Calmness

Ketenangan adalah keinginan
pixabay.com

Maukah Anda, penulis beri tahu tentang sebuah hal yang lebih indah dari yang biasanya? Ia adalah ketenangan. Seberapun gaji Anda, namun bila Anda tidak tenang, Anda hanya akan diliputi rasa kepuasaan yang tak berhujung. Bila Anda memiliki kekasih yang cantik, namun tak bisa mengendalikannya tentu hanya akan membuat  Anda menjadi hilang arah. Dan bila-bila lainnya tentang sifat keduniawiaan. Dunia tak akan ada habisnya!

Sewaktu masih remaja, gelora untuk memiliki semua yang ada di dunia seakan berlaku. Bukan hanya soal materi, bahkan yang bersifat masa depan pun seakan semua ingin diraih. Renungkan saja msaa lalu kita, cita-cita paling besar mungkin ada yang menjadi seorang presiden Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ada pula yang ingin menjadi pengusaha mendirikan berbagai perusahaan dan lain sebagainya.

Dalam hal beragama, tak jarang seseorang ingin melakukan semua yang diperintahkan oleh-Nya. Sampai-sampai kebutuhan untuk istri, anak ataupun kebutuhan orang lain tidak terbantu oleh kita. Bahkan kita berdalih menutupi jubah kemalasan kita dengan mengatakan “Saya memilih beribadah saja”.

Masa saat-saat itu sungguh labil. Semua ibadah serasa ingin dijalankan. Puasa, sholat malam, bersedekah sebanyak-banyaknya dan lain sebagainya. Namun, 1 atau dua minggu kemudian amalan itu berhenti  tanpa bekas. Masa-masa itu kita belum tahu hakikat amal yang sesungguhnya. Bukankah Rosulullah  mengajarkan kita akan amalan yang berkepanjangan? (Baca juga mengenai Ibadah Jangan Dijadikan alasan untuk Malas).

Dalam hal berilmu misalnya, bukankah di negeri ini sudah banyak mahasiswa yang salah memilih jurusan? Bukan salah, istilahnya tak tahu mana jalan yang ditempuh. Rasanya lurus saja yang penting lakukan sesuai yang saat itu bisa. Nah statement “yang penting bisa” inilah menjadi momok bagi generasi linglung. Bagaimana bisa sampai bila tahu jalannya pun tidak? bukankah Rosulullah memberikan tauladan kepada kita pentingnya sebuah amalan yang berkualitas?

Terbukalah Hijab Ketenangan
Ketika hijab ketenangan telah terbuka, barulah kita sadar sekitar 20-an tahun lalu kita menghabiskan hidup dengan percobaan. Namun perlu disyukuri bila percobaan-percobaan tersebut membawa kepada cahaya kebenaran. Bila menuju ke kegelapan, moga-moga diri mampu mantafakurinya.

Mengingat masa-masa itu, Seakan diri ingin kembali dan berhati-hati menapaki jalan yang penuh onak duri dan bertahan dengan duri tersebut. Istilahnya, tak akan ada kenikmatan tanpa kesengsaraan. Seperti para sahabat terdahulu, mereka sengsara namun merasakan bahagia. Bukankah itu karunia rasa yang hanya bisa dirasakan bagi  mereka yang luar biasa?

Misal, dalam hal kekayaan tentu seseorang bila telah terbuka ketenangannya akan merasakan bahwa harta itu penting namun bukan membuat sesuatu menjadi penting. Harta adalah kebutuhan namun bukan karena kebutuhan ia butuh. Ia hanyalah sebagai perantara. Di antara kebutuhan tersebut, hendaklah seseorang menjadi sadar bahwa harta pangkat di bawah kita. Kitalah yang mengendalikan dan melepaskan harta. Bukan kita yang menjadi budak harta dan harta atau pangkat membuat kita  lebih hormat.

Dalam berilmu, pernah salah seorang guru saya berkata; ketenangan adalah kunci masuknya ilmu. Anda tenang, maka Anda akan menguasai ilmu. Berbeda dengan ilmu yang diburu terburu-buru nan tergesa-sa. Anda hanya akan menjumpai keputusan yang bernalar rendah. Alih-alih membawa kesejahteraan, yang ada hanya kesalahpahaman. Bukankah ilmu itu bijaksana?

Dari paparan di atas, penulis menyimpulkan satu kesan jawaban; berhentilah menginginkan. Keinginan hanya akan membuat seseorang untuk memiliki. Rasa memiliki inilah yang akan mengatur dan memperbudak diri Anda merasa tinggi dengan harta, bukan merasa tinggi dengan keimanan.

Ya, kita bekerja keras namun tak menginginkan.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surge-ku. (QS al Fajr {89}: 27-30).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *