Sekaten dan Nostalgia Detik-detik Kelahiran Nabi

18 views
Sekaten Jogja
kratonjogja.id

Keraton Yogyakarta baru saja melaksanakan hajad dalem Sekaten (Rabu, 21/11/2018). Upacara rutin tahunan yang telah dilaksanakan sejak zaman kerajaan Demak— kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Bila ditinjau dari sejarahnya, Sekaten berasal dari “sekati” yang artinya seperangkat gangsa (gamelan) dari Majapahit. Gamelan kemudian diserahkan ke Demak yang hingga saat ini rutin dibunyikan selama pelaksanaan Sekaten. Ada juga yang memaknainya dari kata “sekat” yang artinya “batas”. Maknanya, di dalam menjalani kehidupan hendaknya manusia mempunyai batas yang jelas antara baik dengan yang buruk.

Di sisi lain, ada juga yang memahami dari asal kata “ketan”, makanan dari nasi berwarna putih yang sifatnya sangat lengket (pliket). Intisarinya, Sekaten dimaknai sebagai usaha untuk merekatkan ukhuwah islamiyah sekaligus persaudaraan saklawase. Sekaten juga diejawantahkan sebagai dua kalimat syahadat yang asal katanya berasal dari syahadatain. Kalimat suci, radikal serta fundamental yang mana syahadat ini diucapkan ketika seseorang ingin bekomitmen dengan agama Islam; dalam hal ini menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Banyak sisi positif yang bisa diambil dengan hadirnya pasar malam perayaan sekaten (PMPS). Bagi masyarakat Yogyakarta (Jogja) khususnya, adanya PMPS tentu saja menjadi kerinduan tersendiri akan hadirnya wahana keluarga yang sarat budaya lokal penuh keriligiusan. Begitu pun dengan masyarakat di luar Jogja, acara PMPS dapat menjadi ajang pengenalan budaya sekaligus mendalami nilai-nilai luhur kawula Jogja. Pengunjung bisa belajar kebudayaan Jogja melalui sejarah yang tertera pada barang-barang peninggalan di dalam keraton.

Di sisi lain, hadirnya rentetan acara PMPS juga menegaskan bahwa hingga saat ini Keraton Jogja masih tetap eksis di tengah-tengah gempuran globalisasi. Bahkan, dalam perjalanannya, Sekaten menghadirkan nuansa islami berbalut kebudayaan sepertihalnya pada acara inti pembacaan riwayat Nabi. PMPS tidak hanya menarik bagi warga Jogja semata, pendatang yang sifatnya heterogen pun mampu membaur dalam satu wadah sebuah perayaan Maulid. Inilah bungahnya warga Jogja dalam menyambut lahirnya Baginda Nabi Muhammad Saw.

Nostalgia Detik-detik Kelahiran Nabi

Sekaten dan Nostalgia Detik-detik Kelahiran Nabi
kratonjogja.id

Ruh dari PMPS itu sendiri sebenarnya untuk memperingati lahirnya Baginda Nabi Muhammad Saw. Beliaulah Nabi penutup yang membawa pesan tentang pentingnya sebuah tata krama (akhlak). Tidak heran bila para pendahulu membuat acara besar-besaran untuk menyebarluaskan khazanah akhlak nabi melalui Sekaten.

Di beberapa literatur, banyak dijelaskan bahwa kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw membawa nuansa penuh kebahagiaan bagi siapapun yang mendengarnya, tak terkecuali dengan pepohonan yang tumbuh subur menghijau, mata air mulai bermunculan mengalir mengairi semua alam. Bahkan, disebutkan dalam sebuah riwayat seorang Abu Jahal pun bahagia menyambut kelahiran Nabi. Sebab rasa bahagianya tersebut, Abu Jahal diringankan siksanya setiap datang Maulid Nabi.

Kisah padamnya api sesembahan kaum Majusi atau yang dikenal dengan Zoroaster juga menjadi peristiwa penting detik-detik kelahiran Nabi. Menurut sejarah, Api Majusi yang bertempat di kuil pemujaan (Persia) telah menyala hampir seribu tahun. Hingga menjelang kelahiran nabi Muhammad, api tersebut padam walaupun dalam usahanya akan diyalakan namun tetap padam.

Keajaiban selanjutnya adalah hancurnya pasukan bergajah. Abrahah yang dikenal sebagai pemimpin pasukan bergajah iri dengan kemajuan ekonomi Arabia Utara yang di sana terdapat bangunan Ka’bah. Abrahah merasa tersaingi dengan adanya Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi para peziarah sedangkan kuil yang dibangun di wilayah Abyinia (Yaman) pelan-pelan mulai sepi.

Selain hal di atas, ada pula beberapa peristiwa menjelang kelahiran nabi Muhammad Saw yang masih menjadi perdebatan para ulama dan cendekiawan muslim. Di antara peristiwa tersebut yakni jatuh dan hancurnya berhala-hala di mekkah. Di dalam kitab Arahiq al Makhtum karangan Syeikh Shafiyyurhman al Mubarakfuri dijelaskan bahwa kelahiran nabi Muhammad bertepatan dengan runtuhnya 14 baklon istana Kisra Anusyirwan (raja Persia).

Kejadian lain yakni runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhaira. Mengeringnya Danau Sawa (wilayah irak)  yang saat ini dijadikan sebagai tempat pemujaan. Dan juga berbagai tanda kesamaan dengan lahirnya para nabi lainnya seperti munculnya bintang besar dan bercahaya di malam kehairan nabi Muhammad Saw.

Itulah peristiwa-peristiwa luar biasa detik-detik menjelang kelahiran Nabi yang diekspresikan melalui sebuah perayaan besar selama kurang lebih satu bulan. Puncaknya, grebeg maulid menjadi tanda bukti bahwa di tengah teriknya matahari, warga masih setia berbondong-bondong “ngalap berkah” dari “gunungan” yang telah diberi doa. Inilah cara warga Jogja bernostalgia memperingati kelahiran Nabi. Selamat ulang tahun Nabiku.

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *