G30S/PKI: Merajut Kembali Sejarah Luka Bangsa

G30S/PKI: Merajut Kembali Sejarah Luka Bangsa
pixabay.com

Genjer-genjer ning kledhokan pating keleler

(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)

Genjer-genjer ning kledhokan pating keleler

(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)

Emake thole, teko-teko mbubuti genjer

(Ibu si bocah datang mencabuti genjer)

Emake thole, teko-teko mbubuti genjer

(Ibu si bocah datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mbungkul sedot sing tholeh-tholeh

(Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang)

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

 

Lagu tersebut terinspirasi dari sebuah tanaman. Dibuat oleh M. Arief yang berasal dari Banyuwangi pada tahun 1940 untuk mengkritik pendudukan Jepang di Indonesia.

Populer lewat suara merdu Lilis Suryani, lagu ini bisa menggambarkan kepada kita betapa waktu itu sangat sengsaranya rakyat Indonesia kala itu sampai-sampai tanaman genjer yang digunakan untuk pakan bebek menjadi makanan yang dikonsumsi rakyat kala itu.

Lambat laun, lagu dengan nuansa kritik sosial tersebut menjadi alat propaganda PKI untuk menarik dukungan masyarakat luas.

Ketika menulis tulisan ini, saya teringat dengan apa yang diucapkan Profesor Langdon dalam film The Da Vinci Code. Profesor simbologi itu berkata dalam salah satu sceneThataway we study history, someone stop killing” (Untuk itulah kita belajar sejarah, agar kita tidak saling membunuh).

Meski profesor yang diperankan Tom Hanks itu hanyalah fiksi ilmiah, namun kata-kata barusan mungkin perlu direnungkan bersama. Tak selamanya sejarah itu memang tabu untuk dibicarakan. Karena pada dasarnya sejarah itu juga subjektif, tergantung orang yang menulisnya.

Sedangkan mencari kebenarannya memang sulit, karena banyaknya kontradiksi sejarah yang terjadi. Namun tujuan ditulisnya sejarah sangat mulia. Agar orang dapat belajar untuk tidak saling menumpahkan darah.

Setiap tanggal 30 September, selalu saja penulis terngiang lagu diatas. Bukan apa-apa, namun lagu itu juga seakan mengingatkan penulis tentang pelajaran sekolah yang belum usai.

Ada berbagai keganjilan sejarah yang belum dituliskan dalam setiap buku sejarah di negeri ini. Masih ada ketakutan dan kesalahpahaman yang sangat mungkin muncul apabila sejarah ini dituliskan.

Kontradiksi Tak Berujung

Ayah saya berusia 8 tahun ketika sejarah kelam itu berlangsung. Beliau mengingat seorang teman sepermainannya yang orang tuanya juga merupakan anggota PKI. Setelah kejadian itu, teman sepermainannya itu menghilang entah ke mana.

Ayah saya hanya mengingat pada tanggal itu teman sepermainannya diangkut menggunakan truk bersama keluarganya. Tujuannya tidak jelas. Apa yang dilakukannya juga tidak jelas. Bahkan, apakah teman ayah saya telah melakukan suatu perbuatan kejahatan, lebih  tidak jelas lagi. Satu yang jelas, keluarganya anggota PKI.

Legenda tentang menghilangnya beberapa anggota PKI ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Hanya saja, legenda tinggalah legenda. Tak jelas di mana dan apa yang terjadi. Pemberontakan yang didalangi PKI itu sampai sekarang masih menyimpan satu misteri.

Apakah seluruh anggota PKI seantero negeri yang konon berjumlah 3 juta simpatisan itu terlibat semuanya?

Pertanyaan ini sampai sekarang faktanya banyak dibantah, sekalipun banyak juga yang meyakini bahwa seluruh anggota PKI tersebut terlibat. Fakta sejarah tersebut memang nyata setelah dirilisnya 2 film karya Joshua Oppenheimer, Film Jagal (The Act of Killing) dan Film Senyap.

Kedua film tersebut kurang lebih menceritakan beberapa kejadian berkaitan dengan G30S/PKI yang diceritakan kembali oleh beberapa “Jagal” (pembunuh) para anggota PKI itu. Meskipun, pemutaran kedua film inipun juga tak luput dari serangan beberapa ormas di sejumlah daerah yang takut bahwa ranah akademis seperti universitas sudah menjadi sarang baru PKI gaya baru.

Baca artikel menarik lainnya mengenai Peran Mahasiswa sebagai Akivis Pemberadab

Namun, bukan berarti partai ini lantas bisa langsung “disanjung” dan “dimaafkan” begitu saja. Kasus Musso di Madiun tahun 1948 merupakan salah satu kasus lain yang diingat yang menewaskan tokoh pemerintahan dan tokoh agama kala itu.

Dari beberapa sejarah yang saya temui, memang banyak kasus “berdarah” yang dilakukan partai yang terakhir dipimpin DN Aidit ini. Sehingga partai ini identik dengan “pembunuhan massal dan terencana” yang melibatkan simpatisan sampai tingkat pimpinan PKI sendiri.

Dari banyaknya kasus yang terekam sejarah, kasus G30S/PKI adalah yang paling populer dan paling puncak dari sejarah kelam partai berlambang palu arit ini. Sehingga wajar sebagian pihak kesal dengan cara-cara kejam partai tersebut.

Padahal jika ditelisik lebih lanjut, sebenarnya partai ini justru partai yang paling dekat dengan petani, pekerja, buruh kasar bahkan pemuda intelektual kala itu karena slogan-slogannya yang memikat. Ketika partai ini dipimpin DN. Aidit, partai tersebut memiliki massa sampai 3 juta orang.

Bahkan menurut beberapa jurnalis asing waktu itu, PKI merupakan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Sovyet dan China. Fantastik memang, mungkin ini juga yang mempengaruhi reputasi PKI sebagai partai pembunuh.

Karena 2 partai komunis di negara itu juga ditengarai menggunakan cara yang sama-sama represif. Di Rusia, Partai Bolshevik pimpinan Vladimir “Lenin” Ulyanov menumbangkan sekaligus membunuh seluruh keluarga Dinasti Romanov.

Berbeda dengan Rusia, Partai Komunis China pimpinan Mao Zedong berperang dengan Partai Nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek. Jadi bisa dibayangkan berapa korban jiwa yang melayang akibat perang itu di sana. Alhasil, reputasi ini secara tidak langsung menjadi stigma PKI di kemudian hari.

Fakta sejarah yang kontradiksi inilah yang membuat misteri tentang kejadian G30S/PKI menjadi penuh dengan keganjilan. Mulai peran PKI dalam pembunuhan para Jenderal yang kita kenal dengan sebutan “Pahlawan Revolusi” tersebut, hingga ribuan nyawa tak berdosa dari mantan anggota PKI sendiri yang menjadi terkucil di masyarakat pasca kejadian itu.

Itupun belum termasuk atribut, dan identitas lain yang melekat hubungannya dengan partai tersebut. Lagu diatas adalah salah satu dari sekian banyak “identitas” yang diasosiasikan sebagai Lagu PKI.

Bahkan lagu tersebut sempat dilarang oleh pemerintah dan masih menjadi phobia ketika masyarakat mendengar lagu berbahasa Jawa itu. Sehingga di masyarakat, membicarakan PKI adalah hal yang tabu dan terlarang. Bahkan bisa berujung panjang dikantor kepolisian karena dianggap meresahkan.

Kontradiksi bukan Akhir Segalanya

Tentu fakta sejarah yang ada saat ini tidaklah sempurna karena misteri yang ada di dalamnya. Mungkin membutuhkan waktu yang lama bagi semua pihak yang terlibat agar bisa membuka fakta sesungguhnya mengenai luka lama bangsa kita ini.

Pasca tahun 1965 sudah banyak usaha dari berbagai pihak tentang perlu dibukanya komunikasi terutama dengan pemerintah agar semua pihak dapat “legowo” untuk kembali menuliskan catatan sejarah kelam yang terlupakan ini bersama pihak-pihak yang terlibat didalamnya.

Hasilnya memang banyak yang nihil. Tidak mengherankan beberapa orang di negeri ini hendak mengubur cerita yang traumatik tersebut atau bahkan melupakan selamanya sebagai salah satu cerita tersadis dalam kehidupan manusia.

Namun, apakah kita juga akan selamanya menjadikan kejadian ini sebagai balas dendam dengan mengubur nyawa tak berdosa kembali?

Sulit dikata, namun bukan berarti luka bangsa ini tidak bisa diobati. Akankah kita kembali mendapati nyawa melayang hanya karena kesalahpahaman sejarah yang terus berulang, sementara anak muda saat ini tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?

Tentu kita tidak ingin kejadian itu benar-benar terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *