Satu Ayat untuk Mahasiswa Tunarungu

41 views

Dua Khotib dalam Satu Khutbah

Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Rumah Semua Jenis Jamaah

Presentasi Mata Kuliah Toleransi Antar Ummat Beragama

Dosen Pengampu Prof. Dr. Faisal Ismail

Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga
Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Landasan Teologis

Surah Abasa 1-16
Surah Abasa 1-16

Arti Surah Abasa 1-16

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.

Suatu ketika, Rasulullah Saw sedang berusaha mendakwah/mengajak Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Maka ketika itu, Ummi Makhtum berdiri kemudian berbicara, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”.

Kemudian Ummi Makhtum memanggilnya mengulang perkataannya lagi dalam keadaan tidak tahu bahwa Rasulullah Saw sedang sibuk memerhatikan ketiga orang lain tersebut.

Tampaklah pada wajah Rasulullah rasa kurang senang kepada Ummi Makhtum karena merasa pembicaraan beliau dengan para pembesar Quraisy terganggu. Rasulullah pun berpaling darinya dan tetap memerhatikan para pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum pun bertanya, “Apakah yang saya katakan ini salah?” Rasulullah menjawab, “Tidak”.

Maka, turunlah ayat Abasa watawalla[1] dst… Setelah itu, barulah Rasulullah memuliakan Ummi Makhtum dengan kalimat,

“Selamat datang wahai orang yang telah menjadikan aku ditegur Tuhanku.” (HR. Sl Tirmizi dan Al Hakim dari Aisyah).

Dari cerita di atas, ada beberapa hikmah yang perlu kita petik;

1. Allah Tidak Pernah Memandang Fisiknya

Kisah di atas menyadarkan kita bahwa dalam berteman, bertoleransi atau membangun hubungan silaturahmi hendaknya tidak memandang faktor fisik. Sebab, bagi Allah yang terpenting adalah kesungguhannya di dalam mempelajari agama Islam.

Begitu pula di dalam berdakwah, hendaknya dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki jabatan tinggi atau terhormat, bisa jadi orang kecil, berkebutuhan khusus atau orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa, pun jika ia ikhlas ingin mempelajari agama Islam perlu kita beri perhatian.

2. Nabi Muhammad Dididik Langsung Oleh Allah

Kisah di atas juga menegaskan kita bahwa tidak ada keraguan untuk mengikuti apa yang telah disunnahkan Rasulullah. Bagaimana pun juga, Rasulullah adalah utusan Allah yang bila Beliau melakukan kesalahan langsung ditegur Allah. Rasulullah Saw adalah teladan paling sempurna, dalam hal ini mengenai toleransi bahkan toleransi kepada kaum minoritas, termarjinalkan dan terlupakan sepertihalnya tunanetra.

Profil Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Terkait sub bab ini, baca selengkapnya di Profil Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Khutbah Jumat Berbahasa Isyarat

Bersyukur kita masih diberikan pendengaran, penglihatan maupun nikmat-nikmat lain yang barangkali kita sering terlupa mensyukurinya. Kita sebagai hamba yang hanya mung sakderma tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari. Yang jelas, setiap orang sebenarnya memiliki kerentanan yang sama untuk menjadi bagian dari difabilitas.

Ada salah satu hal yang membuat saya tergerak untuk menuliskan tugas ini, mungkin kita akan menyepelekan satu ayat yang melintas di kehidupan kita, karena mungkin setiap hari kita sudah belajar penuh selama 24 jam non stop.

Tapi coba bayangkan, bagi saudara seiman kita yang memiliki kekurangan pendengaran, tentu satu ayat menjadi sangat berarti bagi hidupnya. Bahkan, untuk menangkap bahwa itu merupakan satu ayat pun mereka perlu perjuangan keras.

Saking sibuknya, atau egoisnya kita, seringkali kita melupakan yang dekat-dekat. Mereka yang memiliki kekurangan dalam pendengaran adalah wujud konkrit saudara kita yang harus kita bantu.

Jangan sampai dalam beragama, kita hanya mengambil yang enak-enaknya saja lalu melupakan yang urgent. Sepertihalnya berlindung di balik kata “rukhsah”, atau alasan-alasan lain yang sebenarnya tidak perlu.

Bagaimana seharusnya relasi ulil amri (takmir masjid) dengan rakyat (jamaah) dalam hal ini untuk memenuhi hak-haknya?

Baca Pembahasannya di Khutbah Jumat Berbahasa Isyarat

 

Footnote

[1] Surah ‘Abasa juga dikenal sebagai nama Al-A’ma atau Al Safarah. Nama yang lebih dikenal yaitu ‘Abasa, diambil dari ayat pertma surah ini yang berbunyi “abasa watawalla”. Surah ini terdiri atas 41 ayat, 133 kata da 533 huruf, dengan nomor urut 80 setelah surah Al Naziat dan sebelum Al Takwir. Surah ‘Abasa termasuk surah Makkiyah dan diturunkan dengan nomor urut 24 setelah Surah An-Najm. Lihat selengkapnya di Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, Tafsir Salman; Tafsir Ilmiah Atas Juz ‘Amma, Penerbit Mizan Pustaka, Bandung, 2014, hlm, 117.

 

Jangan Menunggu yang Sempurna,

Tapi Sempurnakan yang Ada….

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *