Tidak Ada Siswa yang Bodoh; Hanya …

Tidak Ada Siswa yang Bodoh; Hanya …

ACADEMIC INDONESIA – Termangu membaca sebuah status di Facebook mengenai parodi pendidikan di Indonesia. Singkatnya, di dalam gambar tersebut ada berbagai jenis hewan-hewan.

Seekor monyet duduk di kursi sambil menjelaskan kepada kawan-kawan dihadapannya. Diantaranya ada kerbau, monyet,  buaya, kancil, monyet, siput dan ada juga burung emprit.

Seekor monyet bilang; “Kalian harus memanjat pohon tersebut sampai atas. Siapa yang duluan, dia yang jadi juaranya.”

Nah teman-teman pasti tahu siapa yang akan menjadi jawaranya.

Seperti Itukah Pendidikan di Indonesia?

Pelan namun pasti saya tersindir juga dengan parodi tersebut. Hingga sampai-sampai saya membenarkan sebagian dari makna parodi tersebut.

Hal di atas tak terlepas dari adanya berbagai diskusi bersama teman-teman yang merasakan bahwa pendidikan di negeri ini bukan mencari solusi untuk memerdekakan.

Malahan terkungkung semakin menyendiri lantaran fokus dengan apa yang tidak diketahui, fokus terhadap apa yang dia tidak bisa dan fokus terhadap kelemahan diri sendiri.

Bahayanya, siswa yang mengalami seperti itu akan melupakan bakat besarnya sendiri. Ia merasa tidak ada gunanya hidup bahkan merasa Tuhan tidak adil lantaran ia merasa memiliki banyak kekurangan.

Padahal, anggapan seperti itu sebenarnya tidak perlu. Satu kelemahan diri kadang menutup semua potensi diri sehingga menyebabkan siswa buta prestasi.

Apa yang Perlu Dimaksimalkan?

Banyak bila mencari kelemahan. Namun bila pencarian kelemahan tersebut bertujuan untuk kebaikan, kiranya bukan menjadi masalah.

Salah satu pokok bagian pendidikan yang terpenting adalah hadirnya guru. Guru adalah driver di dalam kelas yang akan membawa anak didiknya sampai ke tempat tujuan; dalam hal ini adalah cita-cita.

Seorang teman saya nyelethuk; “Mas, kalau sampeyan tidak cerdas, tidak usah jadi guru.”

“Cerdas bagaimana?” Timpal saya.

“Cerdas bukan hanya cerdas sebagai ilmuan, namun juga cerdas secara sosial dan kepribadian. Tak jarang rajin atau malasnya siswa tergantung gurunya di kelas,” balasnya.

Mengingat guru memiliki banyak penumpang dan tentunya setiap penumpang memiliki tujuan (baca cita-cita) masing-masing, tugas guru harus cerdas menyikapi setiap murid satu per satu.

Baca juga artikel Pesan Pendidikan dari Harvard University

Pendidikan di Indonesia Saat ini

Kita bersyukur saat ini semua elemen bangsa bahu membahu untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berbagai peraturan pun kemarin sempat diubah mulai dari peraturan UNAS, skripsi dan hal-hal lain terkait pendidikan.

Sayangnya setiap pergantian menteri ada saja problemnya. Ada baiknya kita mencontoh negara tetangga yang fokus akan kualitas guru. Sebab, sebaik apapun sistem yang dirancang, bila gurunya belum siap barangkali hanya akan menimbulkan problem baru.

Saya yakin sepenuhnya bahwa semua materi bisa diajarkan, namun tetap dikembalikan sesuai kebutuhan dan kadar skill bakatnya masing-masing.

Bila seekor siput diberikan ujian memanjat pohon, barangkali bukan pohon seperti pohonnya kancil atau buaya. Karena siput tak memerlukan pohon seperti itu (pohon terlalu besar) untuk menjadi siput yang sejati.

Begitupula dengan yang lainnya, kancil, manuk emprit, buaya, monyet; untuk menjadi kancil sejati, buaya sejati, emprit sejati tidak harus memerlukan besaran pohon yang sama, hanya modifikasi cara dan kadarnya saja untuk benar-benar menjadi sejati.

So, maksimalkan kualitas guru, karena sebenarnya tak ada siswa bodoh; yang ada hanya belum menemukan guru yang tepat.

By Pembicara Seminar Pendidikan

Founder ACADEMIC INDONESIA — Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *