Pelajar Dihukum Mandi Oli; Solutifkah?

Pelajar Dihukum Mandi Oli
Pixabay.com

Miskin hati jika tidak suka memaafkan. Barangkali ungkapan tersebut menjadi salah satu pembuka tulisan yang baik.

Betapa tidak, belum genap sepekan pula kita pun dihebohkan kembali dengan adanya berita Bocah Dihukum Mandi Oli. Masih zamannyakah?

Kronologi Kejadian

Kejadiannya ketika pemilik bengkel sedang tidak ada, seorang bocah dengan inisial ALD (14) mencuri pedal persneling. Usut diusut, pemilik bengkel yang bernama Arif Alfian (37) pun mengetahui bahwa yang mencuri pedal miliknya adalah ALD.

Arif Alfian kemudian membawanya ke Kepala Dusun setempat. Setelah itu, Arif memberikan pilihan, ingin dilaporkan orang tuanya, atau memilih menyiram dirinya sendiri dengan oli. ALD kemudian menyiram dirinya sendiri dengan oli yang diketahui berada di dalam jerigen.

Beberapa hari kemudian, video tersebut mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Bahkan, video ALD ketika menyiram dirinya dengan oli menjadi viral.

Arif tak menyangka akan seperti itu, padahal niatannya hanya ingin memberikan efek jera. Arif sama sekali tidak ingin menyakiti apalagi balas dendam terkait pencurian yang dilakukan anak tersebut.

Belum lama diketahui, ALD ternyata seorang yatim piatu. Arif mengaku menyesal atas perbuatannya. Ia bahkan ingin membantu biaya sekolahnya.

Andai Kesabaran Itu Ada Diawal

Sayang seribu sayang, meskipun Arif sampai ingin membantu biaya sekolah, kasus tersebut sudah terlanjur masuk ke ranah hukum.

Baca Juga 9 Siswa Ditampar Gurunya

Kita sebagai netizen barangkali juga merasakan betapa menyesalnya diri ketika sebenarnya kita ingin berbuat baik, namun kita melakukannya dengan cara yang tidak benar. Justru masalah yang akan mendatangi kita.

Kita lihat kasus di atas, sebenarnya pemilik bengkel mempunyai hati yang mulia, hanya saja barangkali pemilik bengkel sedang terlupa sehingga lebih mendahulukan hukuman daripada mengklarifikasi terlebih dahulu.

Betapa elok bila si pemilik bengkel menanyakan terlebih dahulu alasan ALD mencuri pedal persneling, tentu kejadian akan jauh berbeda. Pemilik bengkel bisa memaklumi seandainya jalan klarifikasi didahulukan.

Keluar dari Keegoan Meskipun Itu Milik Kita Sendiri

Hal penting yang bisa menjadi pelajaran pada kasus kali ini adalah keegoan. Terkadang kita merasa benar sendiri dengan apa yang kita lakukan sebab kita yang memiliki.

Namun hal yang perlu diingat, saat ini kita hidup di tengah masyarakat yang tak semua apa yang kita anggap benar menjadi benar di mata masyarakat.

Begitu pula dengan anggapan-anggapan yang kita pribadi anggap umum atau privasi, bisa jadi hal tersebut justru memicu perhatian public. Ada banyak yang tidak kita ketahui di dunia ini sehingga perlu komunikasi yang baik.

Oleh sebab itu, ada baiknya dalam setiap masalah antar manusia, semua diselesaikan dengan hati yang terbuka, mengutamakan kejujuran, kesabaran, kasih sayang dan welas asih.

Sebab tanpa adanya pendahuluan yang baik, kita hanya akan terjebak pada alur problem yang sebenarnya tidak perlu dan tidak menyelesaikan masalah.

Berapa persentase solusi jika ada yang mencuri kemudian dihukum, terlebih yang mencuri adalah anak kecil. Selain banyak dampak buruknya, pun terkadang sangat jauh dari kata untuk menemukan jalan solusi.

So, mulai sekarang berhati-hati dan mengutamakan keterbukaan adalah jalan utama. Sebab di era yang semakin canggih ini, opini bukan hanya dari dunia offline, bahkan dunia online di seluruh pelosok Nusantara pun bisa berpartisipasi tanpa tahu isi seluruh kejadiannya.

Santri Krapyak Al Munawwir — Ambil Keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *