Ketika Muhammad Berfilsafat

5 views

Berfilsafat

S

aat membaca buku bertajuk Filsafat Ilmu, penulis langsung terbayang; apakah filsafat sebagai ilmu atau ilmu sebagai filsafat?

Sang pembawa perubahan besar Nabi Agung Muhammad telah mencontohkan bagaimana cara berfilsafat secara menyeluruh dengan kalimat-kalimat sederhana.

Sepertihalnya pula ketika Sahabat Umar Ra bertanya kepada Nabi, “Wahai Nabi, apakah mencium kening istri membatalkan puasa?”.  Nabi lantas menjawab, “Apakah berkumur saat wudhu membatalkan puasa?”.

Nabi Muhammad tatkala ditanya para sahabat tidak langsung menjawab dengan jawaban yang pendek, namun beliau salah satunya menjawab dengan kalimat tanya yang fungsinya untuk mengajak ummatnya berpikir (berfilsafat) dan pada akhirnya berani menentukan sebuah keputusan.

Lebih dari 1400 tahun yang silam itu pula, seorang tokoh telah mengajarkan tentang arti filsafat. Baginya, ada perbedaan yang sangat mendasar antara ahad dengan wahid. Ahad maknanya tunggal, tak terbagi, tak berbilang dan tidak tersamai. Hanya ada tunggal. Sedangkan wahid bermakna satu, berbilang dan mempunyai kesamaan-kesamaan dengan lainnya.

Dari dua kata tersebut, bila diurai lebih mendalam lagi akan memberikan sumber pencerahan makna hidup. Dari buku Filsafat Ilmu, dijelaskan berapa kali manusia berpikir mencari kebenaran tentang Tuhannya; mulai dari anggapan batu, air, udara dan lain sebagainya.

Dinul Islam tidak pernah mengajarkan untuk berpikir tentang materialistik terlebih dahulu, sebab bagi Islam, hal-hal yang bersifat material ataupun jasadiyah hanya akan menipu. Tak ayal, berapa banyak orang yang hanya melihat materialistiknya terlebih dahulu dan berapa kali dirinya tertipu?

Muhammad tak pernah mengenalkan Rabb sebagai wahid, namun ahad. Yang tak berbilang, tak bisa disamakan, tanpa sempadan, satu-satunya, tunggal dan hanya seorang. Oleh sebab itulah, peng-esaan adalah sumber filsafat, penghambaan pure (murni) tanpa dinodai sedikit pun noda-noda dari duniawiyah.

Ketauhidan Sumber Filsafat

Di tengah hiruk pikuknya budaya bodoh di Jazirah Arab, Muhammad membawa pesan-pesan untuk mengajak ummat manusia mencintai kebijaksanaan. Bijaksana dalam hal beragama, bertutur kata, bertindak, bersin, menyeluruh bahkan sampai istirahat di tempat tidur.

Muhammad membawa 1 hakikat yang bisa diimplementasikan dalam riil kehidupan. Ilmu ketauhidan yang disebarkannya dengan sabar selama kurang lebih 23 tahun pun menghasilkan peradaban yang matang. Bukan hanya soal makan apa, namun apa tujuan seseorang makan, dari mana makanan didapat, plus apa hakikat seseorang hendak makan.

Begitu murninya nilai ketauhidan bagi pemeluknya, hingga Nabi pun bersabda bahwa salah satu dosa yang paling besar adalah menyekutukan. Lha wong membilangkan saja sudah merupakan hal yang kurang tepat, apalagi menyekutukan lebih dari 1.

Dari pemaparan di atas, diperoleh bahwa Muhammad mengajarkan ilmu sebagai filsafat. Artinya, ilmu benar-benar dijadikan sebagai pedoman hidup untuk memberikan kebijaksanaan di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan di dalam bukunya Filsafat Ilmu karya Drs. Rizal Mustansyir M.Hum & Drs. Misnal Munir M.Hum masih berkutat filsafat sebagai ilmu. Padahal, bila yang didahulukan filsafatnya terlebih dahulu, tentu akan lahir banyak ketimpangan, termasuk ketimpangan dalam berpikir.

Baca Pula Pengertian Filsafat beserta Ruang Lingkupnya

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *