kita
pixabay.com

“Ummat Islam memang sudah biasa mengalah, dan memang seharusnya mengalah”. (MH. Ainun Najib).

Akhir-akhir ini, ummat Islam dihebohkan berita sandal berlafazkan Allah buatan pabrik di Gresik, Jawa Timur. Tak hanya itu, ummat Islam juga menjumpai permen yang bertuliskan plesetan “Ya Allah” menjadi “Yaowo”.

Menurut kabar yang beredar, kata-kata yang tertera di bungkus permen Reinbow bagian belakang tersebut diambil dari bahasa gaul dengan kode #008 (Republika, 18/10/2015).

Terlepas adanya kekeliruan produksi, ataupun perbedaan keragaman dialek daerah, mari sejenak merenungkan kembali mengenai slogan yang dipopulerkan KH Abdurrahman Wahid tahun 1982, “Tuhan Tidak Perlu Dibela”.

Ungkapan tersebut sebenarnya lahir untuk mengingatkan masyarakat Muslim agar tidak menjadi ummat yang larut “hobi” menyelesaikan masalah. Ya, masalah memang selesai satu persatu, namun timbul berbagai masalah baru.

Ummat Islam seharusnya menyadari adanya beberapa kasus di atas, tidak lain hanyalah ujian semata. Karunia melimpahnya kuantitas ummat hendaklah dibarengi dengan tingginya kualitas.

Ummat terbaik ini memang harus pandai-pandai menata hati, terlebih menata masa depan demi kejayaan gemilang. Adanya berbagai kasus pelecehan maupun penistaan hendaknya disikapi dengan bijak.

Nasehat yang benar namun disampaikan dengan cara yang kurang tepat hanya akan menimbulkan derivasi pelecehan yang baru.

Seperti yang tercermin dalam surah Ali Imran ayat 139, bahwa karena hanya Rahmat-Nya lah Muhammad Rosulullah mampu berlemah lembut terhadap mereka. Yang demikian itu agar mereka tidak menjauh dari Islam.

Dengan ketenangan, ummat ini akan hadir dengan nuansa kedewasaan. Suatu kondisi ummat yang kokoh dengan segala terjangan yang mungkin saja sarat menyakitkan hati ummat.

Namun “Gusti Mboten Sare”, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan ketabahan ummat-Nya selagi masih percaya bahwa apapun penghinaan yang dilakukan seisi makhluk di bumi ini sama sekali tak akan mengurangi ke-Maha Sempurnaan-Nya.

Maka dari itu, janganlah membuat segelintir oknum yang mencoba merusak kedamaian bersuka cita dengan kecengengan, keluhan dan segala amarah. Ummat perlu bersatu lewat sikap dan tindakan yang serentak mengutamakan kelembutan.

Adanya kelembutan itulah yang akan melahirkan persatuan ummat, sedangkan kekerasan hanya akan menimbulkan harakah, golongan dan firqoh, yang berjalan stagnan. Alhasil, ummat bercerai berai hanya karena sibuk mengurusi perbedaan hukum, namun lupa akan tujuan.

Ummat terbaik ini memang tidak sepantasnya mengeluh, karena pembelaan yang dilakukan semata-mata demi kebaikan masa depan. Wujud dari perbaikan itu sendiri dapat dimulai dengan tetap fokus pada tujuan besar ummat.

Misalnya, apresiasi tinggi terhadap pihak Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) yang mempelopori gerakan jamaah subuh nasional. Pemberdayaan Ekonomi yang dilakukan Masjid Jogokaryan dan pembinaan keagamaan yang rutin dilakukan Masjid Syuhada Kota Baru.

Ummat Islam memang selalu ditikam dari segala penjuru arah, namun hal tersebut jangan sampai membuat akal sehat ummat ini hilang. Apapun sikap ataupun tindakan seharusnya mengundang Tuhan untuk membela ummat. Bukan membela Tuhan lantas Tuhan meninggalkan ummat. Kenanglah, bahwa keikhlasan Tuhan akan senantiasa hadir dari orang-orang yang bijak dalam bersikap.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *