Masjid Quba dan Fungsi Masjid sebagai Pusat Lembaga Negara

78 views
Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah Saw

Minimnya wawasan kebangsaan seringkali membuat sebagian golongan tertentu bertindak main hakim sendiri. Hal tersebut dilakukan lantaran minimnya kepuasan rasa keadilan dan lumpuhnya penegakan hukum yang berlaku. Padahal, bila kita mengacu pada akar kata Islam, tentu bukan seperti di atas apa yang diharapkan, namun lebih kepada rasa kebersamaan dalam membangun kesejahteraan. Bila ummat Islam berpedoman pada Islam, maka bisa dirunut dari akar kata Islam itu sendiri. Islam berasal dari kata aslama, yaslimu, islaman yang berarti tunduk, patuh, berserah diri dan damai.[1] 

Di masa Rasulullah Saw, sesuatu yang penting dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah membangun masjid. Adapun masjid pertama yang dibangun Rasulullah Saw adalah masjid Quba.

Sesungguhnya, masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak pertama adalah lebih patut bagi kamu untuk bersembahyang di dalamnya. Di dalamya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.[2]

Dari ayat di atas pula dapat diketahui bahwa kata ‘masjid’ berasal dari bahasa Arab yang telah diserap ke dalam kosakata Bahasa Indonesia. Menurut Prof. Faisal Ismail, beliau menjelaskan bahwa dalam struktur bahasa Arab, kata ‘masjid’ merupakan masdar (kata benda) yang memiliki arti ‘tempat sujud’. Konkritnya, secara terminologis, masjid adalah bangunan gedung dengan ukuran tertentu, relatif besar dan fungsinya dipakai untuk mendirikan shalat. Tak terkecuali pelaksanaan Shalat Jumat.[3] 

Sebagaimana ummat Islam ketahui, di zaman Rasulullah Saw, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat sujud saja. Lebih dari itu, masjid dijadikan sebagai pusat kebudayaan, pendidikan bahkan politik.

Ada fakta sejarah menarik yang perlu diugkapkan dalam makalah ini mengenai fungsi masjid sebagai tempat yang berfungsi untuk lembaga negara, salah satunya adalah sejarah tentang penaklukkan Spanyol ke tangan Islam;

Dalam bulan Februari 715 Musa, Penakluk Spanyol memasuki kota Damsyik bersama-sama dengan pangeran-pangeran Gotia Barat yang penuh dengan perhiasan-perhiasan untuk menghadap Khalid bin Walid. Suatu resepsi resmi yang dilakukan dengan penuh keindahan dan kemegahan ruang muka dari masjid Ummaiyah. Itulah suatu puncak kegemilangan dalam sejarah Islam yang menang kala itu. Untuk pertama kalinya, orang melihat beratus-ratus bangsawan Eropa sujud dengan hormat di hadapan pemimpin orang-orang mukmin.[4]

Tak heran bila dahulu di zaman Rasulullah Saw dan sahabat perkembangan Islam sangat maju, hal tersebut tak terlepas dari adanya pusat peerintahan yang bisa menyatu dengan rakyat kecil atau rakyat biasa. Sebagai contoh lain, di zaman para khalifah, para pemimpin sangat giat memakmurkan masjid guna menjadikan pemimpin sebagai role model bagian dalam maupun luar.

Bahkan, seorang khalifah juga dituntut bisa menjadi imam dan khatib dalam ibadah-ibadah di masjid. Hal ini tak terlepas dari fungsi masjid sebagai tempat untuk mempersatukan ummat. Sebab, sebuah kepentingan masjid yang sesungguhnya sebenarnya terletak di mimbarnya. Hal ini terus berlangsung secara turun temurun seperti halnya tatkala Abu Bakar didaulat menjadi pemimpin, maka pada waktu itu Abu Bakar lantas menduduki mimbar dan kemudian berpidato. Ketika orang-orang mendatanginya dan memberinya salam, ia menyatakan khutbah sebagai tanda menerima pimpinan.[5] 

Betapa penting fungsi masjid sebagai rumah umat. Dalam berbagai kesempatan, kita dapat menjumpai bahwa hari ini fungsi masjid cenderung bergeser hanya sebagai tempat ibadah saja, padahal sejatinya lebih dari hal itu. Ummat juga sering melihat bahwa kecenderungan beberapa pengurus masjid hanya menjadikan jamaah sebagai orang-orang yang pasif, tanpa memiliki tujuan dan hanya sekedar melaksanakan rutinitas kewajiban semata.

Di sisi lain, pengurus juga minim kepekaan terhadap majemuknya jamaah, sehingga mereka lebih mementingkan unsur keorganisatorisan. Tak terkecuali dengan jamaah yang notabene minoritas dalam hal jumlah; dalam hal ini adalah kaum difabel. Padahal, di zaman nubuwwah pun telah dicontohkan bagaimana seorang nabi sangat menghargai seseorang yang hendak masuk Islam, bahkan karena peistiwa itu juga, Rasul mendapat teguran dari Allah.

Baca Artikel Selanjutnya tentang Surah Abasa


[1] Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 1.

[2] QS. At-Taubah: 108

[3] Ibid.,

[4] Drs. Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husma, 1994), hlm. 283.

[5] Drs. Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husma, 1994), hlm. 282.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *