Contoh Kumpulan Teks Khutbah Idul Adha Terbaru Para Akademisi

Pengertian Idul Adha

Islam mempunyai dua hari raya. Pertama adalah hari raya Idul Fitri, kedua adalah hari raya Idul Qurban, atau yang sering disebut-sebut sebagai hari raya Idul Adha.

Setelah kemarin kit bertakbir dalam rangka hari raya Idul Fitri, maka 70 hari setelahnya yakni pada tangga; 10 bulan Dzulhijjah, ummat Muslim akan kembali bertakbir untuk mengagungkan asma Allah dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha.

Nah, bagi sahabat academic, tahukah apa pengertian Idul Adha itu? Di karya tulis ini akan kami sajikan beberapa contoh teks khutbah Idul Adha yang tergologng masih belum lama. Ya, teks tersebut pernah disampaikan kurang lebih 5 tahun yang lalu. Namun ada juga versi lama, selamat membaca!

Pidato Khutbah Idul Adha
kabarmakkah.com

Hari raya Idul Adha adalah hari raya yang jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Di waktu hari raya, seluruh ummat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat Id dua rakaat. Adapun sholat Id diutamakan di tanah lapang yang luas agar ikatan persaudaraan menjadi saling sapa dan menjadi syiar yang besar.

Di hari raya Idul Adha, terdapat istilah Idul Qurban. Sebuah istilah yang mengingatkan kita mengenai kisah Nabi Ibrahim, Ismail dan ibundanya Siti Hajar. Selain Idul Qurban, hari raya Idul Adha juga sering disebut sebagai hari raya Haji sebab kala itu banyak jamaah Haji yang melakukan ibadah di Rumah Allah Makkah Al Mukarromah.

Maka tak heran bila kadang kita mendengar ada sanak saudara kita yang ketika Hari Raya Id sedang melaksanakan ibadah haji. Adapun seseorang yang belum mampu melaksanakan ibadah haji bisa diganti dengan melaksanakan ibadah qurban berupa hewan ternak. Semata-mata hewan qurban tersebut diniatkan untuk ingin dekat kepada Allah Swt.

Arti Idul Adha Menurut Bahasa

Secara terminologi, Idul Adha mempunyai dua arti, yakni arti qurban yang dirujuk dari bahasa Arab Qarib. Yaknisebuah penjelasan yang memaparkan bahwa Idul Adha adalah hari penyembelihan hewan qurban dalam rangka beruapaya mendekatkan diri kepada Allah.

Arti kedua, arti qurban mengarah pada udhhuyah, atau yang biasa dikatakan dhahiyyah yang bermaksud hewan sembelihan. Arti ini menyimpulkan bahwa hari raya Idul Adha adalah hari raya bagi ummat Islam yang dalam peringatannya dengan penyembelihan dalam rangka untuk kesalehan sosial.

Makna Idul Adha

Ada dua makna yang penulis akan ungkapkan terkait Idul Adha:

  1. Kesalihan Individu

Kesalihan individu adalah kesalihan yang dirancang untuk diri sendiri. Dalam hal ini tentu saja terkait hubungan vertical kepada Allah Swt. Dengan adanya kesalehan individu ini, manusia akan utuh dari dalam dan siap untuk mengabdi demi agama dan bangsa di lingkup sosial.

  1. Kesalihan Sosial

Makna yang kedua dari perayaan hari raya Idul Adha adalah pentingnya mengenai kesalihan sosial. Kesalihan sosial adalah hubungan horizontal yang berkaitan dengan hubungan persaudaraan baik sesame manusia ataupun secara umum sebagai khalifah di muka bumi kepada binatang dan tumbuhan.

Kesimpulannya, Islam sungguh telah sempurna mengajarkan keapda manusia mengenai dua hal yakni hubungan antara manusia dengan habluminallah dengan manusia berinteraksi dengan habluminannas.

Maka dari itu, sebagai Muslim hendaknya ada keseimbangan antara pencapaian dunia dan akhiratnya. Di sinilah indahnya Islam dalam hari raya Idul Qurban, tak hanya berkurban untuk Allah sang Penguasa Alam, namun juga berkorban untuk sesame manusia demi kemaslahan hidup sesuai fitrah suci manusia.

 

KHUTBAH IDUL ADHA TERBARU

MEMBANGUN KARAKTER UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP RELA BERKORBAN DEMI KEMANUSIAAN*

Oleh: Drs. H. Muhammad Yusuf, MSI.

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر 7×

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ

وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Allahu Akbar 3x Wa Lillahil Hamd

Kaum Muslim yang berbahagia rahimakumullah,

Engkau Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagiMu, dan segala bentuk  pujian hanya MilikMu.

Kita bersyukur, hari ini kita bersama-sama umat Islam di seluruh dunia telah disatukan dan digerakkan hati kita oleh kekuatan Tauhid dan rasa taat kita kepada Allah SWT agar kita menjadi sadar bahwa umat Islam hakikatnya adalah satu umat.

Sebagaimana sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji saat ini sedang menunaikan prosesi Wukuf di Padang Arafah, tempat yang disucikan dan dimuliakan oleh Allah Swt. Mereka menunaikan ibadah haji, bukan sebagai bangsa Arab, Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia.

Kita bersama-sama umat Islam yang ada seantero dunia ini merayakan hari Agung dan suci ini karena diikat oleh satu ikatan Aqidah Islamiyyah, satu keyakinan, satu kepercayaan dan satu Tuhan yang kita sembah, yakni kepada Allah SWT semata dan segala yang telah disyariatkanNya kepada umat Islam. Sebagaimana keyakinan dan ketaatan sempurna yang dimiliki dan dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan Ismail alaihimassalam.

Merayakan Idul Adha atau Hari Raya Qurban sesungguhnya kita  mengenang perjalanan sejarah seorang utusan Allah, yang sarat dengan peristiwa kemanusiaan dan sejarah kenabian seorang yang terjadi lebih dari 4000 tahun yang lalu, sekaligus menggali dan berusaha meneladani nilai-nilai keagamaan, pengorbanan dalam memikul amanah, kesalehan, ketulusan, kesabaran dan keteguhan hati yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim as.

Semata-mata demi untuk meraih kehidupan yang berkualitas dan rasa tunduknya kepada Allah SWT dan sekaligus. Nilai-nilai yang sangat berarti bagi kehidupan sosial, berbangsa dan beragama, yang sangat diperlukan bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dengan ditandai gerak cepat perubahan masyarakat dan dinamika kehidupan di era modern, lebih-lebih bagi bangsa kita Indonesia yang saat ini sedang mengalami tantangan dan ujian yang sangat berat.

Dari peristiwa sejarah ini pula kita berharap mampu menggugah kesadaran kita, tertanam nilai-nilai dan esensial ajaran, sekaligus untuk berusaha meneladani kepribadian, mentalitas, kecerdasan emosi, kualitas keimanan, dan kedekatannya dengan Allah.

Sudah barang tentu kesempurnaan kepribadian ini sangat kita rindukan dan kita idamkan, di saat bangsa kita sedang dilanda krisis dan problema dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, mulai dari persoalan korupsi yang episodenya semakin panjang, mafia peradilan dan hukum yang kompleks, memudarnya citra para pemimpin negeri ini, merosotnya wibawa supremasi hukum, teraniayanya para TKW-TKI negeri orang yang makmur dan kaya raya.

Kasus-kasus penjualan bayi, anak-anak dan wanita, terusiknya wilayah NKRI oleh negeri  jiran, maraknya “perang” saudara antar warga masyarakat secara hoprizontal, rakyat dengan aparat secara vertikal, penjahat yang semakin nekad, pembunuhan secara mutilasi dan beranting, perbuatan anarkhi di beberapa wilayah nusantara, terganggunya keamanan dan kedamaian oleh bom para teroris. La Quwwata illallah. Apa makna di balik ini semua?

 

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Jika kita cermati secara seksama situasi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dari waktu ke waktu mengalami rasa ketidakpastian dan shock terhadap perubahan yang terjadi, seiring dengan kemajuan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi lebih-lebih media, cetak maupun elektronika yang mengalami euforia publikasi, karena alasan demokratisasi kebebasan pers.

Sehingga sangat berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kita sehari-hari, termasuk perbuatan yang cela dan tak terpuji, bahkan semakin banyaknya perbuatan yang terjerumus dalam lembah maksiyat dan kubangan dosa, baik itu dosa kecil sampai dosa besar.

Bukti yang paling konkret adalah semakin merebaknya penyakit masyarakat, pelanggaran hukum, praktik-praktik penyimpangan seksual, arogansi para penguasa, pelanggaraan norma-norma, perbuatan kriminal, hilangnya rasa malu, aksi-aksi anarkhi atas nama agama, dan tergerusnya nilai-nilai etika dan sopan-santun.

Sungguh sangat memprihatinkan, padahal dulu kita dikenal dan dinilai sebagai bangsa yang agamis dan dikenal oleh pihak dan bangsa lain sebagai bangsa yang santun, ramah dan menghormati adab kesopanan dan disegani oleh bangsa lain.

Mungkin, pasca reformasi sejak akhir awal tahun 1998 hingga sampai saat ini, semakin meningkat intensitas dan kualitasnya disebabkan oleh berbagai faktor kehidupan,  yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung.

Di sisi lain, saudara-saudara kita banyak mengalami musibah yang bertubi-tubi, yang pada gilirannya mereka menjadi rentan terhadap godaan-godaan dan gangguan psikologis yang bisa berakibat merugikan bahkan bisa fatal dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Meskipun demikian, sebagai kaum muslimin yang memiliki akidah kepada Sang Maha Pencipta, kitab suci tuntunan umat manusia, syariat yang humanis, suri tauladan, tentu bisa lebih arif dan bijak mensikapi perubahan tersebut.

Kita tidak boleh larut dan terlena, apalagi ikut terperosok, sehingga lupa kewajiban menjalankan segala perintah, tidak patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya, sehingga menjadi umat yang ingkar terhadap nikmat Allah dan tidak pandai bersyukur. Naudzubillah min dzalik wa Lillah al-Hamd.

Rasulullah saw. sejak 14 abad yang silam telah memberikan isyarat peringatan (warning) melalui sebuah sabdanya, beliau mengungkapkan:

«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ، قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»  (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi)

“Hampir-hampir saja para umat itu mengerumuni kamu semua sebagaimana mereka mengerumi makanan di atas nampan. Ada yang bertanya, ‘Apakah karena jumlah kita yang saat itu memang sedikit?’ Baginda Nabi menjawab, ‘Tidak. Justru kalian ketika itu jumlahnya banyak, tetapi kalian laksana buih yang diombang-ambingkan oleh gelombang. Allah benar-benar akan mencabut dari dada-dada musuh kalian perasaan segan terhadap diri kalian. Dan Allah benar-benar akan menancapkan ke dalam hati kalian “al-wahn”. Di antara mereka ada yang bertanya: “Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah”? Beliau menjawab, ‘Mencintai dunia, dan takut akan kematian.’

Orang-orang sekarang banyak yang terjangkit penyakit al-wahn ini, sehingga bangsa kita yang besar ini mulai kehilangan wibawa dan buruk citra di mata dunia, padahal mayoritas beragama Islam.

Berbeda jauh dengan generasi awal Islam, masa Nabi dan Sahabat, yang berbekal dengan pengetahuan agama (al-Ulum ad-Diniyyah), berperilaku mulia (al-Akhlaq al-Karimah), diikat oleh persaudaraan (al-Ukhuwwah al-Islamiyyah), mampu menunjukkan prestasi gemilang dan sukses besar untuk kemaslahatan umat manusia, sehingga kewibawaan dan rasa enggan oleh bangsa lain, dan disegani oleh umat yang lain.

Suatu ketika Khalid bin Walid salah seorang sahabat Nabi, yang pemberani pernah memotivasi pasukannya Hurmuz dengan ucapannya:

« أَسْلِمْ تَسْلَمْ،… فَقَدْ جِئْتُكَ بِقَوْمٍ يُحِبُّوْنَ الْمَوْتَ كَماَ تُحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ»

“ … masuk Islamlah kamu, maka kamu pun akan selamat… Aku sungguh telah datangkan kepadamu suatu kaum yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Spirit mereka adalah kesediaan mereka untuk berkorban untuk kepentingan yang lebih jauh dan lebih penting dan dalam waktu yang tak terbatas. Pengorbanan itulah begitu mendalam tertanam dalam jiwa, sampai-sampai bisa menikmati kematian, sebagaimana orang-orang kafir menikmati kehidupan.

Kita tidak akan memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti, kecuali jika kita bersedia untuk mengorbankan apa yang kita cintai. Nabi Ibrahim as dengan ujian Allah yang sangat berat telah berhasil mencapainya sehingga mendapat predikat Khalilullah (kekasih Allah), karena telah merelakan dan pasrah mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai, yakni anaknya Ismail.

Hal ini dijalankan karena semata-mata ketaatannya melaksanakan perintah Allah swt. untuk menggapi ridhaNya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

Artinya:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.  (QS. Alu Imran, 3:92).

            Islam tidak pernah melarang mencari kehidupan duniawi selama tidak berlebih-lebihan, tetapi Islam juga mengajarkan secara serius bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih penting dan lebih memberikan kesenangan yang hakiki.

Setiap langkah kehidupan kita memerlukan pengorbanan, raga, biaya, tenaga, pikiran bahwa terkadang nyawa sekalipun untuk mencapai suatu kebaikan dan untuk mencari ridla Allah. Memang, kita sering salah persepsi terhadap kehidupan dunia dan samar-samar pandangan kita tentang kehidupan akhirat.

Allah SWT mengajari kita secara bijak kepada kita, umat Muhammad melalui firmanNya:

.. bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sebenarnya ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sessungguhnya ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS. al-Baqarah, 2:216)

Oleh karenanya, di dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita harus jeli dan teliti dalam menentukan pilihan dan memutuskan sesuatu, karena jangan sampai hamba Allah menjalankan kehidupan ini tidak mempertimbangkan aturan dan syariatNya, serta menyerahkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang dicontohkan nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri.

Berbeda dengan orang –orang yang tidak pandai bersyukur dan tidak memiliki keyakinan atas janji-janji Allah swt, mereka mudah goncang jiwanya, sehingga mengakibatkan putus asa, frustasi, shock, depresi, stress, bahkan menjadi hilang akal/gila.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Saat ini jumlah penduduk dunia sebanyak 7 milyard, dan bangsa Indonesia termasuk 5 besar berpenduduk mayoritas. Sudah barang tentu banyak persoalan yang muncul untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tuntutan kesejahteraan.

Membangun manusia, tidak cukup dengan pendekatan  materi dan fasilitas fisik semata tanpa menyentuh dimensi-dimensi non-fisik, karena manusia tidak hanya terdiri dari unsur kasar, yakni darah, daging dan tulang, yang merupakan dimensi fisik.

Ada dimensi  lain, yakni ruh dan spiritual yang justru harus mendapat perhatian lebih ketimbang dimensi  fisik. Terbangunnya fisik akan melahirkan manusia robotik bersifat mekanistis yang tidak membutuhkan spiritual-ruhaniah.

Bukankah kita bisa hidup karena Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam tubuh kita sebagai titipan suci untuk mengemban amanatNya sebagai Khalifatullah fil Ardh ? Maka, sudah seharusnya kehidupan seorang hamba selalu bertumpu pada jalan kehidupan yang telah digariskan oleh Sang Khaliq, “Shirathal Mustaqim”, “Sabilillah”, “Sabilul Huda”, “Sabilul Haqq” (Jalan yang Lurus, Jalan menuju Petunjuk yang Benar).

Jama’ah yang berbahagia, Jejak kehidupan Ibrahim dan Ismail as, adalah figur manusia dan hamba Allah yang sempurna, taat dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta dengan melakukan pembebasan diri dari belenggu berhala materi dan sistem peribadatan yang syirik. Ketundukan dan keikhlasan mereka mengalahkan kekuatan egoisme dan hegemoni materialistik demi  meraih ridha Ilahi.

Manusia modern terjebak dalam permainan duniawi yang penuh rekayasa teknologi dan analisis matematik dengan memutarbalikkan logika dengan menanggalkan dimensi kebenaran dan kemaslahatan, seolah menghasilkan kebenaran.

Kaum Muslim rahimakumullah:

Kisah nyata yang sangat dramatis Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail —’alaihima as-salam— dihadirkan oleh Allah kepada kita untuk menjadi pelajaran dan teladan dalam kehidupan kita (‘Ibrah wa Uswah Hasanah), ketataan keyakinan, kepatuhan dan kepasrahan yang sempurna (muslim yang mukmin) dari seorang utusan Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya.

Sehingga hati mereka tertanam jiwa yang ikhlas dan terbuka untuk menyampaikan dan menjalankan kebenaran Allah dengan jalan melakukan pengorbanan yang besar terhadap kepemilikan yang tak ternilai harganya.

Ibrahim dengan sepenuh hati menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra semata wayangnya,  Ismail, ia pun dengan rela dan pasrah, tanpa keberatan sedikit pun, bersedia disembelih oleh ayaha kandungnya tercinta.

Semua ini dilakukan semata-mata untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Mengorbankan sesuatu yang dicintainya bukanlah perkara mudah dan sulit dimengerti, bahkan kadang tidak masuk di akal (irrasional). Hanya kekuatan di balik itu semua yang mampu menjelaskannya. Allahu Akbar ‘Alimul Ghaybi wa asy-Syahadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dihadapkan berbagai kondisi dan situasi yang memaksa dan menuntut kita untuk melakukan pengorbanan, mulai dari hal-hal yang kecil sampai pada hal-hal yang sangat penting.

Banyak kejadian dalam lima tahun terakhir di Negara kita Indonesia yang kita cintai ini, mungkin tidak seluruhnya bisa kita rekam, karena terlalu banyaknya peristiwa-peristiwa alam dan dalam sandiwara kehidupan yang terjadi dan menuntut pengorbanan.

Belum lupa dalam memory kita, bagaimana dahsyatnya gelombang Tsunami di Aceh, Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Bantul, Gempa bumi di Sumatera Barat, Tsunami di beberapa tempat Pangandaran, Cilacap, Angin Putting Beliung, tanah longsor di Wasior, menyusul Badai Tsunami di Mentawai, dan kemudian Aktivitas gunung Merapi.  Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd.

Sebagai manusia, sering melihat peristiwa alam hanya dilihat dari sisi kerugian materi dan bersifat kemanusiaan saja. Tetapi yang sering dilupakan adalah aspek Teologis (Ketuhanan), sebab dalam ajaran al-Qur’an Tuhan, manusia dan alam merupakan hubungan relasional yang bisa menyatu dan harmoni.

Karena, pada hakikatnya alam tidak bertindak sendiri tanpa sebab atau tanpa ada yang mengendalikan. Bahwa seluruh ciptaan Allah yang memenuhi alam raya ini, pada hakikatnya tunduk pada hukum alam dan hukum Allah (Sunnatullah).

Termasuk ketundukan Nabiyullah Ibrahim dan Isma’il ketika menjalankan perintah Allah melalui media mimpi yang benar. Jika demikian halnya, maka akan mendatangkan manfaat dan hikmah yang besar dan bermakna bagi kehidupan dan keseimbangan antara manusia dan alam.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, bagaimana upaya kita untuk mampu menangkap isyarat-isyarat ilahiyah dibalik semua peristiwa, agar kita mampu mengungkap kebenaran Sang Maha Pencipta dan bisa mengambil pelajaran berharga dari ayat-ayat Allah tersebut agar setiap hamba Allah tidak mengalami kerugian ganda (materi dan keyakinan).

Kerugian harta benda dan jiwa bukan semakin menjaga jarak dan menjauhkan diri dari kemahakuasaan dan keadilan Allah. Justru dibalik itu semua ada ujian keimanan dan Allah akan melihat siapa di antara hamba-hambaNya yang lulus daalam ujian ini.

Kaum Muslim rahimakumullah:

Jika pada yaum Nahr (hari berkurban) ini, menyembelih hewan kurban di tanah suci bagi jamaah haji, pahalanya oleh Allah dihitung sebanyak tiap helai bulunya, maka bagaimana dengan pengorbanan total yang kita berikan kepada Allah sebagai manifestasi dari ketaatan kita dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam dalam kehidupan sehari-hari?

Jika hari ini, jamaah haji yang tengah mengenakan pakaian ihram harus rela menahan sengatan panas matahari, sejak di Arafah, Muzdalifah sampai ke Mina, dengan keringat dan bau badan yang mengalir dari tubuh mereka, dan terhadap semuanya itu mereka dilarang untuk menutup kepala dan memakai wangi-wangian, karena kelak Allah akan membangkitkan mereka sebagai orang yang memenuhi panggilan-Nya.

Waktunya dihabiskan di perjalanan, hartanya pun habis dibelanjakan di jalan Allah, tentu mereka akan mendapatkan kemuliaan yang jauh luar biasa. Karena mereka bukan hanya menjalankan ketaatan untuk diri mereka sendiri, sebagaimana jamaah haji, tetapi ketaatan yang juga bisa ditebarkan kepada orang lain. Allahu Akbar 3x.

Inilah hasil dari pengorbanan yang lahir dari ketaatan, ketakwaan dan pandangan jauh ke akhirat itu. Orang-orang yang taat ketika dipanggil oleh Allah, mereka pun menjawab:

                         «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»

”Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Kaum Muslim rahimakumullah:

Justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada’:

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»

”Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.”

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd

Kaum Muslim rahimakumullah,

Sementara kita, saat ini sedang menghadapi problem kehidupan yang bervariasi, berbagai cara manusia menempuh agar keluar dari problema tersebut. Dalam realitanya, sebagian kita tidak takut lagi melakukan perbuatan melanggar hukum, perbuatan dosa, bahkan pelanggaran terhadap agama. Padahal al-Qur’an mengingatkan kita, bahwa maksiyat itu akan mendorong munculnya cobaan dan fitnah, yang akan mendera setiap orang tanpa kecuali Allah berfirman:

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Takutlah kalian terhadap datangnya cobaan/fitnah yang tidak hanya akan menimpa orang yang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras balasan-Nya.” (QS. al-Anfal [08]: 25)

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Kaum Muslim Yang Dimulyakan Allah,

Padahal Allah telah menjadikan kita umat paling mulia dan umat terbaik. Lalu di manakah letak kemuliaan dan kebaikan kita sekarang?

Tidak ada lagi solusi lain dalam menjawab tantangan dan cobaan hidup, kecuali dengan kembali kepada ruh dan ajaran Islam secara konsekuen, konsisten dan kaaffah. Itulah yang menjadi penentu kemuliaan kita, sebagiamana dahulu Rasulullah saw. dan para sahabatnya —radhiyallahu ‘anhum— telah meraihnya.

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga kita mampu tetap bersabar dan tabah, sehingga kita tetap mampu menjalani kehidupan ini selalu dalam ketaatan dan kepatuhan menjalankan kehendak Allah SWT. Amin…

Innallaha wa Malaikatahu Yushalluna ‘alan Nabiy Ya Ayyuha-lladzina Amanu Shallu ‘alaihi wa Sallimu Taslima, warhamna ma’ahum birahmatika Ya Arhamar Rahimin.

أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ،  

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا      أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم دُعَائَنَا إِنَّكَ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذ نوبنا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

Allahumma nawwir qulubana binuril ilmi, wahdina bi Hidayatil Qur’an, wa Tsabbit Imanana bikalimatikal Haqq ats-Tsabit “Asyhadu an La Ilaha Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Allahumma Sallimna minal ‘Afati wa mashaibid Dunya wa fitnati Adzabil Akhirah, Innaka ‘ala Kulli Sya’in Qadir Ya Aziz Ya Karim, Ya Rabbal ‘Alamin.

Allahumma Najjina min Qaumil Musyrikin, wa Najjina minal Qaumil Kafirin, wa Najjina min Qaumil Munafiqin, wa Najjina minal Qaumil Jahilin, La Ilaha Illa Anta ‘Alaika Tawakkalna wa Anta Rabbul Arsyil Adzim, La Haula wa La Quwwata Illa billahil ‘Aliyyil Adzim.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، َسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________________________

*)  Khutbah disampaikan dalam Idul Adha di Masjid Darul Qur’an Al-Karim, Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam masjid Syuhada’ (STAIMS) Pringgokusuman, Yogyakarta, Ahad 6 Nopember 2011/Idul Adha 1432H

 

KHUTBAH IDUL ADHA SINGKAT

“KESEDIAAN BERKORBAN SEBAGAI NILAI DASAR-DASAR UNTUK PEROLEH KEMAJUAN PERADABAN”

Oleh Prof. Dr. H. Amin Abdullah

Jamaah Salat Idul Qurban yang berbahagia

Marilah kita panjatkan puja dan puji kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan nikmat karuniaNya, kita semua yang berada disini dalam keadaan sehat wal’afiat sehingga dapat berkumpul dilapangan terbuka, untuk melaksankan salat Idul Adha, Salat sunnah hari raya qurban. Salawat dan salam kita limpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang membawa lentera iman, iman dan ihsan dalam kehidupan.

Pada pagi ini , titik fokus perhatian ummat Islam di seluruh dunia tertuju kepada pengorbanan seorabng Nabi, yang di jadikan teladan olrh ummat Yahudi, Nasrani dan lebih-lebih ummat Islam, yaitu Nabi Ibrahim As dan putranya Ismail As.

Nabi Ibrahim berjuang untuk menjadikan agama Tauhid, agama yang hanif, agama yang menjunjung tinggio nilai-nilai kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagai pedoman hidup bagi manusia di muka bumi.

Satu perjuangan yang maha berat ditengah-tengah masyarakat polytheist yang menjunjung tinggi nilai-nlilai kebendaan materialist yang seringkali menjadi sumber kon flik yang abadi sepanjang umur manusia.

Dalam menghadapi perjuangan yang berat itu, Nabi Ibrahim hanya dapat berdoa:

“Ingatlah ketika Nabi Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman tentram-damai dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari penyembah benda-benda materi yang bersimbolkan berhala-berhala” (Q.S. Ibrahim 35)

Pada saat itu, tanah Tanah Mekkah memang tidak semakmur saat ini. Tanah disitu masih sangat gersang. Jangankan semburan minyak dari perut bumi padang pasir dan pentyulingan air laut secara besar-besaran seperti yang kita jumpai saat sekarang ini, mencari setetes air pun amat susah.

Lari-lari kecil yang disebut sa’I antara bukit Sofa dan Marwa, adalah merupakan serangkaian ibadah haji yang menggambarkan betapa susahnya Hajar, istri Nabi Ibrahim, perjunagn seorang ibu mencari setetes air untuk kelangsungan hidup anaknya, Ismail. Dalam keadaan susah payah seperti itu, Nabi Ibrahim melanjutkan doanya:

“Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku dilembah yang yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka  dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. Ibrahim: 37)

Demikianlah sekelumit kilas balik sejarah perjuangan Nabi Ibrahim As dengan kota Mekkah yang masih tandus saat itu. Pada pagi hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, bersama-sama kita disini, tidak kurang dari dua juta orang muslim dari berbagai penjuru dunia, termasuk diantaranya adalah ratusan ribu jamaah haji Indonesia melaksanakan rukun Islam yang kelima, Ibadah haji, di Mekkah Al Mukarromah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim As.

Jamaah Idul Adha Rokhimakumullah

Ada baiknya jika pada kesempatan yang berbahagia pagfi hari ini, kita merenungkan kembali makna dabn pesan Al Quran tentang “berkorban” bagi kehidupan masyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.

Menjalankan ajaran dan perintah agama dalam masyarakat kontemporer yang sangat kompleks seperti saat sekarang ini selalu memerlukan “kontekstualisasi”. Kontekstualisasi diperlukan agar pesan-pesan agama tidak kehilangan relevansi dalam kehidupanmanusia. Perintah dan Anjuran untuk melakukan kontekstualisasi bermula dari AlQuran sendiri.

Hari raya Qurban atau “Idul Adha” umumnya berkonotasi langsung dengan “hewan”  qurban. Karena aka nada daging hasil sembelihan hewan kurban yang dibagikan kepada fakir dan miskin. Hal itu penting, tetapi setelah hewan qurban  terkumpul dan disembelih, buru=-buru Al Quran mengingatkan dalam surat Al Hajj, ayat 37.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaanlah yang dapat mencapainya”

Ketakwaan adalah tujuan utama disunahkan atas manusia untuk berkurban. Ketika daging dan darah diangkat ketingkat yang lebih sublime, yang lebih tinggi, yang lebih atas, yakni”takwa”, maka terjadi proses pemuliaan niat, penataan ulang maksud hati, penjernihan tujuan.

Niat, maksud hati dan tujuan rupanya tidak bisa berangkat dari sesuatu yang hampa. Niat maksud hati dan tujuan tidak daoat dilepaskan dari “konteks”. Yaitu, konteks persoalan yang sedang dihadapi oleh seseorang secara pribadi, konteks persoalan yang sedang dihadapi oleh ummat manusia dan ummat Islam secara kelompok di antar dunia maupun di tanah air, konteks persoalan bangsa dan Negara, konteks perkenbangan ilmu pengetahuan dan begitu seterusnya.

Makna “Takwa” dalam AlQuran ternyata sangat kontekstual dan padat dengan muatan persoalan social. Ketika “taqwa” dikaitkan dengan ibadah puasa bulan Ramadan, (Al Baqarah, 183) jelas-jelas disini ketkwaan mempunyai konteks kesejarahan atau hubungan historis yang sangat erat dan kuat dengan praktik orang-orang beragama terdahulu jauh sebelum Nabi Muhammad membawa risalahnya dan membawanya.

Orang Muslim harus melakukan ibadah puasa sebagaimana orang-orang terdahulu melakukannya. Tetapi ketika makna “takwa” dikaitkan dengan anjuran untuk segera mohon ampun kepada Allah, (Ali Imran, 134) ternyata ketkwaan disini juga dikontekskan dan dikaitkan dengan kesediaan seseorang untuk melakukan tiga hal:

  • Kesediaan untuk memberikan bantuan kepada orang atau kelompok yang menghadapi kesulitan.
  • Kemampuan untuk menahan amarah
  • Kesediaan untuk member maaf kepada sesama

Dari keterangan AlQuran tersebut, jelas-jelas disebutkan adanya syarat-syarat dan kemestian-kemestian social yang harus dipertimbangkan dan dipenuhi oleh ummat Islam. Syarat-syarat social itu berlaku dimanapun manusia berada( universal).

Derajat “takwa” tidak bisa diperoleh, menurut al Quran, tanpa memperhatikan, mempedulikan dan mencermati syarat-syarat dan mematuhi hukum-hukum sosial. Dengan begitu konsep penting bahkan sangat sentral dalam agama Islam, yaitu “takwa” bukanlah konsep yang semata-mata  transedental dan ahistoris(tak terrkait dengan sejarah), lebih-lebih bukan konsep keberagamaan Islam yang anti social.

Konsep takwa bukanlah konsep agama yang anti kultur dan anti struktur seperti yang lazimnya dipahami oleh sebagian olleh ummat Islam yang mempunyai agenda tersendiri, tetapi ia sangat padat dan sensitive terhadap nilai-nilai social dan kultur.

 

Jamaah Idul adha yang berbahagia

Bagaimana memahami ulang atau melakukan kontekstualisasi makna”qurban” yang juga dikait-kaitkan dengan “takwa”? Tindakan pengorbanan Nabi Ismail memang unik dalam sejarah agama-agama.

Pengorbanan atau kesediaan untuk berkorban untuk menjalani tugas yang diberikan oleh orang lain, hal ini adalah baoaknya sendiri Nabi Ibrahim As. Setidaknya ada tiga makna yang mendasar yang terkandung dalam tindakan pengorbanan ini.

Pertama, ketaatan dan kepatuhan yang tanpa reserve terhadap anjuran, aturan, tata tertib, kesepakatan, kontrak, atau perikatan social yang telah disepakati bersama. Dalam hal ini kesepakatan antara bapak dan anak, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara pemerintah dan rakyat dan begitu pula sebaliknya. Ketaatan dan kepatuhan yang rasiuonal ini, dalam bahasa pergaulan dunia kontemporer disebut”disiplin” kerja.

Kedua, motivasi dari dalam diri pribadi yang  dapat membangkitkan semangat dan menghimpun tenaga yang berdaya kekuatan besar, yang dapat mengumpulkan tenaga untuk menjalan-jalankan tugas meraih cita-cita besar, luhur dan mulia. Inner driving force inilah yang sekarang disebut-sebut orang sebagai “etos” kerja.

Ketiga, kerelaan berkorban dengan tulus dari dalam (dedication), dengan tolak ukur (parameter) yang rasional, yakni adanya keinginan kuat untuk menyelesaikan tugas dengan baik-zaik dan sungguh-sungguh dan keyakinan akan adanya manfaat dan maslahat untuk kebaikan bersama. Inilah yang disebut-sebut sebagai jiwa yang rela berkorban(volunterism) untuk kebaikan social dan kesejahteraan bersama dan bukannya tindakan nekat bunuh diri seperti akhir-akhir ini yang sering diperbincangkan banyak orang(terrorism).

Ketiga nilai fundamental tersebut jelas-jelas ada dibelakang tindakan pengorbanan Nabi Ismail As yang kita peringati pada pagi hari ini. Ketiga nilai tersebut seharusnya melekat dalam jiwa seseorang jiwa muslim-muslimah, jika mereka ingin memperoleh derajat takwa seperti yang di idealkan oleh AlQuran . Ketiga nilai tersebut dapat diringkas menjadi

  • Kedisiplinan yang teguh
  • Kesungguhan untuk menyelesaikan tugas (etos kerja) dengan sebaik-baiknya
  • Kerelaan berkorban untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama(dedication).

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Tiga Nilai  diatas sesungguhnya melapisi dan menjadi fondasi kuat bagi tumbuh berkembangnya peradaban besar bangsa-bangsa unggul di dunia. Para Nabi, para Rosul dan pemimpin-pemimpin bangsa terkemuka di dunia juga memiliki panduan-panduananyaman tiga nilai tersebut dalam gerak aktifitas mengatur tata pemerintahan memajukan ilmu pengetahuan , pendidikan sosiall, politik ekonomi, usaha kehidupan social keagamaan dan social kemasyarakatan.

Sebutlah Nabi Musa, yang kemudian menjadi pemimpin ummat Yahudi, Nabi Isa yang kemudiaan dijadikan panutan ummat Kristiani dan Nabi Muhammad yang menjadi  teladan panutan(u

swatun hasanah) ummat Islam serta semangat Konghucu dan Tao untuk Cina dan Jepang. Begitu pula pemimpin-pemimpin dunia yang mengukir sejarah peradaban manusia sejak dari abad 16 sampai  20 dan para peraih hadiah nobel perdamaian dan ilmu pengetahuan.

Mereka mempunyai disiplin yang kuat kesungguhan dan etos kerja yang tinggi, semangat berjorban yang prima, dorongan atau motivasi untuk bekerja memperbaiki keadaan yang sedang berjalan untuk memajukan peradaban ummat manusia.

Semuanya hamper-hampir di dorong oleh semangat keagamaan meskipun mereka tidak mengatakannya begitu. Istilah dedikasi, keikhlasan yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja pimpinan pemerintahan, pimpinan masyarakat, dosen, karyawan, tak bisa dilepaskan dari contoh-contoh dan tauladan para pemimpin terdahulu di dalam melakukan darma baktinya kepada ummat, bangsa dan Negara.

Hampir seluruh perguruan tinggi umum dan universitas ternama di Negara-negara amerika utara dan eropa yang menyumbangklan jasa luar bisa untuk kemajuan bangsa dan peradaban manusia melalui  pendidikan, pengajaran, dan research, dulunya didirikan dan dimotivasi oleh etos dan semangat keagamaan.

Di Mesir di universitas Al Azhar dan Negara-negara lain tidak dapat dipisahkan dari semangat keagamaan yang sama. Dalam perjalananya yang panjang, Al Azhar pun akhirnya memasukkan ilmu-ilmu modern seperti kedokteran ke dalam kampus barunya, namun kemajuan ilmu-ilmu agamanya belum sebanding dengan kemajuan-kemajuan ilmu-ilmu lain sejenis.

Mencermati refleksi akhir tahun 2005 di berbagai media massa dan elektronik, baik nasional maupun lokal, ketika kita melihat nasib bangsa kita seperti ini, diperoleh kesan kuat bahwa justru ketiga nilai fundamental dalam kehidupan itulah yang sekarang sedang di abaikan oleh sebagian besar pemimpin bangsa Indonesia sehingga mengantarkan bangsa pada multi krisis yang tak berkesudahan.

Indonesia dengan 220 juta penduduknya, selalu menghadapi kesulitan-kesulitan baik sebelum maupun setelah era reformasi. Peringkat mutu pendidikan terus merosot tajam dibandingkan Negara-negara lain, prestasi olah raga pun ikut-ikut meluncur kebawah dengan cepat, tawuran pelajar merupakan hal yang biasa, tawuran antar RT di kota-kota besar, kekerasan dan keributan mahasiswa di berbagai kota besar.

Konflik antar pengikut agama yang berbeda di berbagai tempat, peledakan bom bunuh diri saling susul menyusul, pabrik ekstasi terbesar ketiga di dunia ada disini, kejahatan narkoba menggeroti generasi muda, pembabatan hutan, di ikuti banjir bandang di musim hujan terus berjalan tanpa kendali.

Kesemuanya adalh dampak dan akibat langsung dari rendahnya disiplin para pemimpin, lenturnya disiplin para penyelenggara Negara, lemahnya disiplin pribadi, kendornya disiplin masyarakat, keroposnya displin kelompok dan puncaknya pada hilangnya disiplin nasional.

Dengan begitu kita perlu mulai dari nol, dari sekolah-sekolah balai pendidikan. Apa yang bisa dilakukan untuk perbaikan bangsa jika tidak dimulai dari pendidikan pada setiap levelnya. Menumbuhkan kesadaran (rising awareness) tentang adanya kelemahan ini semua merupakan tugas kita semua, tak terkeculi.

Pelajaran Agama di sekolah tidak boleh hanya pada aspek ritual dan tak begitu peduli pada penegakan disiplin pribadi, disiplin social masyarakat, disiplin social beragama dan disiplin bernegara.

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Sangat terkait dengan disiplin nasional adalahbagaimana mengatasi dan mengendalikan tarikan-tarikan primodial yang beraroma egosentrik. Baik egoism kelompok, partai, egoism keilmuan yang membentang luas merintangi perjalanan panjang ke depan bangsa Indonesia.

Jika saja Nabi Ismail ingin mempertahankan hak-hak hidup individunya secara egoistis, tanpa mengenal kompromi, tanpa besar hati, dan tak bersedia mengorbankan sebagian hak-haknya untuk kepentingan yang lebih bersar, maka peristiwa yang disebut Idul Adha ini tak akan terjadi.

Peristiwa napak tilas pengorbanan umat manusia hanya dapat dimungkinkan, karena Nabi Ismail AS dapat berbsar hati, berlapang dada, bersedia dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab untuk memberikan sebagian hak-haknya untuk kemaslahatan dan kepentingan yang lebih besar dan universal.

Perbedaan memang ada dimana-mana. Perbedaan dari segi warna kulit , ras , agam, etnisitas, usia tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, kemampuan pribadi , pangkat dan jabatan dan begitu seterusnya.

Belum lagi perbedaan penafsiran  ajaran agama dan kepentingan politik dan ekonomi. Jika perbedaan ini tidak dipandu dengan niali-nilai  yang lebih tinggi yang dapat merengkuh dan mengayomi kehidupan bersama, maka kita dan bangsa Indonesia pada umunya akan mudah terseret dan terjebak pada tindak kekerasan(violence) dan anarkhisme akan muncul dimana-mana tanpa diketahui kapan akan berakhir.

Kerjasama antar kelompok masyarakat, tenggang rasa antar berbagai pihak, kemampuan menahan diri dan kelompok, menjaga keharmonisan social, mendahulukan kepentingan umum yang lebih besar adalah bagian upaya-upaya tak terpisahkan dari penegakan disiplin nasional.

Kekerasan social (violence) yang merebak dimana-dimana selain karena dipicu oleh ketidak adilan social dan ketimpangan struktur, namun andil masyrakat luas yang tak berdisiplin dalam membina rukun warga dan tetangga juga tidak dapat diabaikan.

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Barangkali kita yang hadir disini sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu pilar harapan yang dapat dijadikan parameter maju mundurnya bangsa ini pada saat sekarang lebih-lebih  dimasa yang akan datang.

Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa “jika seseorang menginginkan akhirat, maka cara memperolehnya dengan ilmu pengetahuan; jika seseorang menginginkan dunia, maka cara memperolehnya juga dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan keduanya, ia juga harus memperolehnya dengan ilmu pengetahuan”.

Peran pendidikan dalam setiap jenjangnya, dan lebih-lebih di perguruan tinggi adfalah cukup sentral. Disinilah tugas-tugasbangsa disesuaikan, dididik dan diberi bekal ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalan-persoalan akut dan kompkleks di depan.

Ketekunan civitas akademika para dosen dan mahasiswa untuk bersama-sama mengembangkan diri terus-menerus perlu didorong dan dikembangkan. Disini disiplin, etos kerja, etos belajar dan kesediaan berkorban ditanamkan.

Dan itu semua dimulai dari kesungguhan, keseriusan, keterpanggilan, kerelaan untuk berkorban, meluangkan waktu untuk membaca, belajar, meneliti, menulis, mengujicobakan teori, berlatih memimpin, mengisi dan mengikuti kuliah, berdiskusi, berseminar dengan sungguh-sungguh, mencintai perpustakaan, menguasai bahasa asing, menjaring kerjasama(networking) adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari upaya menaikkan upaya citra diri, keluarga, citra bangsa dan Negara.

Kesemuanya itu perlu etoskerja dan etos keilmuan yang tinggi ditopang kultur akademik yang kondusif. Ujung-ujungnya sekali lagi diperlukan kesediaan berkorban dan pengorbanan dari civitas akademika baik dosen, mahasiswa dan karyawan.

Mengakhiri renungan Idul Khutbah Idul Adha pagi ini, marilah kita ikuti jejek pengorbanan Nabi Ismail As. Marilah kita kontekskan pengorbanan Nabi Ismail  dengan persoalan kehidupan kita, hadapi masing-masing, baik sebagai anggota masyarakat, pemimpin masyarakat, sebagai dosen, mahasiswa, dan begitu seterusnya.

Marilah kita gelorakan “Semangat Berkorban” dalam setiap langkah derap kehidupan kita, untuk meraih cita-cita besar, kematangan pribadi, kejayaan bangsa dan kekokohan Negara. Kita tegakkan disiplin nasional, kita perkuat etos kerja dan kita rabuk etos keilmuan, kita kedepankan dedikasi yang prima dalam segala aspek kehidupan untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan bangsa kita Selama ini dan mengukir peradaban baru dimasa depan.

Semoga datangnya tahun baru 2006 menghembuskan angin segar, dan memberikan harapan baru yang menggembirakan bagi kehidupan rakyat banyak sehingga kita kita semua dapat menatap masa depan dengan penuh percaya diri. Amin Ya Robbal’alamin.

 

Sebagi penutup marilah kita panjatkan doa bersama kehadirat Allah SWT.

Ya Allah peliharalah persaudaraan kami sesame ummat islam. Sesama penganut berbagai agama dan sesame bangsa Indonesia. Bimbinglah kami kejalanMu yang benar, jalan persatuan dan bukan jalan perpecahan, ampunilah segala dosa kami dan dosa kedua orangtua kami serta dosa para penghulu bangsa kami, karena Engkau Maha Pengampun.

`Ya Allah Ya Tuhan kami, jadikanlah Negara dan negeri kami Indonesia ini Negara dan negeri yang aman, adil, dan makmur sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Jadikanlah para warga yang hidup di dalamnya selalu bersungguh-sungguh dan bekerja keras membangun kesejahteraan masyarakatnya, serta dalam wktu yang sama tiada putus-putusnya menyembahMu dengan tulus dengan mempedomani nilai-nilai moral yang luhur yang Engkau ajarkan melalui nabiMu kepada kami.

Ya Allah ya Tuhan kami, kami menyadari bahwa apapun kedudukan kami di dunia ini, kami adalah makhluk yang lemah, apalagi jika dibandingkan dengan kekuasaanMu. Kami serinh alpa, bahkan secara sengaja melanggar garis batas ajarabMu, karena itu ingatkanlah kami, Tunjukilah kami jalan yang Engkau ridhoi, kemudian berikan kami daya dan kemapuan berupaya kembali menggapai petunjukMu dan ampunanMu.

Berikanlah kepada kami sebagian kudratMu agar kami mempunyai kebulatan niat untuk menjadikan hari agung Idul Adha ini sebagai titik pangkal baru dalam membenahi kehidupan kami, kehidupan perorangan kami, menegakkan keadilan dan hukum, serta memberantas segala bentuk korupsi,kolusi dan nepotisme sebagai sumber ketidak adilan social yang sedang melanda negeri kami.

Disampaikan Prof. Dr. Amin Abdullah pada Idul Adha 1426 H

 

PIDATO IDUL ADHA

MEMAKNAI HIKMAH IDUL QURBAN DAN HAJI

Oleh: Dr. H. Ahmad Abdul Syakur, M.A.

            Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan Allah

Kalau pada idul fitri,kita umat islam disunahkan bertakbir dan bertahmid selama satu hari satu malam sejak terbitnya hilal tanggal 1 syawal pada setiap tahunnya, maka pada Idul Adha takbir dan tahmid tersebut disunahkan sejak malam Ied sampai berakhirnya hari tasyrik tanggal 13 Dzul Hijjah pada setiap tahunnya pula.

Ini berarti bahwa masa disunahkan bertakbir dan bertahmid pada idul adha lebih lama bila dibandingkan dengan masa bertakbir dan bertahmid pada Idul Fitri. Namun terlepas dari itu, kakbir dan tahmid merupakan sebagian dari tanda-tanda kesyukuran kita akan nikmat Allah swt yang telah dianugrahkan kapada kita semua, dalam jumlah yang tak terhitung karena banyaknya, Allah swt berfirman :

Dan Dialah (Allah) memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat ( yang diberikanNya kepada mu ), kamu takkan bisa menghitungnya, manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat (Allah tersebut). (Q.S. Ibrahim (14):34)

Allahu akbar Allahu akbar lailaha illallah Allahu akbar walillahilhamd

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudara yang berbahagia

Dalam kaitannya dengan Iedul Adha ini, paling tidak ada dua pristiwa penting yang perlu kita perhatikan, yaitu peristiwa Nahr atau Udlhiyyah yang selama ini kita kenal dengan islilah Qurban, dan pristiwa Haji yang kini sedang dikerjakan oleh saudara-saudara kita yang mampu dan berkesempatan untuk itu.

Mengenai Nahr atau Udlhiyyah yang sering kita sebut sebagai Qurban tersebut, pada mulanya berkisah dari Nabi Ibrahim as, yang diperintahkan oleh Allah swt untuk menyembelih putra satu-satunya yang sangat dicuntainya, yaitu Imail as. Nabi Ibrahim barsabda kepada puteranya Ismail sebagaimana yang difirmankan oleh Allah  dalam Alquran :

Maka tatkala (Ismail) mencapai umur dewasa (sanggup berusaha bersama ayahnya Ibrahim), berkatalah sang ayah : Wahai ananda (Ismail), sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku (diperintah Allah) menyembelihmu, maka fikirkanlah, apa pendapatmu? Ia (Ismail) menjawab : Hai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah)kepadamu, Insya Allah, ayahanda akan mendapatkan ananda termasuk orang –orang yang bersabar. (Q.S. AsShaffat (37):102).

Hadirin dan Hadirat yang berbahagia.

Kisah tersebut menggambarkan kepada kita sekalian, bahwa Ibrahim di uji oleh Tuhan dengan memerintahkannya menyembelih  puteranya sendiri. Dan ia sanggup untuk itu.vbayangkan, betapa besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim yang sanggup menyembelih putera satu-satunya yang ia miliki setelah kurang lebih 80 tahun lamanya memohon dan berdoa agar mempunyai putera.

Hati manusia mana yang sanggup dan tega berkorban dangan menyembelihputera mungil yang sangat dicintainya itu, kalau bukan Ibrahim yang cintanya kepada Allah jelas melebihi cintanya kepada puteranya sendiri?

Sementara itu , putera manapulakah yang sanggup berkoraban dengan cara disembelih dengan ayahandanya sendiri kalau bukan Ismail yang cintanya kepada Allah jelas pula telah melebihi cintanya kepada ayahnya sendiri?

Memang, perintah Allah kepada Ibrahim agar menyembelih puteranya Ismail betul-betul diterapkan dengan tawakkal dan penuh keikhlasan. Namu, karena perintah tersebut tampaknya bukan perintah dalam arti yang sesungguhnya, akan tetapi bersifat cobaan dan ujian terhadap Ibrahim selaku habibullah atau kekasih Allah, apakah ia benar-benar cinta dan taat kepada Allah selaku tuhan penciptanya, ataukah cinta dan ketaatannya itu palsu belaka.

Ketidakseriusan Allah Swt itu telah dibuktikan cara menggantikan Ismail yang akan digorok oleh ayahanda sendiri dengan domba besar, sebagaiman yang telah diceritakan oleh Allah dalam kitab suci Alquran :

Tatkala keduanya (Ibrahim dan Ismail) berserah diri dan Ibrahim membaringkan puteranya atas pelipisnya,(nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia, hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu (dengan membaringkan puteramu untuk kamu sembelih). Sesungguhnya yang demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus puteranya itu dengan sembelihan yang besar (berupa domba). (Q.S. As-Shaffat (37) :103-107)

Kisah yang nyata dalam sejarah perkembangan agama ini sungguh-sungguh merupakan pristiwa luar biasa, yang selanjutnya menjadi dasar dari syri’at agama yang menyangkut sunnah menyembelih binatang qurban setiap kali datangnya Iedul Adha.

Disyariatkannya menyembelih binatang qurban tersebut dikalangan umat Islam, bukanlah menunjukkan agar daging dan darahya dipersembahkan kepada Allah untuk mendapatkan ridhaNya, sebab Allah tak akan makan daging dan minum darah binatang yang disembelih itu.

Tetapi yang dibutuhkan Allah disini adalah bukti dari taqwa kita selaku hambaNya, dengan cara berqurban menyembelih binatang berupa kambing atau lembu, onta dan lain sebagainya untuk selanjutnya dibagikan dagingnya kepada fakir miskin dan siapa saja yang membutuhkan dengan penuh keikhlasan dan dengan tawadhu, bukan riya’ dan takkabur.

Hal ini tentu saja dalam rangka meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan yang diteruskan kepada kita oleh Nabi besar Muhammad saw Allah swwt berfirman:

Daging-daging unta dan lain-lainyang di sembelih berikut darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai ridha Allah akan tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Q.S. Al-Hajj (22):37).

        Sesungguhnya berqurban dalam arti yang luas tidaklah hanya bentuk penyembelihan binatang qurban saja akan tetapi lebih dari itu. Menginfakkan sebgian dari harta kita yang sebenarnya titipan Allah untuk membangun tempat ibadah, lembaga pendidikan, bersedaka kepada anak yati piatu, dan para fuqoro dan masakin, bahkan termasuk dalam hal ini membiayai diri atau keluarga dalam ibadah haji dan sebagainya adalah merupakan bagian dari pelaksaan qurban, dalam arti yang luas tersebut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

 

Ibu-ibu bapak-bapak dan saudara-saudara rahimakumullah,

Khusus yang menyangkut ibadah haji di tanah suci Mekkah, Shalat si Masjidil Haram tempat Ka’bah yang dibangun Nbi Ibrahim dan Ismail as, kemusian berjiarah kemesji nabawi di Madinah, pada hakekatnya merupakan realisasi dari qurban pendekatan diri pada Allah yang di lakukan oleh seorang muslim atau muslimah yang mampu untuk itu.

Betapa tidak lihat biaya-biaya yang dikeluarkan yang di antaranya berupa hasil tabungan yang di lakukan dalam waktu yang panjang, demikian besar, demi persiapan pelakksanaan ibadah haji yang sebenarnya berlangsung sekitar lima atau enam hari saja.

Di  samping itu bekorban meninggalkan putra-putri atau siapa saja yang disayangi dirumah dan kampung halaman, serta kepayahan dan kelemahan yang diderita karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan, terutama dikalangan mereka tempat pondokannya relatif jauh dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Benar-benar merupakan pengobanan besar  yang dilakukan oleh mereka yang menunaikan ibada haji. Pantas kalau mereka dengan keikhlasan yang dimiliki dan taqwa semngkin meningkat, mereka dijanjikan oleh Nabi akan mendapatkan Haji Mabrur, yang balasannya yang tak lain dan tak bukan surga jannatunna’im yang penuh kenikmatan abadi yang tak ada akhirnya pada hari kiamat nanti.

Untuk mereka kita memohon dan berdo’a kehadrat Allah swt semoga mereka tetap segar dalam beribadah lillahi ta’ala dan selanjutnya pulang ke kampung halaman untuk berjumpa dengan keluarga, famili serta rekan-rekan dengan menggondol apa yang dikejar yaitu haji mabrur yaitu haji yang diterima Allah yang membawa perubahan bagi akhlak diri, sifat, ucapan dan perbuata dalam berbagai macamnya, sehingga mereka lebih bermanfaat sebelumnya bagi keluarga dan diri mereka, dan bagi bangsa dan negara.

Disamping itu kitapun memohon dan berdoa semoga pada saatnya nanti kita juga terpanggil untuk siap berqurban dengan menunaikan ibadah haji ketanah suci, serta mendapat petunjuk dan hidayah, sehingga kita dapat menerapkan nilai-nila yang tersembunyi di balik pelaksanaan tersebut, berupa peningkatan iman dan taqwa kita, serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa tanpa membedakan alira, golongan, suku dan organisasi, baik sosial kemasyarakatan ataupun sosila politik dsb. Amin yarabbal ‘alamin.

Akhirnya marilah kita akhiri ibadah kita dengan berdo’a sekhusyu’-khusyu’nya, dan dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti mengabulkan doa dan rintihan kita.

Disampaikan oleh Oleh: Dr. H. Ahmad Abdul Syakur, M.A. pada Idul Adha 1427 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *