Reuni 212 dan Sebuah Refleksi Ketauhidan

37 views

Kalimah tauhid adalah kalimat sakral bagi ummat Islam. Banyak hadist yag menjelaskan arti penting kalimah tauhid, mulai dari manfaat hingga beratnya kalimat tersebut. Bahkan, kalimat tauhid juga disebut sebagai miftahul jannah (kunci syurga) bagi mereka yang sebelum menghembuskan nafas terakhir mampu mengucapkan kalimah tauhid tersebut.

Bila ditinjau dalam keseharian, kalimah tauhid memang terkesan sederhana, namun dalam praktik zikir sehari-hari, sedikit orang yang sanggup mengamalkannya secara kontinyu. Saking beratnya, di beberapa pedesaan sepakat diadakannya aksi bela tauhid yang biasa disebut sebagai Tahlilan maupun Yasinan.

Dengan zikir yang dilafazkan secara bersama-sama, diharapkan zikir bisa menjadi lebih ringan karena di dalamnya ada spirit kebersamaan. Itulah aksi bela tauhid di pedesaan.

Begitu pula dengan aksi bela Islam atau tauhid yang akhir-akhir ini seluruh ummat Islam bersatu di Monas. Aksi tersebut adalah bagian dari ekspresi bagaimana ummat Islam mencintai Al Quran maupun kalimah sakral seperti tauhid.

Tak banyak perbedaan baik di Monas maupun di pedesaan dalam hal aksi bela tauhid. Ketauhidan selalu saja produktif melahirkan keindahan-keindahan komunikasi antar budaya.

Coba perhatikan di lingkup pedesaan, bila kita pernah turut serta Tahlilan maupun Yasinan, di sana akan terasa betapa hangatnya bersatu dalam satu majelis untuk berzikir bersama. Begitu pula dengan reuni 212 di Monas, keindahan-keindahan senantiasa hadir di setiap penjuru arah. Semuanya bersama dalam sebuah harapan untuk pertolongan dari Sang Pencipta.

Di lingkup pedesaan, warga yang berperan sebagai tuan rumah tidak “pitungan” dalam memberi sedekah kepada para pelafaz zikir. Banyak orang menyebutnya sebagai sedekahnya orang Jawa.

Begitu pula dengan reuni 212, jamaah yang hadir seperti saudara sendiri. Semua terkait konsumsi saling bahu-membahu untuk berlomba-lomba memberi, memungut sampah hingga menjaga tanaman sekitar tetap tertib dan menjaga keindahan.

Di negeri ini, makna tauhid belum luntur. Tauhid masih memberikan keindahan-keindahan akhlak, baik di lingkup desa maupun di Monas. Terima kasih ya Allah, melalui kalimah tauhid, kami benar-benar merasa indah. Laa ila ha illallah, Muhammada Rosulullah…

Foto Gambar Reuni 212 dari Atas Samping

Foto Gambar Reuni 212 Depan Monas Foto Gambar Reuni 212 Monas 2018 Foto Gambar Reuni 212 Monas dari atas Foto Gambar Reuni 212 Monas Jakarta Foto Gambar Reuni 212 Monas Malam Hari Foto Gambar Reuni 212 Monas Sore Hari Foto Gambar Reuni 212 Pagi Hari Monas Foto Gambar Reuni 212 Terbaik Foto Gambar Reuni 212 Terbaik

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *