Islam dan Keindahan Hidup

Islam dan Keindahan Hidup-Selepas maghrib itu, sewaktu hujan saya mencoba untuk searching di selasar facebook. Tak biasanya saya begitu, sebab biasanya hanya update status lalu saya tutup kembali. Khawatir saya terlalu lama bermain facebook.

Namun waktu itu memang berbeda, rasanya ingin sekali scroll sampai paling bawah. Ternyata tak ada ujungnya! Saya pun terhenti pada sebuah video yang menjadi banyak perhatian. Video tersebut adalah cuplikan perjalanan Dr. Zakir Naik di Jepang.

Dari video itulah saya ingin sekali menulis sebuah catatan kehidupan. Sepertinya, pekan ini saya memang baru digandrungi yang namanya keindahan. Dari situ saya lantas mulai mengidolakan sebuah kata, kata itu tidak lain adalah “Keindahan Hidup”.

Bangga menjadi Muslim
snopes.com

Keindahan hidup itu makin mekar tatkala saya melihat seseorang yang dengan ikhlas mengikrarkan dua kalimah syahadat. Begitu berserinya wajah itu, sampai-sampai serinya merasuk di dalam jiwa yang beku. Seri yang membawa kesejukan bagi mata yang memandangnya.

Saya pun mencoba mundur menemui kehidupan saya yang lalu. Segala puji bagi Allah, saya Muslim. Saya rasa, mengenal Islam adalah mengenal semuanya. Tanpa Islam, barangkali yang kita kenal tidak akan kita kenal dengan sempurna. Atau bahkan perkenalan yang tak membawa kebaikan. Sekali lagi, segala puji bagi Allah.

Di saat itu pula, pikiran saya terbang mengingat kejadian sebelum Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Hari raya orang Muslim yang membahagiakan. Namun, sekali lagi saya menemui berpasang-pasang kekasih sedang mengalami permasalahan. Entah apa masalahnya yang jelas ada muka masam yang diperihatkannya.

Di pinggir jalan itu, ada sepasang kekasih yang bertengkar, ada pula sepasang kekasih yang meninggalkan kekasihnya. Bukan itu saja, ada pula sepasang kekasih yang berdiaman di pinggir jembatan. Tampaknya memang serius.

Melalui kejadian di atas, saya menjadi berpikir jauh kedepan bahwa masih ada rasa syukur yang belum mampu menutupi kesedihan, amarah, kekecewaan dan kegundahan manusia. Barangkali kesyukuran tersebut belum sempurna, atau barangkali belum mengenal kesyukuran.

Padahal, bila kita berusaha mengedepankan rasa kesyukuran tentulah rasa sedih, merasa jadi korban atau perasaan-perasaan kufur lainnya akan nihil dari hati. Kesyukuranlah yang menjadikan bahagia, bangga terlebih semangat sebagai seorang Muslim.

Keindahan Hidup

Ambil yang indah-indah saja, sebab Allah pun menyukai keindahan. Kalimat itulah yang saya jadikan nasehat kepada seorang teman saya yang kebetulan sedang patah hati ditinggal kekasih.

Ia bercerita kepada saya dengan mimic wajah yang cukup membuat saya ingin menertawakannya. Adakalanya kita ajarkan seorang teman untuk menertawakan masalah (tertawa di dalam hati saja), bukan menangisinya berlarut-larut.

Tak ada salahnya menertawakan masalah, coba ingat riwayat hidup Anda selama ini. Tentu Anda pernah mengalami kegagalan yang itu dulu Anda pernah menangisinya sampai air mata tumpah satu liter. Nah, beberapa tahun kemudian, entah lima atau 10 tahun kemudian ketika Anda teringat, Anda pasti tersenyum sendiri bahkan tertawa sendiri.

Detik itu, Anda mungkin merasakan keindahan hidup yang berawal dari masalah yang dulu Anda tangisi. So, apa salahnya bila sesekali kita balik, kita tertawakan masalah terlebih dahulu, lalu nantinya menangis dalam bingkai pertaubatan. Bukankah itu lebih indah?

Kembali kepada salah seorang teman saya. Ternyata, teman saya baru sekali mengalami patah hati. Ia pun meluapkan segala perasaannya tanpa tersisa. Setelah itu, barulah Ia diam dan saya mencoba memahami apa yang Ia rasakan.

Kejadian curhat di atas cukuplah memberikan kita pelajaran penting bahwa ada yang indah saat kita merasakan kesedihan. Jadi begini, mengapa terkadang manusia sering lupa bahwa di luar sana barangkali ada seseorang yang tidak bisa mengenalnya, karena sesuatu hal. Dan malah sedih karena patah hati. Bukankah sebaiknya bersyukur karena telah mengenalnya?

Ada lagi, manusia memang sering menutupi kesyukurannya. Syukur yang tidak totalitas mungkin hanya akan menyebabkan hati kurang khusyuk dalam menikmati nikmat-Nya. Lebih dari itu, bayangkan saja, seseorang yang telah mengenal orang yang dikaguminya hendaknya lebih bersyukur. Harus bersyukur sebab telah dianugerahkan sebuah rasa.

Ada di luar sana yang merasakan cinta saja sudah tidak bisa, barangkali karena sudah tak diberi kesempatan lagi, atau lantaran memang sudah tidak mempunyai akal sehat. So, mempunyai rasa pun seharusnya manusia harus bersyukur.

Hmm… intinya, marilah berupaya untuk mendahulukan kesyukuran di atas segala-galanya. Sungguh,bila dihitung tentu tak akan bisa menyebutkan bilangannya. Segala puji bagi Allah, bagi seorang Muslim, tak ada waktu untuk sedih, gundah, kecewa ataupun malas.

Deres juga catatan Ibadah, Jangan Jadikan Alasan untuk Malas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *