Contoh Review Buku Burung-burung Manyar

Contoh Review Buku Burung-burung Manyar
pixabay.com

ACADEMIC INDONESIA — Review berasal dari bahasa Latin, revidere atau recensere yang berarti melihat kembali, menimbang ataupun menilai. Dalam bahasa Indonesia sendiri review lebih dikenal dengan resensi. Pada artikel ini akan mengulas tentang contoh review buku.

Sama halnya dengan contoh resensi buku, contoh review buku sendiri juga akan menuliskan tentang resumean isi buku. Pada umumnya buku yang direview adalah buku  yang baru diterbitkan.

Jadi melalui review tersebut, para pembaca bisa mendapatkan suatu informasi penting terhadap layak atau tidaknya suatu buku untuk dibaca. Tapi tidak harus buku baru pula yang harus direview.

Review sendiri bisa berupa mereview jutnal, buku pelajaran, ataupun film. Ya, tergantung Anda mau mereview apa yang ingin direview.

Contoh Review Buku Burung-burung Manyar

Judul Buku            : Burung-burung Manyar

Penulis                   : Y.B. Mangunjiwo

Penerbit                 : Djambatan

Tahun Terbit          : 1981

Jumlah halaman     : 262

 

Di bawah ini adalah contoh review buku fiksi, roman Burung-burung Manyar karya Y.B.Mangunjiwo.

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1981. Pada tahun tersebut, kata-kata yang ada dalam buku ini masih banyak yang menggunakan kata-kata bahasa Jawa dan Belanda. Tapi Anda tenang saja, sebab di dalam buku ini masih terdapat catatan kakinya.

Burung-burung Manyar adalah novel pertama Y.B Mangunjiwo. Walaupun novel ini berlatar belakang revolusi kemerdekaan Indonesia yang isinya selalu tentang perang. Namun Y.B Mangunjiwo bisa memberikan humor yang segar di dalam novel ini.

Novel dengan tebal 260 halaman ini tidak seperti novel-novel Indonesia pada umumnya. Novel ini ini terdiri dari bagian awal yaitu Prawayang, yang  kemudian dibagi menjadi tiga bagian : Yaitu, tahun 1934-1944, tahun 1945-1950 lalu tahun 1968-1978.

Jadi bagi pembaca yang masih bingung dan tidak paham dengan beberapa kata yang bukan dalam bahasa Indonesia, catatan kaki ini akan sangat membantu Anda. Di buku terbitan ini masih ada catatan kakai yang menterjemahkan kata-kata dalam bahasa Jawa atau Belanda.

Namun hal tersebut tidak lantas akan membuat Anda kesusahan dalam membaca. Sebab dengan tidak adanya beberapa ejaan dan tata bahasa yang belum menggunakan EYD Bahasa Indonesia yang mutakhir justru membuat Anda menikmati bahasa yang digunakan penulis. Ya, semacam menyelami kembali tulisan-tulisan klasik penulis Indonesia.

Roman atau novel ini mengisahkan Setadewa, atau akrab dipanggil Teto, seorang anak dari Brajabasuki, Letnan KNIL. Di mana Brajabasuki ini juga seorang Raden Mas dari Keraton Mangkunegara dengan seorang perempuan berdarah Belanda bernama Mince. Ia menikah saat menghadapi perang revolusi di Indonesia.

Tidak seperti kisah perjuangan pada umumnya, di novel ini Anda akan disuguhkan sudut pandang yang berbeda. Yaitu suasana dari KNIL, pihak pihak musuh Indonesia. Teto sendiri Teto memutuskan untuk menjadi KNIL karena dendamnya kepada Jepang yang menjadikan ibunya sebagai gundik Jepang.

Namun di sisi lain, Teto jatuh hati kepada Atik, si Prenjak. Atik adalah  teman Teto sejak kecil. Ketika dewasa, Atik bekerja menjadi sekretaris Sutan Syahrir, seorang diplomat ulung andalan Indonesia.

Kondisi yang berbeda antara Teto dan Atik inilah yang membuat cerita di dalam novel ini menjadi semakin menarik.

Untuk lebih jelasnya, baca review per bagian di bawah ini.

Bagian pertama, pada tahun 1934-1944 adalah tahun di mana tahun-tahun  tersebut adalah masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada bagian pertama novel ini menceritakan masa kecil Teto dan Atik, dua tokoh utama dari novel ini.

Teto, atau yang mempunyai nama asli Setadewa ini adalah anak dari seorang ningrat Jawa yang menjadi seorang Letnan KNIL. Di mana Seto lahir dari rahim seorang perempuan Belanda.

Adapun Atik Larasati adalah anak dari ibu yang masih punya hubungan dengan lingkungan keraton. Atik memiliki seorang ayah dari rakyat biasa, bukan keturunan ningrat Jawa. Nah, di bagian  pertama inilah diceritakan bagaimana Teto dan Atik tumbuh dalam dunia yang begitu berbeda.

Karena ayah dan ibunda Teto begitu kental dengan pengaruh budaya Belanda, maka Teto tumbuh dengan menjalani kehidupan anak kolong. Hal itulah yang sedikit banyak kemudian mempengaruhi bagaimana Teto memandang kehidupan ia.

Sementara Atik sendiri, ia tumbuh menjadi seorang perempuan yang berpendidikan. Bisa dikatakan Atik adalah seorang perempuan terpelajar dan perempuan modern. Meskipun begitu, Atik tetap tidak melupakan akar budaya di mana ia dilahirkan.

Lalu beranjak ke bagian kedua di novel ini. Pada bagian kedua novel ini, menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di rentang tahun 1945 hingga 1950. Pada bagian kedua ini diceritakan peristiwa apa saja yang terjadi selama masa kemerdekaan Indonesia.

Masa-masa itu mengubah kehidupan Teto dan Atik secara drastis hingga bertolak belakang. Teto begitu menaruh kebencian kepada Jepang. Penjajah Jepang telah merenggut keluarga yang ia cintai.

Ia  kemudian memutuskan untuk menjadi tentara KNIL untuk melawan negara Indonesia yang menurut pemahamannya adalah sekutu Jepang. Adapun Atik, tumbuh sebagai perempuan yang berpendidikan baik, mendukung penuh dan berdiri di pihak republik Indonesia.

Lalu di bagian ketiga novel ini, menceritakan kisah tentang tokoh utama dari novel ini. Yakni Teto dan Atik saat keduanya sudah beranjak dewasa.

Meskipun novel ini ditulis pada tahun 1979, novel ini begitu dekat dengan kehidupan sekitar masyarakat. Atau mungkin karena novel ini mengambil mengambil latar di Magelang, Jawa Tengah. Lebih mudah untuk divisualisasikan dalam pikiran ketika seseorang sedang membacanya.

Kemudian hal lain yang menarik dari novel ini adalah pembaca tidak hanya disuguhi cerita roman saja. Akan tetapi pembaca juga diceritakan tentang suasana alam. Terutama berbagai jenis burung dan juga perilakunya.

Yang menjadi tokoh inspirasi dalam novel ini adalah Atik. Ia adalah sosok perempuan terpelajar dan kukuh pendirian. Mungkin saat ini, jarang sekali bisa menemukan perempuan yang cerdas dan memiliki prinsip yang kuat pada zaman revolusi.

Atik sangat tahu apa yang ia mau dan apa yang akan ia lakukan. Ia juga pandai menempatkan diri sendiri di segala posisi. Selain itu adapula beberapa penjelasan Atik mengenai citra dan jatidiri ketika ia dikukuhkan sebagai doctor yang akan membuat pembaca benar-benar terhenyak.

Adapula bagian-bagian lucu yang ditampilkan Y.B Mangunjiwo pada sosok Teto. Di mana ada beberapa percakapan atau celetukan Teto yang dikatakan dalam hati begitu menggelitik. Mungkin karena apa yang diceletukkan menggunakan bahasa Jawa yang begitu khas dan terdengar apa adanya.

Pesan-pesan yang dibangun Y.B Mangunjiwo dalam novel ini begitu jelas namun tidak terkesan begitu menggurui. Di dalam novel ini mengajarkan para pembacanya agar kita seseorang bisa melihat sesuatu dengan pandangan yang jernih. Pandangan yang jernih akan mengantarkan seorang manusia untuk bisa menemukan makna kehidupan dirinya sendiri.

Ya, seperti itulah yang bisa kami ulas di contoh review buku. Selamat mencoba.

Blogger Jogja Ambil Keilmuan Jurnalistik — Hobi Men-SEO-kan Konten — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Gabung dan Dapatkan Berbagai Info Kampus di Komunitas Academic Indonesia Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *