Kuliah Takut Berpikir

Setiap pertengahan tahun, bagi yang pernah merasakan dunia kampus pasti akan menemukan wajah-wajah asing nan polos. Dialah mahasiswa baru.

Mahasiswa yang masih bimbang menentukan siapa dirinya. Mahasiswa yang masih mengutamakan ego daripada nalar. Mahasiswa yang masih mempertimbangkan sesuatu dengan alasan suka atau tidak suka. Dan kadang, yang disukai pun belum tentu jelas tujuannya. Ya, mahasiswa seperti ini yang penting kuliah.

Perdalam wawasan berpikir Anda dengan membaca Kata-kata Mutiara ala ACADEMIC INDONESIA

Sumber www.blogdailyherald.com
blogdailyherald.com

Di kampus itu juga banyak orang melamun. Mungkin bingung. Bingung apa yang sedang dibaca, dan mungkin ada yang bingung mau membaca apa. Di antara yang banyak itu, ada juga beberapa orang yang sudah masuk kelas. Sewaktu ada temannya yang presentasi, mereka begitu aktif menyanggah, bicaranya lincah dan kerap membuncah.

“Menurut buku yang saya baca…”
“Menurut referensi yang saya cari…”
“Mengutip dari buku…”

Hidupnya seperti buku berjalan. Setiap keputusan yang diambil harus berdasarkan buku. Alih-alih bertanya kepada temannya, lebih dari itu, ia cenderung percaya pada buku. Setiap buku Ia samakan dengan sebuah kebenaran mutlak. Bila dicermati, bukunya hanya satu rumpun.

Ia beranggapan bahwa manusia harus menguasai satu bidang saja, tak perlu mengetahui yang lainnya. Ia menjadi pembelajar yang minim referensi. Tak heran bila beberapa temannya menjadi korban ketidakwarasan nalarnya.

Suatu ketika, Ia di datangi temannya. Ia dipercaya karena nilainya selalu bagus bila UTS. Selain itu pula Ia juga dikenal dengan penulis jawaban paling tepat mulai dari kalimat, jumlah kata, tanda baca sampai halaman di buku. Sang teman pun bertanya dengan keingintahuan yang tinggi.

“Penelitian kualitatif itu otomatis menyertakan sudut pandang subyektifkan ya?”, tanya orang yang menghampirinya.
“Dari mana referensinya?”, ia balik tanya.
“Tadi saya merenungkannya sebentar”, jawab temannya
“Wah kamu salah besar, baca buku dulu sana!”, jawabnya ketus.
Temannya pun berlalu pergi.

Hari demi hari pun berlalu, ia yang kutubuku tetap rajin membaca buku. Ia tak peduli lingkungan sekitar. Alih-alih mengikuti organisasi, berbicara dengan temannya pun dianggap mubadzir.

Waktunya hanya ia habiskan untuk membaca buku, buku, buku dan buku. Tak heran, hidupnya suka menyendiri, kurang pandai bergaul dan perkataannya pun cenderung ketus.

Menjelang UAS, ada presentasi individu untuk menjelaskan pelajaran mengenai penelitian kualitatif. Dengan panjang lebar, berbagai buku pun menjadi rujukan.

Namun masih seperti di awal, baginya perbedaan itu tidak ada. Hanya bukunya yang dianggap paling benar. Tiga puluh menit pun berlalu, dengan semangat ia menutup presentasinya dan mulai membuka sesi pertanyaan.

“Maaf, di antara materi yang Anda sampaikan, mana hasil pikiran Anda, mengapa semua seakan buku yang mengendalikan seseorang?”, tanya salah seorang temannya.

Ia yang buku maniak pun perlahan-lahan membuka lembar demi lembar buku yang di bawanya. Tak tanggung-tanggung, selama presentasi Ia telah mempersiapkan jauh-jauh hari buku yang harus dibawa. Sampai-sampai Ia ingin di juluki bahwa ia cerdas karena banyak membaca buku.

Ia masih membuka buku lembar per lembar. Berharap menemukan jawabannya, Ia terus mencari dari lembar ke satu sampai halaman terakhir, dari buku satu ke buku lainnya. Ia pun mulai tergagap.

Ia mulai sadar bahwa apa yang dilakukannya ada yang belum tepat. Selama ini, Ia hanya bersandar dan terpaku pada isi teks buku. Alhasil, bila dihadapkan dengan masalah-masalah baru ia tak bisa menjawab. Ia terbiasa dengan menghafal soal dan menghafal jawaban.

Dengan wajah memerah, Ia pun menjawab “Tidak tahu”. Ia pun menanggung malu yang teramat sangat. Ia kembali ke tempat duduk seperti sedia kala dengan perasaan yang takut dan cemas.

Ya, Ia mulai berani berpikir. Kepalanya seakan dibentur-benturkan dengan berbagai refensi yang saling bertolak belakang. Ia tak tahu sebab Ia tak pandai bergaul. Wawasannya sempit sesempit jawabannya yang “saklek” pada isi buku.

Anda mahasiswa baru? Ingin tahu tips agar dapat berpikir kritis? Simak viral konten kami bertajuk Tips Menjadi Mahasiswa Baru yang Kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *