Muda, Berbeda dan Berusaha Memahami; Refleksi Sumpah Pemuda

Refleksi Sumpah Pemuda
www.arenaterbaru.com

Salah satu problem kompleks yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah melemahnya peran pemuda. Patriotisme, prestasi dan toleransi yang seharusnya dihadirkan pemuda malah bias dari nilai otentiknya.

Di tengah-tengah goncangan berbagai gaya hidup hedonis, apatis, pragmatis pemuda dilema butanya implementasi sejarah perjuangan bangsanya. Di moment Sumpah Pemuda kali ini, saatnya pemuda menelaah kembali peran pemuda dalam berbangsa dan bernegara.

Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna menjelaskan bahwa negara Indonesia bukanlah negara “fotokopi”. Persepsi Indonesia sebagai negara yang mewarisi kelanjutan bekas administrasi Belanda terlalu dangkal. Sejarah mengukir bahwa Sumpah Pemuda diikrarkan sebelum Indonesia merdeka, saat itu para pemuda sudah menekadkan diri sebagai bangsa.

Para pemuda berusaha menerobos batas-batas sentimen etno-religius ataupun etno-nasionalis. Berdasarkan konsepsi kewarganegaraan, para pemuda menjalin solidaritas atas dasar kesamaan tumpah darah, bangsa dan bahasa kesatuan (civic nationalis).

Di waktu yang sama, Soekarno sering mengutip definisi Otto Bauer tentang bangsa sebagai “die au seiner shicksalsgemeinschaft erwachsende Charaktergemeinschaft”, “komunitas karakter yang berkembang bersama”.

Kutipan diatas bermaksud bahwa Indonesia adalah komunitas yang berkembang dari pengalaman bersama. Pengalaman itulah yang berhasil menyatukan hati seluruh pemuda Nusantara dari pengalaman dijajah, disiksa dan dihinakan oleh tuan-tuan bangsa asing serta menghisap tenaga rakyat.

Pemuda-pemudi pun bangkit seiring kesadaran bahwa menjadi Indonesia bukanlah hal yang terberi begitu saja namun merupakan pilihan yang harus diperjuangkan.

Gelora perlawanan pemuda-pemudi semakin menambah semangat nasionalisme lewat kelompok-kelompok yang tergabung dalam Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan jong-jong lainnya seantero Nusantara.

Puncaknya, kesadaran nasional mencapai titik kulminasi ketika para pemuda mendeklarasikan ikatan persaudaraan, senasib sepenanggungan, berbahasa satu, dan berbangsa satu, Sumpah Pemuda 1928.

Namun, perlahan-lahan pengalaman bersama tersebut tak mampu lagi mempersatukan tekad seluruh elemen masyarakat khususnya pemuda untuk membangun bangsanya.

Dapat kita saksikan pemuda saat ini demi kekuasaan, harta bahkan wanita lebih memilih jalan meneror daripada musyawarah. Kekerasan yang berujung pembunuhan sudah terasa lumrah menggerogoti kesatuan dan persatuan ikrar Sumpah Pemuda 85 tahun silam.

Kaum muda saat ini benar-benar tak terwadahi karena terjebak dalam sistem. Sistem kekuasaan yang arogan banyak menimbulkan egoisme serta komersialisme kekuasaan yang menghambat produktifitas kaum muda.

Dapat dilihat saat ini kaum muda yang mempunyai integritas tinggi tak mampu bersaing secara sehat karena sistem kekuasaan menghalalkan segala cara demi kepentingan kelompoknya.

Alhasil, dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang-orang yang ada “diatas” bukanlah orang-orang yang berhasil menduduki jabatannya dengan halal. Ia menjadi wayang yang siap dimainkan sesuka dalang dibelakangnya.

Disadari ataupun tidak, dari zaman ke zaman, sistem menggiring kearah “peradaban rendah”. Siapa yang berkuasa ia mampu melanggengkan jabatan parlemen hingga tujuh turunannya. Disinilah tantangan kaum muda untuk mandiri dan berupaya mewujudkan menuju peradaban bermoral.

Salah satunya melalui komunitas yang nantinya akan menaburkan benih-benih kecil bahkan mampu menyaingi lembaga ataupun organisasi yang ada di dalam sistem. Menjadi pemuda yang berbeda dan berusaha memahami adalah salah satu langkah tepat mengembalikan peran pemuda.

Saya Muda, Berbeda dan Berusaha Memahami” adalah salah satu tekad yang seharusnya dimiliki setiap pemuda. Muda adalah simbol yang melambangkan semangat tanpa kenal henti memperjuangkan sekaligus ikhtiar melunasi cita-cita bangsa.

Sedangkan berbeda bukan berarti tak bisa bersatu, justru karena perbedaanlah mampu mengantarkan indahnya persaudaraan. Berbeda merupakan suatu statement selangkah lebih maju untuk membangun peradaban.

Sedangkan berusaha memahami adalah keputusan untuk tidak mengklaim diri sendiri sebagai orang paling benar.

Haarapannya, di moment Sumpah Pemuda kali ini semoga bangsa ini kedepan mampu melindungi segenap rakyat tanpa terkecuali. Jika tidak, apakah perlu sekiranya Sumpah Pemuda diikrarkan kembali oleh seluruh pemuda-pemudi se-Nusantara untuk yang kedua kali?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *