New Media (Media Baru) dan Identitas Budaya

102 views

Media Baru atau New Media


Oleh

Fajar Iqbal, M. Si

Dosen Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga

fajar.iqbal@uin-suka.ac.id

Latar Belakang

Teknologi komunikasi telah memberikan pengaruh yang signifikan dalam perjalanan peradaban manusia. Penemuan akan media komunikasi yang juga semakin mempercepat dinamika interaksi dan perubahan dalam interaksi sosial di masyarakat (Livingstone & Lievrouw, 2002; Richard Campbell, Christopher R. Martin, 2014). Bahkan batasan-batasan tentang lokalitas, nasionalitas, dan globalitas menjadi semakin samar dengan kehadiran media baru yang dapat menembus batas-batas geografis yang selama ini menjadi salah satu pembatas utama kecepatan berkomunikasi antara satu pihak dengan pihak yang lain (Chen, 2012).

PPT New Media (Media Baru) dan Identitas Budaya

Interaksi yang semakin luas dan tak terbatas ini telah mendorong munculnya dunia baru dengan berbagai macam implikasinya. Mulai dari aspek yang bersifat global secara sosial politik hingga aspek yang sifatnya personal dan privasi. Kepribadian yang terbentuk dalam lingkungan yang semakin tanpa batas juga telah menarik perhatian untuk ditelaah dari sudut pandang identitas mereka yang berinteraksi di dalamnya, baik pada tingkat individu maupun kelompok (Stald, 2008; Stern, 2007).

Pada tingkat individu, media baru menciptakan lingkungan dan pribadi yang juga khas. Jika dulu -dengan media yang tersentralistrik- identitas budaya dikontrol dari satu arah, maka saat ini, setiap individu yang memiliki akses pada media baru dapat menjadi kontributor budaya yang ada dalam masyarakatnya (Jones, 2016; Richard Campbell, Christopher R. Martin, 2014). Jadi, warga dunia baru sesungguhnya merupakan produsen dan sekaligus konsumen (prosumer) dari pesan-pesan di ruangan ini.

Sementara itu, data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 menunjukkan kondisi yang sangat menarik dari pengguna media online atau internet yang ada. Kalangan remaja yang beranjak dewasa yang menjadi pengguna internet berada di urutan ketiga dimana angkanya mencapai 24,4 juta jiwa atau 18,4 persen dari seluruh total pengguna internet.

Mereka adalah orang-orang yang secara psikologi sedang dalam proses mencari dan membentuk identitas dirinya. Angka ini bahkan jauh di atas jumlah penduduk Singapura yang saat itu baru mencapai 5,607 juta jiwa (https://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.TOTL diakses 26 November 2017). Singapura menjadi penting ditampilkan di sini karena ia merupakan salah satu negara yang paling maju, setidaknya di lingkungan Asia. Sementara itu dari sisi penetrasi pengguna internet di Indonesia, mereka yang berusia 10-24 tahun mencapai angka 75.5 persen dari seluruh total responden yang disurvai APJII.

Besarnya jumlah pengguna internet ini semakin meningkat dengan lebih mudahnya orang masuk ke dunia maya melalui gawai pintar yang mereka miliki. Angka yang juga dikeluarkan oleh APJII di tahun 2016 menunjukkan bahwa 67,2 juta orang mengakses Internet melalui komputer dan smartphone di mana 63,1 juta mengakses hanya melalui gawai pintarnya (http://krjogja.com/web/news/read/14847/Pengguna_Internet_di_Indonesia_Capai_132_Juta diakses November 2016). Perangkat yang semakin murah harganya dan biaya berinternet yang lebih ringan juga memberi kemungkinan yang semakin besar bagi teraksesnya dunia maya oleh kalangan remaja yang secara ekonomi masih belum mapan.

Berbicara tentang media berarti bicara tentang komunikasi yang tidak bisa dilepaskan dari budaya yang menjadi konteksnya. Komunikasi dan budaya senantiasa dipandang memiliki hubungan dan kaitan yang sangat erat. Budaya apapun, dalam proses pembentukan dan penjagaannya, senantiasa tidak bisa tidak untuk melibatkan komunikasi. Komunikasi mengambil peran yang sangat vital dalam menyampaikan berbagai ide terkait budaya baru sehingga ia menjadi dikenal dan diterima secara turun-temurun. Melalui komunikasi, orang kemudian dapat menyampaikan hasil cipta, rasa, dan karyanya sebagai bagian dari budaya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan komunikasi sesungguhnya tidak dapat dipisahkan (Samovar, Larry, Richard Porter, 2009). Tanpa komunikasi, pesan-pesan budaya, baik yang disadari atau pun tidak, tidak akan dikenal oleh penggagas budaya tersebut.

Budaya tentu saja tidak hanya sekadar menyangkut suatu masyarakat semata. Budaya pada tingkat yang lebih mikro membentuk dan menawarkan suatu identitas pada pribadi-pribadi anggota budaya tersebut. Melalui proses komunikasi yang terjadi, setiap orang berusaha untuk membangun identitas budayanya sehingga dapat diterima dalam lingkungan di mana ia berada. Tidak adanya identitas atau karakteristik ciri budaya pada diri seseorang mengakibatkan ia menjadi terasing dan mungkin diasingkan dari lingkungan sosialnya. Fenomena ini bahkan dapat berwujud sanksi sosial yang menempatkan pihak yang mendapatkan sanksi tersebut terpinggirkan dalam relasi-relasi yang dimilikinya (Liu, 2017).

Identitas budaya dapat dipahami sebagai identifikasi diri (self-identification), yaitu suatu rasa memiliki pada seseorang akan suatu kelompok yang ditegaskan kembali dalam berbagai bentuk komunikasi. Jadi identitas budaya merupakan perluasan dari budaya seseorang yang diperolehnya melalui perilaku, tindakan komunikasi, psikologis dan sosiologis. Kesemuanya berisi tentang nilai-nilai, makna-makna, kebiasaan-kebiasaan serta kepercayaan yang berhubungan dengan dunia yang ada di sekitar mereka. Identitas budaya juga mencerminkan kesamaan pengalaman historis serta kesamaan tanda-tanda budaya yang digunakan sehingga dapat membuat suatu entitas tetap stabil, tidak berubah, serta melanjutkan berbagai bentuk rujukan dan pemaknaan yang terjadi secara dinamis dan konstan. Identitas budaya juga meliputi semua aspek dimensi kehidupan manusia serta perubahan-perubahannya yang didasarkan pada berbagai konteks sosial. Oleh karenanya identitas budaya secara konstan mewarnai pemahaman identitas seseorang dalam hubungannya dengan orang lain (M.-J. Collier, 2009; Littlejohn, S.W.; Foss, K.A.; Oetzel, 2017)
Identitas budaya tidaklah terbentuk dengan sendirinya. Pembentukan identitas budaya merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya.

Komunikasi memandang hal ini sebagai sesuatu yang membentuk konsep diri, mulai dari interaksinya di masa kecil hingga ia beranjak dewasa, yang harus senantiasa melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya (Mulyana, 2001; Mulyana, D., & Rakhmat, 1990; Wood & Smith, 2005). Konsep diri yang membentuk identitas diri disadari sebagai sebuah proses yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal seseorang. Kondisi ini juga terjadi dalam proses pembentukan identitas diri seseorang ketika berinteraksi dengan dunia maya. Dunia maya menghadirkan lingkungan yang berbeda dengan kehidupan nyata, meskipun sebagian daripada kehidupan di dunia maya merupakan perluasan atau perpanjangan dari interaksi di dunia nyata.

Faktor lingkungan yang dipandang sebagai faktor eksternal dalam pembentukan jati diri seseorang merupakan suatu kondisi yang tidak bersifat statis. Lingkungan merupakan miliu yang bersifat dinamis, berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan perubahan dan perkembangan jaman yang menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Oleh karena identitas diri juga terbentuk -salah satunya- dari faktor lingkungan, ia menjadi sesuatu yang juga dipandang tidak bersifat tetap. Jadi identitas diri dapat dipandang sebagai suatu proses identifikasi diri dari masa ke masa karena sifatnya yang senantiasa berubah (Samovar, Larry, Richard Porter, 2009).

Diskusi tentang identitas budaya menjadi semakin penting ketika jumlah perpindahan orang dari satu tempat ke tempat yang lain semakin meningkat. Migrasi dan pencarian suaka juga menjadi faktor yang semakin sering muncul seiring dengan meningkatnya konflik di berbagai tempat. Kehadiran sekelompok orang dalam lingkungan baru tentu saja menjadi problematika tersendiri yang salah satu akar masalahnya berada dalam persoalan identitas (Liu, 2017; Kim & Gudykunst, 1988). Pada konteks kehidupan di dunia maya, kajian terkait dengan identitas budaya menjadi penting mengingat lingkungan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan kehidupan nyata.

Artinya, sangat mungkin orang membentuk dan dibentuk identitas budayanya secara berbeda dengan identitas budayanya di kehidupan nyata. Belum lagi kemungkinan bahwa seseorang memiliki lebih dari satu indentitas budaya dalam konteks ini mengakibatkan pentingnya kajian akan hal ini terus-menerus didalami dalam dinamikanya. Terlebih di kalangan generasi muda yang merupakan pihak yang paling adaptif terhadap perubahan, khususnya yang diakibatkan oleh media baru (Buckingham, 2008).

Media baru tidak hanya memberi ruang untuk memperoleh informasi, tetapi juga membuat orang dapat menampilkan dirinya dalam berbagai identitas yang ia inginkan. Baik identitas yang sesuai dengan dirinya di kehidupan nyata, maupun identitas yang ada dalam ruang imajinasinya. Bagi generasi muda, kondisi ini menimbulkan krisis identitas budaya yang diakibatkan oleh keberagaman yang begitu luas pada ruang media baru (Koç, 2006). Ketika lingkungan global hadir dalam kehidupan seseorang, menjadi sangat bisa dimengerti jika kemudian muncul krisis pada identitas yang selama ini telah dibangun secara tetap dan bertahap karena nilai-nilai dan kepercayaan yang melekat dalam identitas menghadapi perubahan realitas.

Siddiqui dan Singh yang melakukan penelitian pada anak-anak muda tahun 2016 melihat krisis tersebut memiliki dampak positif dan negatif pada aspek dunia pendidikan di kalangan muda. Dampak positif terlihat manakala media sosial menjadi ruang yang lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu penyelesaian tugas sehingga produktivitasnya meningkat. Sementara dampak negatif terjadi ketika media baru mendistraksi siswa dalam belajar mereka, menjadi alat penyebar informasi yang keliru, dan ketika siswa-siswa menjadi kesulitan dalam berinteraksi tatap muka karena terlalu mengandalkan media dalam berkomunikasi (Siddiqui & Singh, 2016).

Krisis atau kegamangan akan identitas budaya di kalangan generasi muda telah mendorong mereka untuk melakukan upaya pencarian jati diri di media baru (Koç, 2006). Seringkali mereka pun tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang mereka lakukan. Pendapat bahwa mereka hanya mencari kesenangan dan tanpa berpikir panjang akan akibat yang akan mereka dapatkan sebagai hasil dari tindakannya tentu harus diuji kembali.

Tidak banyak kalangan muda pada usia ini yang dengan penuh kesadaran mengidentifikasi diri sedemikian rupa sehingga ia dengan penuh pertimbangan melakukan berbagai perbuatan yang mereka inginkan. Sadar artinya mereka telah dan siap dengan konsekuensi tindakan yang dilakukan. Persoalan mungkin akan muncul ketika krisis identitas ini dianggap mengganggu atau mengancam pihak yang lain.

Jika dalam kehidupan nyata, remaja dipandang sebagai pribadi yang masih mencari jati diri dan belum sepenuhnya sadar dengan tindakan yang mereka lakukan. Bagaimana dengan di kehidupan maya? Dunia maya yang -bahkan- menawarkan lebih dari satu identitas tentu saja menjadi dunia yang penuh dengan tantangan bagi kalangan ini. Bagaimana generasi ini mencari dan membentuk jati diri di dunia maya? Bagaimana pola identitas generasi muda di media baru ini?

Media Lama vs Media Baru

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=qRg9iefZK9Q diakses 10 Desember 2018 pk. 10.40

Perbedaan media lama/tradisional dengan media baru sebagaimana yang terlihat pada gambar tabel di atas jelas memberikan pengaruh yang signifikan dalam cara dan pola interaksi yang tercipta. Pengaruh ini tidak hanya sebatas pada bagaimana proses pengiriman pesan-pesan dilakukan melalui media tersebut, tetapi juga menyangkut pemaknaan yang tercipta olehnya. Sifat dominasi sumber informasi/pesan yang sangat terasa pada media tradisional menjadi pudar dan lebih egaliter pada media baru. Secara politis, hal ini bisa berarti lahirnya masyarakat yang lebih demokratis karena akses informasi menjadi lebih mudah dan lebih cepat.

Identitas Budaya

Identitas Budaya di Media Baru atau New Media

Pembahasan terkait identitas budaya dalam komunikasi selama ini dilakukan dengan meletakkan berbagai diskusi tentang hal ini dalam ranah komunikasi antar budaya. Metateoritik semacam ini dapat dipahami ketika melihat bahwa studi tentang identitas pada awalnya merupakan bagian dari kajian budaya. Tajfel (1974) yang pada awalnya menelaah fenomena ini melihat bahwa dalam kehidupan di masyarakat, identitas menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan.

Identitas muncul dan terbentuk bukan semata-mata dari factor internal yang ada pada diri seseorang atau suatu kelompok, tetapi karena ada faktor-faktor di luar diri seseorang atau kelompok itu yang ikut membentuknya. Diskusi tentang identitas, pada umumnya dilakukan untuk membedakan satu orang dengan orang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain. Tanpa kehadiran pihak lain, pembahasan identitas menjadi tidak terlalu penting untuk dilakukan.

Budaya dapat dipahami sebagai sekumpulan nilai, keyakinan, pola piikir dan perilaku yang dipelajari dan dibagikan dalam suatu kelompok atau masyarakat sehingga menjadi karakteristik mereka. Fungsinya adalah untuk memberikan identitas bagi kelompoknya serta menumbuhkan rasa memiliki yang cenderung untuk dipertahankan.

Keadaan di atas membuat kita semakin menyadari bahwa pembahasan terkait dengan identitas berada dalam ruang lingkup kajian komunikasi antar budaya karena melibatkan pihak-pihak di luar diri kita. Namun demikian, dari perspektif yang lain berdasarkan elemen komunikasi yang ada, identitas budaya dapat dikelompokkan pada kajian terkait dengan elemen komunikator (Littlejohn, S.W.; Foss, K.A.; Oetzel, 2017).

Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa, semua peristiwa yang berkaitan dengan identitas terletak pada partisipan komunikasi, baik identitas yang sifatnya personal maupun yang kultural. Pada bukunya Theories of Human Communication edisi ke 11, Littlejohn dkk memang mengelompokkan sebagian dari teori-teori komunikasi berdasarkan model elemen komunikasi yang fokus pada identitas bersama beberapa teori yang lain seperti teori negosiasi identitas dan teori standpoint. Perkembangan kajian teori komunikasi yang berhubungan dengan komunikator memang sudah jauh lebih spesifik dibandingkan pada masa-masa awal yang baru melihat komunikator sebatas pihak yang mengirimkan pesan kepada penerima.

Identitas budaya (CI) dapat dipahami sebagai juga sebagai identifikasi-diri, yaitu suatu rasa memiliki akan kelompok yang seringkali membutuhkan afirmasi kembali. CI dapat dikatakan sebagai perluasan pada diri seseorang atas perilaku, tata komunikasi, perasaan-perasaan psikologis dan sosiologisnya yang ia peroleh dari lingkungan budayanya.

Jadi di dalamnya terdapat nilai-nilai, makna-makna, kebiasaan-kebiasaan dan keyakinan-keyakinan yang berhubungan dengan lingkungan yang berada di sekitar orang tersebut (Owen, 2011; Voicu, 2013). Kesemua dimensi budaya tersebut sesungguhnya senantiasa berubah sesuai dengan situasi dan perkembangan zamannya sehingga identitas budaya menjadi bersifat dinamis. Konteks sosial juga menjadi hal yang senantiasa mempengaruhi identitas budaya.
Sifat tidak statis dari identitas budaya mengantarkan setiap orang untuk senantiasa melakukan negosiasi, ko-kreasi dan penekanan kembali ketika berkomunikasi dengan orang lain dalam setiap interaksi sosialnya. Pembentukan identitas budaya meibatkan upaya untuk membuat pilihan dan memutuskan akan budaya komunitas mana ia akan memposisikan dirinya (Wang, 2007).

Studi tentang identitas sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970an, namun pendalaman dan pengembangan yang berkaitan dengan identitas budaya (CIT) baru dilakukan pada akhir tahun 1980an oleh Mary Jane Collier (M.-J. Collier, 2009; M J Collier, 1989). CIT berusaha untuk menjelaskan proses komunikasi yang dilakukan oleh setiap individu dalam mengonstruksi dan bernegosiasi dengan identitas budaya kelompok mereka melalui relasi-relasi yang ada dalam berbagai konteks yang ada.

Mereka yang menelaah fenomena ini awalnya tertarik dengan budaya kelompok yang terbentuk dari anggota-anggota kelompok yang sangat beragam secara identitas. Melalui proses interaksi yang terjadi, setiap orang sangat mungkin menjadi pribadi-pribadi yang memiliki multi-identitas akibat dari adanya keberagaman dalam lingkungan dimana mereka berada (Morris, Chiu, & Liu, 2015). Keberagaman, baik di dalam atau pun di luar kelompok, menjadi titik awal untuk memahami apa yang disebut dengan identitas budaya tersebut. Jadi tidak hanya seorang individu itu berbeda secara identitas dengan yang lainnya, tetapi identitas budaya seseorang itu juga dipengaruhi oleh identitas kelompoknya.

Teori Identitas budaya juga mengkaji sesiapa yang membentuk identitas sosial dalam budaya kelompok serta bagaimana semua hal itu dikomunikasikan. Berangkat dari asumsi bahwa identitas budaya tidak hadir dan berdiri sendiri, maka menjadi penting untuk mengkaji budaya lain di sekitar identitas budaya yang ada.

Untuk mengkaji identitas budaya ini dengan lebih mendalam, Collier (1989, 2009) mengemukakan tujuh aspek dari identitas budaya yang terdiri dari: avowal and ascription, modes of expression, ‘individual, relational and communal identities’, ‘enduring and changing aspects of identity’, ‘affective, cognitive and behavioral aspects of identity’, ‘content and relationships levels’, dan ‘salience or prominence’.

Avowal dan ascription merupakan pondasi dalam membentuk identitas budaya. Avowal merupakan penggambaran identitas seseorang akan dirinya sendiri yang membedakannya dengan orang lain. Adapun ascription merujuk bagaimana seseorang melihat dirinya berdasarkan identitas orang lain. Avowal dan ascription ini dalam prosesnya bergerak secara interplay, saling pengaruh-mempengaruhi sehingga tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi saja (Mary Jane Collier, 1989; Littlejohn & Foss, 2009; Samovar, Larry, Richard Porter, 2009).

Identitas budaya juga ditunjukkan dengan sejumlah penggunaan symbol-simbol ekspresi (modes of expression) yang membentuk pola dari simbol tersebut (core symbols). Nama-nama yang digunakan serta pelabelan dan norma-norma biasanya menjadi penciri dalam suatu komunitas kultural. Sebagian digunakan untuk menunjukkan identitas dari yang bersangkutan.

Setidaknya ada tiga komponen identitas budaya yang terdiri dari individu, relasi antar individu, dan identitas komunal. Setiap individu menafsirkan identitas budayanya berdasarkan pengalaman yang selama ini diperolehnya. Sementara relasi antar individu merujuk pada bagaimana interaksi antar individu terjadi sehingga dapat diterima mana perilaku yang tepat dan yang tidak. Adapun identitas komunal berkaitan dengan tata komunikasi dalam membuat, meng-afirmasi dan menegosiasikan budaya yang ditawarkan.

Enduring and Changing Aspects of Identity merupakan berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan dari identitas budaya itu seperti aspek sosial, politik, ekonomi dan kontekstual. Kesemua aspek tersebut senantiasa berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan identitas budaya yang tebentuk.
Identitas budaya juga tidak dapat dilepaskan dari dimensi emosional yang dirasakan oleh setiap individu di dalam interaksinya. Oleh karena itu menjadi penting untuk mengetahui aspek afektif, kognitif dan perilaku yang membentuk dan menghasilkan identitas budaya.

Kehidupan dalam suatu lingkup budaya senantiasa memiliki pola yang unik untuk membentuk interaksi yang tercipta antara individu di dalamnya. Pola ini lazimnya terejawantahkan dalam tingkatan isi dan hubungan diantara mereka yang saling berinteraksi.

Salience dan Prominence berhubungan dengan tingkat identitas ditampilkan dalam suatu situasi dan bagaimana identitas budaya personal berusaha untuk memposisikan diri dan menarik perhatian. Apa yang menarik pada suatu budaya belum tentu menarik bagi budaya yang lain. Perbedaan ini sangat mungkin terjadi karena konteks, situasi dan tingkatan hubungan yang saling berinteraksi berbeda satu sama lain.

Selanjutnya, kajian terkait dengan hal ini berkembang secara signifikan melalui berbagai riset kolaboratif yang melibatkan sejumlah pihak di Amerika Serikat. Secara teoritik, kajian ini awalnya berangkat dari perspektif interpretif. Pendekatan ini setidaknya memberikan gambaran pengaruh tradisi emik dalam kajian budaya mempengaruhi upaya memahami fenomena identitas budaya berdasarkan sudut pandang keunikan yang tumbuh dan berkembang.

Diskusi terkait dengan identitas budaya banyak menarik kajian para pakar yang memberikan perhatian pada isu-isu antar budaya. Identitas budaya dipandang perlu untuk membedakan satu budaya dengan budaya lainnya sehingga orang dapat lebih membedakan satu kelompok atau etnis tertentu dengan kelompok yang lainnya.

Adapun dari sisi ilmu komunikasi, dikenal istilah Communication Theory of Identity (CTI) yang melihat identitas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam elemen komunikasi ketika terjadi suatu fenomena komunikasi. Para partisipan komunikasi senantiasa melibatkan identitas dirinya ketika berkomunikasi, baik sebagai individu (personal identity) dan/atau bagian dari suatu kelompok (cultural identity). Oleh karenanya, identitas budaya tidak bisa dipisahkan dari konteks dimana ia dibicarakan.

Setiap tempat dan waktu memiliki berbagai symbol dan bahasa yang menandai suatu fenomena berdasarkan dimensi historisnya. Hal ini merupakan suatu cara bagi seseorang untuk bisa menjelaskan siapa dirinya sebagai bagian dari identitas budaya itu sendiri. Terkadang seseorang harus bernegosiasi dengan dirinya untuk menetapkan identitas budaya yang harus ia kenakan (Chiara Pattaro, 2015; Goldman et al., 2007; Morley & Robins, 1995; Sedigheh Babran, 2008)

Keterkaitan identitas budaya dengan komunikasi dapat dilihat dari sisi pembentukannya itu sendiri. Tanpa komunikasi, identitas budaya sesungguhnya tidak mungkin terbentuk. Komunikasi yang terjadi dalam konteks ini tidak hanya berhubungan dalam satu dimensi waktu. Sebagian dari pembentukan identitas budaya bisa juga dipengaruhi oleh hubungan antar waktu.

Generasi yang lebih senior senantiasa berpretensi untuk mewariskan nilai-nilai dan cara pandangnya yang khas sehingga diadopsi oleh generasi yang lebih muda. Pada sisi yang lain, mereka yang muda juga dapat melakukan penelusuran historis untuk membentuk identitas budaya dari leluhurnya. Dengan demikian, komunikasi dan media memiliki peran yang sangat penting dalam suatu budaya, baik dalam proses pembentukan budaya, maupun pada proses untuk menjaga atau meniadakan suatu budaya.

Beberapa kajian yang berangkat dari sudut pandang identitas budaya telah dilakukan, akan tetapi masih terfokus pada identitas budaya dalam konteks kehidupan nyata dimana media komunikasi yang digunakan masih bersifat konvensional.

Diskusi Lanjut

Budaya Populer di Media Baru atau New Media

Media baru, meskipun telah lebih dari 2 dekade dipelajari dan ditelaah oleh berbagai kalangan, ternyata masih menyisakan ruang terbuka yang sangat lebar dalam berbagai disiplin dan konteksnya. Ibarat pulau baru atau planet baru yang belum banyak dieksplorasi, masih terdapat banyak sisi dan aspek yang dapat digali. Keterkaitannya dengan identitas budaya dan identitas personal, juga masih dapat ditelaah dengan lebih kritis lagi.

Beberapa pertanyaan yang masih sangat mungkin dikembangkan misalnya:

– meskipun media baru memiliki sifat globalitas yang tidak terbantahkan, namun apakah akibat yang ditimbulkannya bersifat sama di semua tempat? Apakah mereka yang hidup di negara-negara dengan tingkat literasi media baru yang lebih tinggi berhasil menciptakan identitas budaya ataupun personal yang lebih baik? Bagaimana mengukurnya?

– Pada ranah nilai-nilai dan relijiusitas, bagaimana media baru ini membentuk identitas diri penggunanya yang khas? Apakah kehadiran ulama dan Kyai menjadi tidak diperlukan lagi dalam pembentukan karakteristik diri? Lalu bagaimana cara setiap pribadi menyandarkan diri pada berbagai informasi yang diterimanya? Bagaimana cara menyeleksinya? dst. dst.

Tulisan ini hanya sekelumit kegelisahan penulis, khususnya ketika melihat media baru berkelindan dalam kehidupan sosial-budaya kita yang nyaris tidak terpisahkan lagi. Khususnya jika dikaitkan dengan identitas budaya dan identitas personal.

Tulisan ini juga masih jauh dari sempurna. Bahkan secara sistematika, struktur, dan tata bahasa masih sangat harus diperbaiki. Saran, kritik, dan masukan dari hadirin sangat dinantikan untuk memperbaiki tulisan ini sehingga menjadi jauh lebih layak lagi. Terima kasih atas kesediaan forum ini untuk ikut membaca dan memberikan masukannya.

Budaya Share di Media Sosial

——
DAFTAR PUSTAKA

Bendle, M. F. (2002). The crisis of “identity” in high modernity. British Journal of Sociology, 53(1), 1–18. https://doi.org/10.1080/00071310120109302

Chen, G.-M. (2012). The Impact of New Media on Intercultural Communication in Global Context. China Media Research, 8(2), 1–10. https://doi.org/10.2174/1874916X00802010001

Collier, M.-J. (2009). Culture and Communication. Encyclopedia of Communication Theory, (December), 279–285. https://doi.org/10.1177/0095399709344054

Collier, M. J. (1989). Cultural and intercultural communication competence: Current approaches and directions for future research. International Journal of Intercultural Relations, 13(3 PG-287), 302. Retrieved from http://www.scopus.com/inward/record.url?eid=2-s2.0-38249026540&partnerID=40&md5=e0b9445a30101d3502e83eeea75207d1

Collier, M. J. (1989). Cultural and intercultural communication competence: Current approaches and directions for future research. International Journal of Intercultural Relations, 13(3), 287–302. https://doi.org/10.1016/0147-1767(89)90014-X

Deddy Mulyana (2001). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dyson, L. (2011). Indigenous Peoples on the Internet. In The Handbook of Internet Studies (pp. 251–269). https://doi.org/10.1002/9781444314861.ch12

Erikson, E. (1968). Youth: Identity and crisis. New York, NY: WW. https://doi.org/10.1002/yd.29

Goldman, S., Booker, A., & McDermott, M. (2007). Mixing the Digital, Social, and Cultural: Learning, Identity, and Agency in Youth Participation. The John D. and Catherine T. MacArthur Foundation Series on Digital Media and Learning, 185–206. https://doi.org/i: 10.1162/dmal.9780262524834.185</p>

Gudykunst, W. B. (1988). Culture and intergroup processes. The Cross-Cultural Challenge to Social Psychology., 165–181. Retrieved from http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=psyh&AN=1988-98699-012&site=ehost-live

Holliday, A. (2010). Complexity in cultural identity. Language and Intercultural Communication, 10(2), 165–177. https://doi.org/10.1080/14708470903267384

Hornsey, M. J. (2008). Social identity theory and self-categorization theory: A historical review. Social and Personality Psychology Compass, 2, 204–222. https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2007.00066.x

Hsi, S. (2007). Conceptualizing learning from the everyday activities of digital kids. International Journal of Science Education, 29(12), 1509–1529. https://doi.org/10.1080/09500690701494076

Jones, R. G. (2016). Communication in The Real World: An Introduction to Communication Studies. Minneapolis, MN: University of Minnesota Libraries Publishing.

KISMIYATI EL KARIMAH & ILHAM GEMIHARTO (2017). The Impact of Social Media on Intercultural Communication in Indonesia. In ACCOMAC (pp. 109–114). Bandung.

Koç, M. (2006). CULTURAL IDENTITY CRISIS IN THE AGE OF GLOBALIZATION AND TECHNOLOGY. The Turkish Online Journal of Educational Technology – TOJET, 5, 1303–6521. Retrieved from https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED501435.pdf

Littlejohn, S.W.; Foss, K.A.; Oetzel, J. G. (2017). Theories of human communication. Theories of Human Communication.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Communication Theory. Encyclopedia of Communication Theory. https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2

Liu, S. (2017). Cross-cultural adaptation: An identity approach. Intercultural Communication. In P. J. Schulz, P. Cobley, & L. Chen (Eds.), Handbooks of Communication Science series (Volume 9, pp. 437–455). Boston/Berlin: De Gruyter Mouton Universita della Svizzera Italiana – University of Lugano. https://doi.org/10.1515/9781501500060-020

Livingstone, S., & Lievrouw, L. (2002). Handbook of new media. Social Shaping And, 6–7. Retrieved from http://scholar.google.com/scholar?hl=en&btnG=Search&q=intitle:Handbook+of+New+Media#4%5Cnhttp://scholar.google.com/scholar?hl=en&btnG=Search&q=intitle:Handbook+of+new+media%234

Morley, D., & Robins, K. (1995). SPACES OF IDENTITY Global Media, Electronic Landscapes and Cultural Boundaries. London and New York: Routledge.

Morris, M. W., Chiu, C., & Liu, Z. (2015). Polycultural Psychology. Annual Review of Psychology. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010814-015001

Mulyana, D., & Rakhmat, J. (1990). Komunikasi antarbudaya. Jurnal Kebudayaan, 1–6.

Neff, J., Potts, L., & Whithaus, C. (2009). Collaborative Methodologies for New Media Research. In Collaborative Approaches to the Digital in English (pp. 11–43). Logan UT: Utah State University Press.

Owen, C. (2011). Language and cultural identity: Perceptions of the role of language in the construction of Aboriginal identities. Retrieved from http://nus.summon.serialssolutions.com/2.0.0/link/0/eLvHCXMwnV1NS8NAEF2sXkRBRUWtwv6BpMl-ZdeLB20R9CDYUy9lP6WXtFI9-O_dSbKmWPAg5JDNQmA35M2b2Zk3CFGSF9kvTIhGyJNSS2MFt9SU1hciCCqCN1xrppvub-R1RsdPdJbano66su08gWSD3G5pIWg-ioYV6ih5cbd6z6CLFJy2di01BmiPgKwJFP9u0qHWe0_

Pattaro, C. (2015). New Media & Youth Identity. Issues and Research Pathways. Italian Journal of Sociology of Education, 7(1)(New Media & Youth Identity), 297–327.

Richard Campbell, Christopher R. Martin, B. F. (2014). Media & Culture Mass Communication in A Digital Age 9th Ed. (S. T. Jesse Hassenger, Bill Imbornoni, Denise Quirk, Ed.) (9th ed.). Boston, New York: Bedford/St. Martin’s.

Samovar, Larry, Richard Porter, and E. M. (2009). Communication between Cultures. Cultures.

Sedigheh Babran (Iran Islamic Azad University). (2008). Media, Globalization of Culture, and Identity Crisis in Developing Countries. In Intercultural Communication Studies XVII (XVII: 2, pp. 212–221). -.

Seyranian, V. (2014). Social identity framing communication strategies for mobilizing social change. Leadership Quarterly, 25(3), 468–486. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2013.10.013

Siddiqui, S., & Singh, T. (2016). Social Media its Impact with Positive and Negative Aspects. International Journal of Computer Applications Technology and Research, 5(2), 71–75. Retrieved from www.ijcat.com

Stald, G. (2008). Mobile Identity: Youth, Identity, and Mobile Communication Media. In Youth, Identity, and Digital Media (pp. 143–164). https://doi.org/10.1162/dmal.9780262524834.143

Stern, S. (2007). Producing Sites, Exploring Identities: Youth Online Authorship. The John D. and Catherine T. MacArthur Foundation Series on Digital Media and Learning, 95–117. https://doi.org/i: 10.1162/dmal.9780262524834.095</p>

Tajfel, H. (1974). Social identity and intergroup behaviour. Social Science Information, 13(2), 65–93. https://doi.org/10.1177/053901847401300204

Voicu, C. G. (2013). Cultural identity and diaspora. Philobiblon, 18(1), 161–174. https://doi.org/10.1186/1475-925X-8-28

Wang, Y. (2007). Globalization Enhances Cultural Identity. Intercultural Communication Studies, 83–86. Retrieved from http://www.uri.edu/iaics/content/2007v16n1/09 Yi Wang.pdf

Wood, A. F., & Smith, M. J. (2005). Online Communication: Linking Technology, Identity & Culture. Quarterly Review of Distance Education (Vol. 5). https://doi.org/Book Review

Info Kampus dan Sumber Referensi Kuliah Terlengkap
Fanspage Academic Indonesia
Group Fb Info Kampus Seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *