Bola Inspirasi dari Claudio Ranieri

  • Joseph Sebastian Nazareno Silaen
  • Lulusan dari Univeritas Negeri Yogyakarta, Jurusan sejarah
  • Menyukai Dunia Bola

Leicester City menjadi antithesis dari sepakbola modern, calon penguasa liga Inggris ini memulai kisah drama Cinderellaman. Dari permainan penyerangan aktratif dan penuh inovasi, kini menjadi serangan langsung.

Sebuah klub dari kota Leicester memulai musim dengan sedikit harapan manis

, “Moga-moga nasib kemarin tidak terulang”. Pada musim 2014-2015, klub berlambang rubah ini mengalami “mimpi buruk”. Berada lama di zona degradasi membuat mereka harus mencuri poin akhir untuk selamat.

Pada akhir musim, mereka selamat dan berada di urutan ke 14 di klasemen Liga Inggris. Seorang pemain Italia datang pada awal musim. Claudio Ranieri seorang tua yang memiliki pengalaman panjang kasta atas Eropa.

Kurang lebih 16 tahun lalu, Ranieri sempat tinggal di kota London untuk melatih Chelsea selama 4 tahun (2000-2004). Kini, dia mendiami kota yang tidak begitu besar. Namun demikian, prestasinyalah yang membuat pamor merubunginya.

Leicester City memulai permainan dengan kisah baru, mengandalkan bidak-bidak biasa seperti Vardy, Mahrez, Drinkwater, dan yang lain.  Pemain yang bisa dibilang biasa saja.

Di klub itu tidak ada bintang kelas atas, yang ada hanya Kasper Schimeichel yang sedikit mengingatkan masa-masa kejayaan Peter Schmeichel sang Kiper legenda Liga Inggris itu. Memasuki liga baru, siapa sangka dia mampu memberikan perubahan sebenarnya.

Permainan Leicester jauh dari gemerlap tiki-taka atau serangan aktraktif Tottenham Hotspur yang mempunyai pemain berkualitas. Menilik pemain “berkualitas” seperti Vardy, Okazaki, Mahrez, atau Huth yang memiliki cukup baik di mata catatan media.

Bahkan, terbukti ketika seseorang Kasper Schimeichel l yang nasibnya berbeda dengan ayahnya. Kisah kompetisi bahkan tidak  bisa diperdiksi dengan mengandalkan pemain bintang.

Kisah Claudio Ranieri yang Penuh Keinginan Belajar dan Totalitas

claudio ranieri pelatih sepakbola
sexybola.com

Claudio Ranieri memiliki catatan Curriculum Vitae sepanjang ia di daulat sebagai pelatih. Dia tidak memiliki prestasi yang banyak seperti Conte. Bahkan dia hanya mampu bertahan 1,5 hingga 2 Musim pada suatu tim.

Berbicara tentang tim yang ditangani Ranieri lebih dari 2 musim, hanya Chelsea yang pernah dilatih selama 4 tahun. Di kalangan media dan pelatih, sosok ini adalah pribadi yang suka buka-bukaan dengan pendapatnya.

Bahkan, saat melatih Roma dia pernah membela José Mourinho yang dituduh mendorong Sergio Ramos ketika mendapatkan kartu merah demi pemutihan dilaga El Clasico.

Perubahan taktik mulai berkembang, kita tidak sebatas lagi mengenai bagaimana taktik menyerang dan berbicara sistem permainan. Ranieri memiliki gayanya sendiri, melatih Roma dipertahankan dengan tetap mengisyaratkan serangan total, tapi mengingatkan pertahahan adalah kewajiban utama dalam mempertahankan gaya main.

Hasilnya, posisi Runner-up selisih satu poin di bawah Inter. Fenomena permainan ini sangat terlihat taktis nan elegan dalam bertahan dan menyerang. Memulai semuanya atas serangan balik, mencoba mencari celah dengan kemampuan berlari para pemain dan mencetak gol secara cepat.

Perubahan ini memang mengingatkan akan perpaduan kick and rush Liga Inggris dan Jurgen Pressing, belum lagi dengan perubahan taktik Italia dengan organisasi lapangan tengah yang mengandalkan kreativitas membuat perubahan yang membaik.

Hal ini belum ditambah Ranieri yang mempunyai cukup umur untuk mengenal inovasi-inovasi taktik baru, dengan mengamati berberapa hari, gaya melati Jurgen Kloop dalam melatih, mampu memberikan pemahaman baru seorang Ranieri.

Kekuatan Debu Ajaib untuk Leicester

ranieri claudio bola
beritasatu.com

Pada novel J.M. barrie, tentang dunia imajinasi pertarungan bajak laut dan ksatria anak, Peterpan. Ada sekian teman yang membantunya agak istimewa, seorang peri namanya Tinkerbell. Dia suka terbang mengikuti Peterpan, dia adalah peri yang sangat sayang dengan pahlwan ini.

Dengan memberikan bibit terbang, maka semua yang disentuhnya dapat melayang di udara. Ranieri terkenal suka berpindah klub, maka dia sering dijuluki Tinkerman karena perpindahan klub dan sifatnya yang agak keras kepala mengingatkan dengan tokoh ini.

Ranieri mulai mengais bahagia, bayangkan di liga 14 tahun lalu dia dipecat. Dia akan menjadi seorang juara. Kini, dia harus memiliki tugas berbeda sekali, dia harus mampu memberikan debu terbang untuk Vardy CS dengan tujuan terbang meraih piala.

Ranieri menunjukan setidaknya dia bisa angkat kepala tegak atas pencapaian kali ini. Kisahnya dengan Leicester menunjukan bahwa peta persaingan bukan hanya milik klub besar. Masyarakat Inggris tidak lagi memikirkan bahwa klub juara adalah klub yang memiliki belanja besar dan pelatih besar seperti klub macam Chelsea, Manchester City, Manchester United, memenangkan Liga.

Dalam suatu kondisi situasi akan terlihat berbeda. Pencapaian inilah yang dialami Ranieri dan Leicester musim ini, Ranieri menuju pujian setelah dahulu dipecat.  Leicester menunggu perayaan setelah musim berat yang lalu dilewatinya. Maka, tidak salah Jose Mourinho bergiliran membela dan memuji.

“Saat Pangeran William mengatakan dia ingin Leicester menang (Premier League), saya bukanlah siapa-siapa untuk mengatakan sesuatu. Saya pikir karir dia (Ranieri) layak untuk itu (gelar Premier League),” Ungkap Jose Mourinho.

 

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *