Contoh Resensi Buku Non Fiksi (Paradigma Kebudayaan Islam)

Contoh Resensi Buku Non Fiksi — Setiap tugas sekolah ataupun mata kuliah, pasti ada salah satu pengajar yang meminta untuk meresensi buku. Jika Anda bingung bagaimana cara meresensi buku, contoh resensi buku non fiksi di bawah ini akan membantu Anda menulis resensi buku yang baik.

contoh resensi buku non fiksi
pinimg.com

Anda juga bisa membaca Contoh Resensi Buku Pengetahuan, tetap di Academic Indonesia ya hehe

Contoh resensi buku non fiksi adalah bagaimana caranya meringkas suatu buku. Resensi sendiri adalah menulis resume suatu buku, informasi buku dan menuliskan kelebihan dan kekurangan suatu buku. Adapun non fiksi adalah sesuatu yang tidak direkayasa.

Jadi buku non fiksi sendiri adalah buku yang bersifat ilmiah. Baik itu buku yang mengupas tentang sejarah, memberi motivasi ataupun buku yang membahas tentang sosial, budaya dan ekonomi.

Yang jelas buku fiksi sendiri adalah rekayasa seperti novel, antologi cerpen atau puisi. Jadi jika buku non fiksi adalah kebalikan dari buku fiksi itu sendiri. Di bawah ini adalah contoh resensi buku non fiksi karya Prof.Dr.Faisal Ismail, M.A.

Sebelum menginjak ke contoh-contoh, Anda juga bisa mempelajari Pengertian Resensi Buku beserta Unsur-unsurnya

Contoh Resensi Buku Non Fiksi Paradigma Kebudayaan Islam

contoh resensi buku non fiksi Paradigma Kebudayaan Islam
bukusewu.com

Judul Buku            : PARDIGMA KEBUDAYAAN ISLAM; Studi Kritis dan Analisis Historis

Penulis                   : Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A.

Penerbit                 : PT. Mitra Cenndekia

Tahun Terbit          : 2004

Jumlah halaman     : xvii + 275

Tidak bisa dipungkiri, kemajuan zaman yang semakin berkembang selalu diiringi dengan segala hal yang baru. Dinamisnya zaman membuat manusia harus mampu mengimbanginya, alasannya bertahan? Atau tertinggal? Dari majunya zaman, maka muncullah sebuah peradaban baru.

Peradaban baru yang muncul nantilah, yang akan membawa manusia pada masa kejayaan atau keterpurukan. Maka untuk mengimbanginya, kebangkitan agama lah yang mampu menahan keruntuhan kebudayaan dekaden itu. Melalui gerakan-gerakan spiritual lah kebudayaan sanggup terselamatkan.

Itulah yang coba Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A tuliskan dalam buku PARADIGMA KEBUDAYAAN ISLAM; Studi Kritis dan Analisis Historis. Dalam  karyanya yang kesekian ini, beliau secara garis besar membahas tentang keadaan kebudayaan Islam.

Baik itu kebudayaan Islam pada masa sekarang yang tinjauannya diangkat dari kondisi nyata kebudayaan Islam itu sendiri.

Dalam buku Paradigma Kebudayaan Islam karya Prof. Dr. Faisal. Ismail, M.A ini, akan dikupas secara tuntas mengenai itu semua. Semua rinci, buku ini dibagi menjadi beberapa bagian : yaitu :

Bagian pertama, berisi suatu kajian tentang agama dan kebudayaan dan hubungan antara keduanya.  Diakhiri dengan sebuah studi kritis terhadap tesis-tesis kebudayaan yang diajukan Sidi Gazalba.

Pada bagian kedua, menyoroti secara umum sosok dan situasi pendidikan kebudayaan di Indonesia. Di bagian kedua ini menyajikan dan menjelaskan suatu analisi terhadap timbulnya krisi-krisis pada bidang pendidikan dan kebudayaan yang dihadapi oleh umat Islam.

Penyair dan dramawan  WS Rendra yang mengemukakan suatu tesis. Bahwasannya salah salah satu krisis yang cukup memprihatinkan yang terjadi di kalangan umat Islam Islam Indonesia adalah bahwa mereka kurang bersahabat dengan ilmu pengetahuan.

Bagian ketiga membahas perihal subordinasi agama terhadap kesenian atau sebaliknya.

Diskusi mengenai bagaimana seharusnya seniman Muslim memandang, menghayati, mendekati dan menafsikan Tuhan.

Bagian keempat mendiskusikan tentang Islam dan kaitannya dengan moralitas dan modernitas. Adapaun pada bagian kelima dijelaskan tentang sketsa sejarah ebangkitan kebudayaan Islam pada abad 8-13 Masehi.

Setelah menikmati masa-masa keemasan dan kejayaan Islam selama kurang lebih 5 abad. Umat Islam dan kebudayaannyapun runtuh. Estafet kepeloporan di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan beralih ke tangan Barat.

Dalam setiap bagiannya, Prof. Faisal membahas suatu hal yang temanya berbeda dengan tema bagian lainnya.

Sayangnya dalam membahas masalah Prof. Faisal juga sering mengunakan bahasa yang cukup tinggi sehingga tidak semua kalangan bisa membacanya. Bahkan terkadang dapat membuat pembaca menjadi cepat bosan.

Hal yang menarik dari buku Prof. Faisal ini yaitu diuraikan bahwa hanya kebangkitan agama Islamlah yang mampu menahan keruntuhan kebudayaan itu sendiri. Pengaruh  kebudayaan Barat dan industrialisasi terhadap kehidupan manusia.

Serta tentang peradaban baru yang akan muncul setelahnya yang mana selain muncul di tempat lain. Tidak lagi dari pusat-pusat kebudayaan sebelumnya di mana juga mempunyai corak dan sosok yang jauh berbeda dengan kebudayaan yang telah mempengaruhi di abad sebelumnya.

Buku karya Prof.Faisal ini layak dijadikan rujukan terhadap masalah-masalah baru tetapi tidak cocok untuk dijadikan rujukan untuk masa-masa sekarang. Sebab hal tersebut akan tampak ketinggalan.

Hal ini disebabkan karena masalah yang diangkat adalah permasalahan yang klasik. Jika buku ini dijadikan rujukan masalah yang terbaru, maka buku ini perlu direvisi kembali. Sebab permasalahan yang ada dalam buku ini hanya menjawab permasalahan yang lama.

Yang menarik dalam buku ini adalah adanya analisis dan refleksi historis. Bahwasannya Islam dan ummatnya cukup mempunyai peluang untuk melakukan gerakan revivalisme dan dan reformisme.

Menciptakan dan menyegarkan karya-karya kebudayaan sebagai basis spiritual dan kultural. Ya, untuk menopang proses akselerasi terjadinya kebangkitan kembali Islam dan ummatnya.

Buku karya Prof.Ismail ini sangatlah kritis dalam mengkaji peradaban Islam saat ini. Sangat disarankan untuk dibaca siapa saja yang rindu akan kembalinya kejayaan peradaban Islam masa lampau.

Namun kelemahan dalam buku ini adalah bahasa yang digunakan cukup tinggi sehingga tidak semua mampu memahami seluruh isi buku ini. Padahal isi buku di salamnya begitu memuat keilmuan yang sangat penting untuk dipahami dan diketahui oleh yang membaca.

Akan lebih menarik jika disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga informasi dapat diterima semua kalangan.

Buku ini sebenarnya juga akan lebih baik jika penulisnya memberikan solusi atau jalan keluar tentang bagaimana kebudayaan Islam menghadapi kebudayaan Barat yang semakin meluas saat itu.

Terlepas dari berbagai ketidaksempurnannya, harus diakui bahwa buku Prof. Ismail ini merupakan sebuah karya yang besar. Banyak pengetahuan yang dapat kita ambil dari buku ini, khususnya tentang paradigma kebudayaan Islam.

Buku ini sangat tepat untuk dibaca oleh mereka yang menyukai kebudayaan Islam. Terlebih pada mereka yang mengambil kuliah jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ataupun Dirosah Islamiyah.

Karena definisi resensi sendiri adalah meringkas atau meresume suatu buku baik fiksi ataupun non fiksi. Di mana resensi sama halnya dengan meresume buku, jadi informasi tebal halaman, percetakan dan pengarang juga wajib disertakan.

Review buku dengan meresensi itu memang hampir sama. Namun yang menjadi pembedanya adalah pada resensi perlu disebutkan kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut. Hal ini penting karena seolah meresensi buku itu mengupas kembali isi buku.

Sebab tindakan meresensi itu sendiri berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas atau mengkritik buku. Jadi bukan hanya menuliskan review atau resume dari buku saja.

***

Nah, seperti itulah contoh resensi buku non fiksi yang bisa kami bagi. Semoga artikel ini bisa membantu Anda dalam meresensi buku.

Baca juga mengenai Contoh Resensi Novel Terlengkap

 

Info Kampus dan Sumber Referensi Kuliah Terlengkap Fanspage Academic Indonesia Group Fb Info Kampus Seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *