Contoh Essai Masuk S2 UGM

19 views

Alat Hegemoni Demi Eksistensi:

Menakar Energi Positif dan Negatif Media Pemberitaan Berbasis Online dan Solusinya

Gambar Koran
pixabay.com/

Contoh Essai Masuk S2 UGM — Sejak tahun 2008 lalu, ada fenomena yang unik di Amerika Serikat. Beberapa media massa berbasis koran, ramai-ramai mengeluarkan edisi “end edition” alias edisi terakhir.

Konon mahalnya biaya produksi koran di sana membuat produsen beralih untuk menggunakan basis online untuk meneruskan hidup mereka. Media pemberitaan berbasis online memberi keuntungan dan biaya produksi yang lebih banyak dan proporsional.

Padahal beberapa media massa tersebut bisa dibilang sangat masyhur di negari Paman Sam itu. The Washington Post misalnya, memiliki hati tersendiri di kalangan pembacanya. Bahkan usianya sangat tua untuk ukuran media massa (139 tahun, berdiri pada tahun 1877).

Reputasinya sebagai media besar di negeri Paman Sam tersebut sudah tidak dipertanyakan lagi. Namun pada tahun 2013, media tersebut sahamnya jatuh dan mengalihkan produksi beritanya ke media online yang dinilai lebih menguntungkan.

Perubahan paradigma media massa di Amerika Serikat ini cukup menarik di tengah derasnya arus informasi yang menuntut cepat, akurat dan benar-benar informasinya dibutuhkan. Otomatis hanya ada dua bentuk media saja yang bisa mengakomodir keinginan pelanggannya.

Kalau tidak radio, apalagi kalau bukan media online itu sendiri. Keduanya memiliki fleksibilitas dan efisiensi dalam produksinya. Tidak salah apabila sekarang banyak perusahaan media yang besar dari TV atau koran, mengalihkan pandangannya pada media pemberitaan berbasis online.

Untungnya, media seperti The Washington Post hanya mengalihkan basis produksinya saja. Tidak sampai gulung tikar lalu ditutup total. Karena apabila ditutup total, sudah tentu pekerja media yang terkena dampaknya.

Hanya tentu saja hal ini cukup mengganggu reputasi dari The Washington Post sendiri yang besar bukan karena media online-nya. Otomatis reputasi mereka sebagai media besar akan sangat mungkin bergeser apabila minim dalam melakukan inovasi dan hanya berkutat untuk menyelamatkan nama besar mereka.

Bak Jamur di Segala Musim

Gambar Koran Lama
pixabay.com

Bagaimana dengan media pemberitaan di tanah air kita? Bisa dikatakan media seperti koran masih banyak peminatnya. Bahkan di wilayah perkotaan ataupun kawasan terpencil, muncul koran-koran baru yang hadir dengan perspektif yang makin beragam. Bahkan mulai menyaingi koran-koran besar atau koran dengan skala nasional.

Namun Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah pengakses internet salah satu yang terbesar di dunia. Bahkan media sosial populer seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya “dikuasai” pengakses dari tanah air tercinta ini.

Jumlah pengakses internet di Indonesia yang mencapai kisaran 82 juta orang menurut data Kementrian Komunikasi dan Informasi (2015), membuat media pemberitaan yang sudah ada mulai melirik pasar ini. Ini belum termasuk media pemberitaan baru yang masih dalam taraf mencari nama. Potensi inilah yang coba dimanfaatkan beberapa media pemberitaan yang besar berkat televisi maupun koran. Mereka akhirnya terjun di pemberitaan berbasis online.

Tidak hanya media besar saja yang mengambil keuntungan. Banyak sebenarnya pemain baru dalam bisnis berita online ini. Nama media pemberitaan berbasis online yang diklaim tertua di Indonesia adalah Detik.com.

Mereka memang bisa dikatakan punya pengalaman dalam pemberitaan online. Sekalipun mereka juga sudah memiliki stasiun televisi berbasis digital (Detik TV), namun justru saluran televisi tersebut lahir belakangan. Terbalik dengan Kompas.com yang besar berkat korannya, atau Liputan6.com yang besar karena program acara beritanya di SCTV.

Uniknya, stigma umum masyarakat yang melekat terhadap media yang dibesarkan dari koran atau TV tersebut, ternyata juga masih melekat kuat. Media berita online Republika Online misalnya, selalu dikaitkan dengan basis massa Islam.

Sebuah stigma yang tadinya melekat kuat pada setiap pemberitaan media ini dalam bentuk koran. Kompas.com mengalami hal yang sama dengan bentuk TV-nya, stigma pemberitaan di koran yang menyasar kalangan terdidik dan non Islam masih melekat kuat di berita online-nya.

Lalu detik.com yang banyak dikaitkan dengan basis akar rumput dan anak muda. Vivanews.com dari sisi politis cenderung ke arah partai tertentu karena faktor kepemilikannya.

Ini menandakan bahwa media pemberitaan online juga memiliki politik media yang serupa dengan politik media yang kita lihat di setiap pemberitaan. Malah jika melihat situasi dan kondisi saat ini, bisa dikatakan media pemberitaan online memiliki kekuatan tersendiri untuk menggiring opini massa.

Kejadian 4 November lalu misalnya, penulis sendiri mengalami traffic pemberitaan online yang bisa dikategorikan “panas” dan selalu di update tiap beberapa menit bahkan detik. Itu belum termasuk pesan singkat via WA atau BBM yang uniknya mereka mengopi halaman dari sebuah berita online.

Menariknya lagi, mereka membuat penafsiran terhadap berita yang muncul. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh media mainstream seperti TV atau Koran.

Adanya media berbasis online juga menguntungkan bagi para penulis pemula. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pengakses internet di Indonesia yang didominasi oleh anak muda. Para penulis pemula ini lebih banyak berbicara di media sosial. Sebagian kecil yang lain menulis di blog, website maupun forum.

Konsep yang “Merangsang”

Booming-nya media pemberitaan berbasis online belakangan ini tentu tidak bisa lepas dari kebutuhan primer manusia, khususnya di Indonesia. Kita tahu bahwa segala hal mengenai gadget, mulai dari handphone, smartphone, tablet, notebook bahkan PC sekalipun sudah menjadi bagian gaya hidup.

Gaya hidup ini sekarang sudah jadi kebutuhan yang mengikat. Ini bisa dibuktikan dengan hadirnya ponsel di kalangan pelajar dan anak-anak usia 6-12 tahun yang notabene adalah pelajar SD. Belum lagi kalangan remaja, usia dewasa maupun para pekerja yang membutuhkan mobilitas dalam pekerjaannya.

Melihat fakta itu, kebutuhan akan informasi berupa berita sangat penting untuk menunjang perkembangan dan pengetahuan mereka mengenai kejadian terkini. Adanya kebutuhan itu ditopang dengan berbagai alat komunikasi canggih, praktis dan fungsional. Sehingga saat ini kita bisa melihat bahwa media seperti televisi, koran dan radio memiliki sejumlah kelemahan yang mungkin perannya bisa saja bergeser atau berkurang.

Walaupun pemberitaan televisi dapat menyajikan suara dan gambar sekaligus, namun biaya produksinya terbilang mahal. Hanya pemodal besar saja yang bisa masuk area ini. Memang, di tanah air terdapat stasiun televisi swasta yang fokus pada konten pemberitaannya seperti Metro TV atau TVOne.

Namun sekalipun mencerdaskan, motif politik media kedua stasiun televisi tersebut menjadi tidak menarik di kalangan akar rumput yang lebih menghendaki stasiun TV yang kontennya bersifat hiburan. Reputasinya sebagai TV berita tidak lebih dari sekedar jargon untuk menutupi reputasinya yang lebih tepat penyebutannya; TV politis.

Berita Koran atau majalah memiliki sejumlah keunggulan terutama untuk mengedukasi masyarakat. Mengingat koran memancing orang untuk membaca, sehingga informasi yang ada bisa diserap masyarakat dan masyarakat bisa belajar banyak dengan mengembangkan berbagai perspektif.

Namun Koran juga memiliki kesan tidak praktis karena faktor penggunaan kertas yang besar dan cukup tebal. Sehingga bagi orang yang menginginkan berita yang cepat dan berisi hal semacam ini jadi kendala utama.

Untuk saat ini, dari segi teknis produksi dan penggemar mungkin media pemberitaan online hanya bisa disaingi oleh Radio. Sebagaimana berita online, pemberitaan di Radio memiliki kecepatan dalam pembuatan beritanya.

Terutama isi berita radio tidak membutuhkan kalimat yang rumit dan panjang. Selain itu radio bisa dijangkau juga hanya dengan gadget, walaupun harus menggunakan headset untuk sekedar mendengarkan saluran radio yang disukai. Terlebih radio punya penggemar setia dari segala usia dan segmentasi tertentu seperti komunitas, anak muda, keluarga kecil dan orang lanjut usia.

Namun radio bukanlah media yang bisa dijangkau secara nasional dengan mudah. Karena sistem radio di Indonesia bersifat lokal kedaerahan.

Alasan lain yang cukup mengganggu perkembangan radio adalah keharusan penggemarnya untuk membawa antena atau headset sebagai penerima sinyal. Mungkin kedengarannya sepele, namun tentu saja tidak ada orang yang mau susah atau “ribet” dengan barang bawaannya.

Kebutuhan arus informasi secepat dan sepraktis radio, namun mengedukasi pembacanya seperti koran dan penyampaian fakta objektif layaknya televisi inilah yang membuat berita online memiliki keunggulan.

Hanya dengan alat komunikasi terkini seperti smartphone saja sudah cukup untuk mengakses berita yang ada, dari manapun dan kapan pun. Dapat diakses 24 jam dan diperbaharui setiap hitungan menit dan detik menjadikan berita online dapat menjadi magnet tersendiri.

Konsep utama berita online sendiri lebih mendekati koran atau majalah. Karena sama-sama mengandalkan teks sebagai pengantar berita. Namun dalam pengemasannya tidaklah serumit koran yang membutuhkan penjelasan panjang lebar.

Sebagai gambaran, jika di koran estimasi kata yang dibutuhkan bisa mencapai 300 sampai 500 kata, maka berita online hanya membutuhkan 100 sampai 300 kata saja. Lengkap dengan gambar terkait sebagaimana koran, namun juga bisa disisipi video layaknya TV.

Satu kelebihan lainnya dari berita online adalah kebebasan untuk mengomentari berita yang tersaji. Memang selama ini radio dan televisi masih memungkinkan siapa saja untuk berkomentar seperti acara Editorial Media Indonesia (Metro TV) atau harian Kompas Pagi (Kompas TV).

Namun tetap saja memiliki keterbatasan karena tidak semua orang bisa “menembus” redaksi dan berkomentar secara langsung. Sedangkan media pemberitaan online memiliki kolom khusus untuk menampung semua komentar dari siapa pun.

Satu hal yang menarik adalah kita bisa melihat secara langsung berita yang tengah hangat atau populer dengan hanya melihat jumlah komentar terbanyak dalam beberapa berita.

Beberapa media online di tanah air juga mengembangkan berbagai konsep untuk menaikkan jumlah traffic pembacanya. Traffic pembaca adalah hidup dan mati media pemberitaan online. Karena selain mengandalkan pendapatan dari iklan, media online juga menggantungkan penghasilan dari pengelola jasa web yang ditentukan dengan adanya traffic.

Sebagai gambaran, Detik.com memiliki sekitar 600.000 visitor tiap hari. Satu halaman web yang yang diakses sekali bernilai $0,01 (server Indonesia, data saya dapatkan karena saya berkecimpung pada penulisan dunia maya). Jadi normalnya keuntungan per harinya ditaksir bisa mencapai $6000 atau 60 juta rupiah hanya dengan mengandalkan traffic.

Itu belum termasuk jika harga per website-nya terus meningkat (jika pengunjung website-nya meningkat, meningkat  pula harga halamannya) dan iklan yang tentu saja bisa menarik pendapatan yang lebih menguntungkan. Maka tidak heran media pemberitaan online saat ini di setiap halamannya disuguhi iklan dengan gambar besar maupun kecil.

Untuk berita yang panjang, biasanya media pemberitaan online akan membuat semacam tautan langsung ke halaman selanjutnya layaknya kata “bersambung pada halaman…” yang seperti kita temui pada koran. Namun konsepnya terdapat perbedaan antara satu media pemberitaan online dengan yang lainnya.

Detik.com lebih suka membuat halaman review berindeks (halaman 1-2-3 dipisahkan dengan tautan bernomor). Sedangkan pada Kompas.com dan Liputan6.com halaman yang panjang hanya tinggal diteruskan tanpa harus membuat indeks baru seperti Detik.com. Kompas.com sendiri membuat sebuah opsi “Show All” sehingga tanpa perlu pengurutan nomor. Pembaca dapat membaca berita keseluruhan tanpa harus mengklik lebih dari dua kali.

Satu konsep yang baru dikembangkan oleh beberapa media pemberitaan online adalah adanya tanggapan atau respons pembaca berupa kode smiley. Konsep ini sebenarnya lahir dari konsep “like” atau “suka” yang sudah ada di media sosial seperti Facebook. Konsep ini memungkinkan pembaca untuk menunjukkan respon terhadap suatu berita. Detik.com dan Liputan6.com adalah dua media yang mempunyai konsep ini.

Namun terdapat juga maksud tersembunyi sekaligus menguntungkan dalam konsep-konsep semacam ini. Tentu saja yang dimaksud adalah untuk menaikkan traffic kunjungan. Jadi seolah pembaca dirangsang untuk berkomentar dan menanggapi berita secara lebih praktis dan menguntungkan bagi media. Sekaligus menjadi ajang perdebatan tentang suatu berita atau fakta yang disajikan, serta tanpa batasan komentar tertentu.

Alat Hegemoni dan Solusi Mengatasi Energi Negatifnya

Koran Online
pixabay.com

Dari sejumlah kelebihan dan keuntungan media pemberitaan online yang ada, muncul beberapa pertanyaan terkait. Mungkinkah media pemberitaan online menjadi sebuah alat penguasa atau pihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi massa dengan segala kemampuannya itu?

Kalau memang bisa menjadi alat untuk mempengaruhi massa, apakah media pemberitaan online juga memiliki pengaruh yang benar-benar kuat dengan segala konsep yang diusungnya

Untuk saat ini, pertanyaan itu sulit untuk dijawab. Terlebih rata-rata media pemberitaan online di Indonesia masih berumur jagung. Tidak seperti koran atau televisi yang jelas-jelas “tua” dari segi reputasi maupun politik medianya. Pengaruh dan eksistensinya juga tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ibarat anak kecil yang sedang belajar merambat, media pemberitaan online sejatinya masih mencari bentuk. Rata-rata media online masih bersifat pelengkap saja dalam pemanfaatannya. Tercatat hanya Detik.com yang bisa dikatakan besar dan murni dari usaha pemberitaan online-nya.

Namun, jika kita berbicara mengenai anak muda dan usia produktif (18-40 tahun) nampaknya media pemberitaan online bisa dikatakan mulai berbicara.

Sedikit banyak mulai banyak pengaruh media pemberitaan online yang bisa menggerakkan massa atau bahkan “meracuni” massa. Adanya media sosial yang mendukung, tak jarang berita online disebarkan untuk memperkuat argumen subjektif penyebarnya.

Implikasinya mulai ada semacam perang perspektif dengan menggunakan berita online sebagai dasar untuk memperkuat argumen dan berita online mulai menjadi patokan dalam berpendapat.

Saya katakan “meracuni” karena ada beberapa media pemberitaan online yang terkadang tidak menggunakan etikanya dalam menulis berita. Munculnya pemberitaan yang tidak proporsional dan kelihatan dibuat-buat agar berita tersebut laku untuk dibaca.

Biasanya media pemberitaan online ini bisa dikatakan anti-mainstream sekaligus ekstrem. Media pemberitaan online yang sebelumnya tidak dikenal oleh siapapun. Bahkan kita tidak tahu siapa yang menggerakkan media pemberitaan online tersebut.

Ciri-ciri berita yang ditampilkan oleh media pemberitaan online ekstrem ini adalah isi pemberitaannya banyak mengandung opini atau “kepalsuan pernyataan” yang sering disebut Hoax di internet.

Bumbu kebencian sangat terasa dengan segala prasangka yang dilontarkan melalui berita. Anehnya tidak sedikit juga yang percaya bahwa berita tersebut benar. Lalu dengan mendasarkan berita hoax tersebut, akhirnya beberapa individu menyebarkannya lewat media sosial.

Hal ini tentu cukup mengganggu perspektif masyarakat. Internet sekarang ini sudah banyak dikritik karena dianggap tidak dapat memperluas perspektif masyarakat, namun justru menihilkannya. Terlebih dengan adanya pemberitaan online yang “ngaco” membuat masyarakat dikhawatirkan akan berpikir sempit dan bertindak sendiri.

UU ITE sendiri menurut saya pribadi masih kurang efektif dalam menalangi penyebaran berita seperti ini. Kekuatan hukumnya masih menjadi polemik lantaran banyak kasus serupa yang tersangkanya justru bukan dari pihak penyebar utama, melainkan orang yang ikut menyebarkannya saja yang justru terkena imbasnya. Belum pernah kita mendengar pemilik media pemberitaan online yang menyebarkan berita hoax tersebut ditahan atau diadili.

Tentu kita masih ingat tentang pemberitaan tentang Joko Widodo dan keluarganya yang disebut melakukan semacam ritual untuk memanggil Ratu Laut Selatan agar memenangkan pemilu presiden 2014 kemarin.

Berita ini pernah diangkat kisahnya di Mata Najwa edisi “Cerita Anak Presiden” yang pembicaranya merupakan dua anak Presiden RI, Kaesang Pangarep dan kakaknya, Gibran. Menurut keduanya berita tersebut tidak benar dan uniknya berita itu malah jadi bahan lelucon mereka.

Apakah mereka dirugikan? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena pemberitaan itu nama mereka jadi melambung. Tidak, karena berita tersebut jelas tidak benar adanya, bahkan ada kesan menyudutkan keduanya. Apabila berita itu lebih dipercaya oleh masyarakat tentu keduanya justru nantinya dinilai negatif oleh masyarakat.

Inilah energi positif maupun negatif yang diperlihatkan media pemberitaan online di Indonesia saat ini. Bukan hanya bersifat “merangsang” dan membuka perspektif di kalangan usia produktif di tanah air. Namun juga ditambah dengan faktor ketimpangan informasi yang terjadi.

Tidak adanya sensor atau filter tentang berita di internet turut menyumbang “kebohongan” atas nama media pemberitaan. Tentu apabila ini dibiarkan filosofi informasi sebagai penambah ilmu pengetahuan menjadi terbalik; membodohkan masyarakat dan mempersempit perspektif.

Media pemberitaan online telah menjadi alat untuk meraih keuntungan sekaligus sebagai jalan untuk meraih pengaruh masyarakat. Tujuannya pun jelas, agar media pemberitaan tersebut selalu eksis dan dapat mempengaruhi masyarakat terutama anak muda dengan cara yang kotor.

Maka tidak heran apabila saat ini banyak kalimat kebencian (hate speech) yang justru menyebar dari media pemberitaan, lalu mengakar ke media sosial melalui tautan berita yang ada. Anak muda yang hanya bisa mengakses tanpa filter dalam diri mereka bisa teracuni dan dibodohi berita-berita semacam ini.

Mungkin sudah saatnya kita melebarkan sayap apa yang disebut sebagai literasi media. Literasi media baru menyentuh level pertelevisian saja. Belum menyentuh media berjaringan yang tingkat penyebaran informasinya lebih luas dan lebih dinamis.

Tentu kita tidak ingin media pemberitaan online yang sejatinya bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan antar individu maupun kelompok, malah menjadi di kambing hitamkan sebagai sumber kebodohan dan kesempitan informasi yang kian marak terjadi serta dimanfaatkan sekelompok orang yang ingin berkuasa di negeri ini dengan cara yang tidak pantas.

Galeri untuk Contoh Essai Masuk S2 UGM

Hobinya mempelajari kehidupan dan belajar dari kehidupan... Hayoo bingung to??...,., :D