Dr. Hamdan Daulay, M.Si., M.A; Kiat Tembus Artikel Opini di Kompas

58 views

Dr. Hamdan Daulay, M.Si., M.A; Kiat Tembus Artikel Opini di Kompas

Okey, kali ini saya ingin berbagi sedikit mengenai mata kuliah Analisis Isu-isu Kontemporer yang diasuh oleh Dr. Hamdan Daulay, M.Si., M.A. Pada dasarnya, mata kuliah ini lebih banyak membahas mengenai isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan pekan itu.

Seperti biasa, mahasiswa ditanya satu per satu mengenai isu-isu yang sedang menjadi perhatian publik. Tak lupa pula, para mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg atau pendapatnya mengenai isu tersebut.

Setiap mahasiswa juga mengumpulkan tugas kuliah yang diberikan pekan sebelumnya. Ya, sebuah artikel opini disertai bukti kirim artikel di media pilihan. Tugas ini tidak lain untuk melatih para mahasiswa agar berani mengirimkan karya tulisannya di media massa.

Bukan hanya itu saja, dengan adanya tugas rutin tersebut, para mahasiswa juga diharapkan bisa membentuk budaya produktif di dunia tulis menulis mengingat budaya yang satu ini memang pelan-pelan mulai ditinggalkan para pelaku akademisi.

Kiat Tembus Artikel Opini di Kompas

Senin itu, ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan mengenai bagaimana cara menulis sebuah artikel Opini. Menurut saya, Bapak Hamdan sudah lebih dari cukup menjelaskan kepada kami mengenai bagaimana cara menulis artikel layak muat media.

Oh iya, sebelum meneruskan artikel ini, saya sarankan Anda membaca tulisan saya sebelumnya mengenai dasar-dasar bagaimana menulis artikel opini. Nah, artikel ini sebagai pelengkap artikel sebelumnya.

Satu hal penting terkait teknik yang jarang dibahas oleh para narasumber di seminar-seminar maupun workshop adalah pembubuhan referensi di dalam artikel opini. Pertanyaannya, mengapa harus ada referensi di dalam tulisan opini? Bukannya opini itu cukup pendapat pribadi saja?

Basically, opini merupakan pendapat subyektif dari seorang penulis dalam memandang sebuah isu. Tak heran bila pesan yang disampaikan pun sangat kental dengan pandangan pribadi. Nah, referensi di sini berfungsi sebagai penguat pandangan subyektif seorang penulis.

Dengan referensi, opini yang disampaikan penulis menjadi lebih kokoh baik dari segi gagasan maupun argumen. Dengan adanya referensi, tulisan menjadi lebih meyakinkan, ilmiah sekaligus populer seperti sifat aslinya yakni artikel populer; berbahasa populer disertai data-data ilmiah.

Bentuk-bentuk penambahan referensi pun banyak ragamnya di dalam tulisan ilmiah. Namun, khusus di dalam penulisan artikel Opini, Anda bisa menggunakan body note sebagai teknik yang paling tepat.

Dalam studi ini, saya ambil contoh artikel opini Kompas bertajuk Semiotika Sosial 2014 karya Acep Ridwan Saidi.

Megawati Soekarnoputri dalam wawancara dengan harian ini menyatakan, 2014 bukan sekadar tahun politik, melainkan tahun penentuan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang kembali pada akar sejarahnya. Bangsa yang mandiri, beradab, dan menjadi pelita bagi bangsa-bangsa lain di dunia (Kompas, 7/1). Siapa pun pasti setuju dengan pandangan ini. Secara semiotik, di baliknya ditemukan tekad yang teguh, sebuah pesan yang memberi harapan.

Dalam paragraf tersebut, Acep Ridwan Saidi menggunakan jenis referensi berupa berita yang ditulis Kompas sebelumnya, tepatnya pada tanggal 7 bulan 1. Referensi seperti ini biasanya digunakan di awal-awal paragraf yang fungsinya sebagai pemantik artikel— menekankan bahwa isu tersebut benar-benar medapat perhatian media besar.

Fakta di atas bisa dibaca sebagai semiotika politik. Namun, saya akan memperluasnya jadi semiotika sosial (Halliday, 1989), tempat politik jadi salah satu topik di dalamnya. Semiotika sosial tak hanya bergerak pada tataran  relasi antara penanda dan petanda serta relasi antartanda, tetapi juga menyangkut interaksi berbagai tanda di dalam medan tanda dengan sejumlah pelibatnya. Di dalam arena itu yang terjadi bukan sekadar pertukaran pesan dan makna, melainkan pertempuran tentangnya.

Semiotika sosial adalah perdebatan parole (ujaran individu) dalam ruang perbincangan yang memperebutkan berbagai posisi. Dalam interaksi tanda semacam ini, yang sebenarnya terjadi relasi kuasa, baik dalam arti filosofis, yakni sesuatu yang menyebar dan dimiliki setiap individu (Foucault, 1989), maupun dalam  arti praktis: kuasa terdistribusi dari ”yang dominan” ke ”yang terdominasi”. Dengan demikian, kajian semiotika sosial berbanding lurus dengan analisis wacana.

Contoh kedua saya lampirkan seperti di atas, coba perhatikan dua paragraf di atas. Paragraf pertama ada kalimat, “….Namun, saya akan memperluasnya jadi semiotika sosial (Halliday, 1989)…,” kemudian paragraf kedua ada kalimat, “…yakni sesuatu yang menyebar dan dimiliki setiap individu (Foucault, 1989)…”

Nah contoh di atas adalah contoh pembubuhan referensi di dalam artikel opini. Mudah-mudahan dengan penjelasan singkat di atas, Anda bisa membedakan mana artikel opini yang bisa dikatakan memiliki kualitas atau malah sebaliknya— minim kualitas.

Salah satunya melalui pembubuhan referensi. Selamat mencobah!

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *