Sering Gagal Menulis Buku? Inilah Beberapa Nasehat dari Para Ulama

Tips Menulis Buku Para Ulama
marketing.linkedin.com

Nasehat Para Ulama tentang Menulis-Masih suka menunda-nunda?
Inilah kelemahan seorang penulis pemula. Sering bahwa kita suka menunda-nunda untuk menuliskan sesuatu. Dengan berbagai macam alasan yang sebenarnya tidak perlu, seperti tema yang diangkat tabu, menganggap tulisannya tidak menarik, sudah banyak yang menuliskan atau memang diri kita malas.

Penulis teringat tentang kisah perjalanan Imam Malik ketika beliau ingin menuliskan Kitab al Muwattho’. Saat beliau ditanya kepada masyarakat sekitar perihal sudah banyaknya yang menulis tentang kitab tersebut, Imam Malik menjawabnya dengan tegas,

“Memang kitab seperti ini sudah banyak ditulis orang, namun saya menuliskannya karena Allah”.

Beliau yakin bahwa tulisan yang ditulis karena Allah, tulisannya akan senantiasa kekal. Dan kita lihat sampai saat ini kitab itu masih dipelajari banyak manusia.

Cak Nun dalam sebuah kesempatan juga memberi saran agar senantiasa
istiqomah dalam menulis, jangan khawatir tidak ada yang membacanya, karena suatu saat pasti tulisan Anda akan dibaca.

Menulis bisa merapikan sejarah secara ringkasnya, dengan demikian tulisan setua apapun umurnya akan tetap relevan bagi anak cucu kedepannya. Tulisan dapat dikaji dari generasi ke generasi sebagai bahan diskusi seluruh anak manusia.

Adapun dalam menulis terutama menulis buku masih banyak yang beranggapan tak akan menulis lagi lantaran tulisan yang pertama atau yang ini belum sempurna. Dalam keadaan itu biasanya kita enggan beranjak ke hal-hal yang baru dan itu menjadi alasan pamungkas menjatuhkan mental kita agar berhenti menulis.
Dalam Alquran surah al Kahfi dijelaskan bahwa meskipun lautan menjadi tinta, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabb habis.

Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (al-Kahfi/18: 109).

Hal ini mengindikasikan bahwa ilmu tak akan habis dipelajari manusia kapanpun. Orang yang berilmu lantas ia mengaku orang berilmu sebenarnya ia belum berilmu. Karena orang yang berilmu akan senantiasa merasa sabar dan rendah hati. Ia sadar bahwa ilmu merupakan penunjukan bukan membanggakan diri dengan kesombongan.Dalam buku pendahuluan Sirah Nabawiyah karangan Prof. Dr. Ali Muhammad ash Shalabi menyebutkan syair yang indah yakni:

“Dan katakanlah pada orang yang mengaku ahli di bidang filsafat,
Engkau hafal sedikit, tapi banyak hal yang kau lewati.”

Dalam kisah lain Ats Tsa’alabi berkata,
“Tidaklah seseorang menulis sebuah kitab lalu ia tidur di dekatnya satu malam, melainkan ia ingin pada selainnya menambahkan di dalamnya atau menguranginya darinya. Ini dalam satu malam, lalu bagaimana bila dalam hitungan beberapa tahun?”

Al-‘Ammad Al- Ashbahani berkata,
“Saya melihat bahwa seseorang tidak menulis sebuah tulisan di suatu hari melainkan ia berkata pada esok harinya: Seandainya bukan yang ini tentu lebih baik, seandainya ditambah demikian tentu menjadi lebih baik, seandainya yang ini didahulukan tentu lebih utama, seandainya ini dibuang tentu lebih indah, itu merupakan pelajaran terbesar bahwa itu adalah bukti pengambilalihan kekurangan pada sejumlah orang….”

Inilah pentingnya editing sebagai titik kunci kesempurnaan tulisan. Seseorang yang menulis lalu mengeditnya langsung bukan hanya menghabiskan waktu, namun juga membuat aktivitas menulis terasa seperti beban. Padahal untuk menghasilkan tulisan yang baik, Anda harus bisa menikmati setiap huruf yang Anda tuliskan.

Oleh karena itu, biasakanlah menulis apapun yang ada di pikiran Anda, luahkan, curahkan dan tuangkan semaksimal mungkin. Bila Allah menghendaki, tulisan Anda akan terbaca lebih indah karena lahir dari kejujuran pikiran Anda.

Simak artikel relevan tentang Editing, Titik Kesempurnaan Tulisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *