Berguguran

Ada batu kerikil yang mengisi ruang otakku. Bebal! Membuatku berat mengangkatnya pulang. Kutelan pahit berkali-kali. Aku hendak membela diri, sayang, nasibku justru malang tersudutkan oleh perbuatan yang telah kuulang. Maka, sebelum batin ini didengarkan, aku sudah menjadi tersangka utama.

Menangis? Sudahlah, tak ada penyelesaiaan memuarakan airmata di dagu. Biarlah Tuhan yang mengatur perjalanan langkah otak bebalku. Sungguhkah bebal? Aku tidak mengerti mengapa diri ini menganggap seperti itu. Mungkinkah, ada separuh ingatan yang dicuri malam?

Kantuk dan kesadaranku tak ubah perbandingan lautan dengan daratan. Banyak lautan! Banyak kantuknya. Tak khayal, aku sering kehilangan kosentrasi. Jika sudah, aku limbung. Tatapan sangsi kawan akan membuatku tersungkur dalam penjara deruji pengasingan. Mengigil ragaku di penghujung waktu. Mungkinkah waktuku berujung?

Berjam-jam lamanya kepalaku menderita. Lensaku tak mampu mencahayakan suasana. Nyawa alam yang ceria dalam pandangan umum, tetap gelap di mataku. Aku terduduk layu di meja kantor. Mencoret-coret kertas bekas. Tumpukan file di sisi kepala tak kuhiraukan. Aku lelah, hendak rebah. Kuabaikan ajakan teman-teman untuk pulang. Kepala kusandarkan di atas meja. ‘Kenapa selalu aku? Bukankah sebelumnya aku sudah menunjukkan tugasnya? Meminta persetujuan? Apakah seperti ini?’

Acuh tak acuh ditanggapi. Ya! Ya seperti itu! Aku menyungging. Bersemangat melanjutkan tugas. Membuat E-billing pajak lembaga. Lari ke kantor pos terdekat membayarkannya. Ini untuk pertama kalinya aku membayar pajak secara online.

‘Bisa?’  Aku mengangguk. Ucapan terimakasih diluncurkan.

Pada hari selanjutnya, saat aku duduk dengan tenang. ‘Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Sebuah kalimat mengobrak-abrik perasaan damai di hatiku.

Kawan, kau tak pernah melupakan pekerjaanku bukan? Aku terperangkap dalam dunia kanak-kanak. Masih sampai detik ini. Ia menjadi takdir hidupku. Terkadang duduk melingkar di kelas bersama anak-anak. Terkadang juga sibuk membuat surat di kantor. Lebih sering duduk terpaku di hadapan layar laptop, menginput dan output data lembaga sekolah. Baik TK (Taman Kanak-kanak) maupun KB (Kelompok Bermain). Yah, aku masuk ke dua dunia tersebut.

Dan hari itu, aku mendapat perintah untuk membayarkan pajak secara online. Aku meregristasikan salah satu lembaga sebagai bahan percobaan. Meminta persetujuan di sisi bendahara, bahkan ia melihat dengan mata kepala sendiri aku membuatnya. Aku memasukkan nomor NPWP TK. Jelas yang kubuat terlebih dahulu adalah TK.

‘Seperti inikah?’ Ia mengangguk. Aku menunjukkan layar laptopku ke hadapannya. Lantas disuruh memasukkan besaran juga jenis pajaknya. Kukerjakan taat. Kelar! Kucetak ID billingnya. Kutunjukkan kepada kepala sekolah, ia jauh lebih berwenang. Barangkali ada yang salah. ‘Apa seperti ini?’ Dicek sebentar. Dibaca sekilas, lantas diletakkan di atas tumpukan file. ‘Ya. Ya seperti ini, bayar saja ke kantor pos!’

 ‘Sudah benar?’

 ‘Ya!’

***

Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Tanya bendahara. Aku mengantisipasi akan ada masalah besar. Mendadak seperti ada paku yang menghantam kepalaku. Membuat kabur pandangan. Jantungku berdetak tak keruan. Leher hendak kugelengkan, namun aku tak memiliki keberanian cukup. Tertenggak air liur, g.e.t.i.r.

Kalimat itu tak perlu ditanyakan, ia sudah mengetahui jawabannya. Di hari sebelumnya ia mencariku, memerintahkanku membuat kode e-billing tanpa menyebutkan TK atau KB. Instruksi yang kurang jelas. Aku meminta NPWP diberikan dua lembaga. Tidak memberitahuku manakah lembaga yang harus dibayarkan pajak.

Suaraku mendesis. ‘Tekha…’

‘Masya Allah! KB yang dipajaki itu!’

 Aku diam menunduk. Kutahu sekretaris, bendahara dan termasuk kepala sekolah mendengus jengkel, amat dekat dengan kata kecewa. Pandangan mereka sudah menyudutkanku. Aku tak berani mengelak jika aku s.a.l.a.h…….. Bukan! Lebih jelasnya aku disalahkan! Batinku menggigit pilu.

Denyut nadiku protes, ‘ketika regristrasi ia berada di sisiku, sebelum mengisi data yang akan dipajakkan aku bertanya, apakah seperti ini? Menunjukkan akun online-nya! Bahkan sebelum membayar ke kantor pos aku mengprint ID bilingnya! Kumintai kepala sekolah mengoreksinya, ‘seperti inikah? Benarkah begitu?’ Mereka belum meneliti langsung bereuforia dengan keberhasilan regristrasi.

‘Kemarin saya membuatnya TK, saya tidak tahu kalau ternyata itu pajak KB!’

‘NPWPnya sudah saya berikan semua!!!’           

Batinku menggumam memang. Tapi… sudah tak perlu kukata berulang! Jawabannya sudah tertuang. Mereka semua sedang tak membutuhkan alasan. Aku pasrah mendapat label prasangka, sungguh nasib malang.

Hari itu pula aku salah mengambil cap lembaga. Kurang berkosentrasi. Sekitar 150 surat kucap salah! Dalam poin ini aku mengakui salah! Aku semakin tersudutkan. Tak tahu cara tersenyum. Jelas kali ini aku salah! Aku kurang teliti. Semula paku yang menghantam, kini bebatuan besar yang mengamuk otakku. Sakit. Takut. Khawatir dengan ekspresi guru-guru lain. Pasrah! Aku sungguh salah.

 ‘Lain kali TELITI! Masak cap sampai salah? Bagaimana jika dibawa ke dinas!’ Aku diam menunduk. Memandangi kehijauan karpet yang kuinjak.

Meja dengan tumpukan file menatap sangsi. Etalase berisi dokumen-dokumen juga jengkel dengan tingkahku. Jam dinding kurasa ikut mengumpat dengan mengeraskan detakannya. Di luar kantor, gerimis mengusap alam pilu. Kabut bertenggger di atas bangunan, menggeleng iba, ikut merasakan pedih yang menjerat dada. Maka, hujan ragu-ragu, ia tak mau menambahkan derita saat perjalanan pulangku nanti.

Dan aku lupa cara pulang. Saat yang lain bersiap-siap melesat, meninggalkan sekolah, aku masih termenung menyesali perbuatan yang telah menjadi l.a.l.u. Aku tak berontak. Aku hanya kesal dengan diriku, mengapa aku tidak bertanya itu untuk lembaga apa, mengapa aku tidak meneliti capnya juga! Mengapa dan mengapa? Jiwaku menggerutu muram.

Sudah! Jangan menyesal! Itu hanya akan membuatmu menderita! Pulanglah, istirahat, hadapi dengan lapang besok! Tegar, kau tak pernah menanggalkan senyummu di peraduan malam, Ra!’ Hati menasehati. Airmata justru menitik sendu. Aku terisak.

Pulang!’

 ‘Pulang!’ Waktu memerintah. Sekolah hening. Gerimis membalut sepi. Tak ada kicau anak-anak. Mereka telah duduk manis di pangkuan bunda di rumah masing-masing. ‘Pulang, Rara!’ Aku tunduk. Bangkit dari tempat duduk. Pulang.

Gerimis kubiarkan hinggap di tubuhku. Aku melangkah gontai. Kutelusuri gang kampung dengan raut wajah masam. Warga yang berpapasan denganku, tak kusapa. Payung warna-warni yang mereka bawa seolah mentertawakanku. Aku terlihat malang. SEDIH. Sangat sedih! Perasaanku terbujur pada ruangan hampa. Aku seperti menenggak seember perdu.

 ‘Anakku, wajahmu masam! Kenapa hujan-hujanan?’ Suara yang kukenal, sayang aku sedang malas menanggapi. Tak mau diganggu oleh siapa pun.

 ‘Kau tidak menyapa Nenek? Di mana senyummu?’ Aku mendengus. Kalimat ke dua menarik leherku.

 ‘Ya, Nek!’ Senyum yang sinis. Nenek yang sangat lihai memberi nasehat bekal kematian. Nenek yang di mataku unik dengan pekerjaannya menata sendal-sendal jepit jamaah. Ia duduk di beranda rumah bambunya. Kursi plastik bersandar di sisi pintu, bersama kekasihnya meja tua yang  sisinya sudah digerogoti rayap. Jemarinya menggenggam gelas dengan kopi yang mengepulkan asap.

Ia meletakkan kopi di atas meja, menghampiriku, membukakan pintu gerbang, yap pintu gerbang pagar bambu. Mawar yang hidup di halaman rumah menyapaku riang, senyum di kelopaknya sungguh memesona, merah kaya nilai keindahan. Tanaman hias lainnya berjajar rapi, bersih, tak ada gulma yang tumbuh liar. Hanya beberapa daun pohon kelengkeng berguguran diembus angin. Terbang landai sebelum tak berdaya di atas tanah. Disusul daun yang lainnya.

 ‘Kenapa murung?’ Aku menggeleng layu. Ia menarik lenganku, meyeretku masuk. Aku pasrah meski beberapa detik sempat terkesiap. ‘Duduklah, nenek buatkan kopi.’

 “Aku tidak minum kopi, Nek!”

“Teh manis?”

 Aku menggangguk. Setidaknya cairan itu dapat menghangatkan tubuhku yang dingin tak terasakan. Batinku membeku, jiwaku yang menggigil pun kulupakan. Luka yang tersemat di dada begitu dalam. Aku tak lagi mengurusi diriku yang lama diselimuti gerimis. Jilbabku menjadi sembab.

Bulir airmataku tersamarkan. Aku menyeka mata. Penglihatanku fokus pada pohon kelengkeng di halaman. Daunnya mengayumi rumah bambu ini. Jika cuaca mendukung, maka burung-burung bermalas-malasan di rangtingnya. Ada sangkar anak burung pula. Buahnya belum muncul, namun kehidupan ulat dan semut aktif berjalan. Tampak beberapa daun berlubang. Yang lain berjatuhan, warnanya tak lagi hijau, cokelat tanpa bernyawa.

Aku menyamakan persoalan yang barusaja melanda seperti dedaunan itu, gugur tak berdaya, meskipun semula aku berusaha menyejukkan alam sekitar dengan klorofilku, beberapa makhluk juga akan acuh dengan kebaikan tubuhku yang berusaha mengenyangkan pencernaannya. Pada akhirnya aku akan terbuang. Tak ada yang memungut. Hidupku berakhir. Bertambah kelu batinku. Napas sesak. Aku takut membayangkan esok. Cap salah! Membayar pajak salah!

Tentu wajah dan senyumku tak lagi menawan di pagi yang menggigil. Orang akan mewartakan kecerobohanku. Label bodoh menggerayangi akal pikirku. Penderitaan semakin kuat sebab sebelumnyaaku pun sering melakukan kesalahan dalam menulis surat, salah ketik! Ah, berita teraktual akan segera melesat! Besok tanggal terbitnya! Pada akhirnya daun itu akan dibuang ke tempat sampah. Menyedihkan. Hidup yang mengenaskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Tadi pagi kau tidak salat jamaah subuh?”

 Oh. Ia begitu memperhatikanku. Ya. Tadi pagi aku bangun terlambat. Tangannya pelan meletakkan segelas teh di meja. Uap masih mengepul. ‘Minumlah!’

‘Tidak ada apa-apa, Nek!’ Aku memaksa diriku untuk tersenyum. Kugapai gelasnya, kubelai dindingnya. Hangat. Nyaman. ‘Tadi pagi aku bangun terlambat, jadi tidak ke musola.’

“Hmmm… lantas mengapa waktu ini kau murung, Anakku?”

“TIDAK. Aku tersenyum.”

“Saya sudah paham dengan karaktermu juga pemuda-pemuda lain di kampung kita. Saya bisa membaca wajah mereka yang terbebani,” jelasnya. Aku meniup asap.

“Terkadang orang tidak meletakkan adil dalam tempatnya karena dirinya merasa sudah melakukan tindakan yang benar, maka seseorang yang salah semakin merasa bersalah.” Tuturku.

Aku menenggak teh. Tenggorokanku hangat. Sedikit lega perasaanku. Senja mulai mengintip di balik kabut. Gerimis belum usai. Mereka masih tertarik dengan mekarnya mawar di halaman. Menyerbuk di kelopaknya yang beraroma tentram. ‘Aku merasa seperti kehidupan akhir daun-daun kelengkeng itu, Nek!”

 “Sudah tidak dibutuhkan lagi oleh ulat, sudah tidak mampu memberikan kesegaran kepadaa alam, dan tak mampu bekerjasama dengan daun lain supaya membantu buah kelengkeng tumbuh.’ Pilu aku mengisahkan. Kembali kutenggak tehnya. Ada cairan yang hendak meluncur. Namun aku menahannya.

“Kamu salah mengartikan! Semakin banyak daun itu berguguran, semakin banyak daun muda yang akan tumbuh.”

“Ya karena dia tak lagi berguna, maka yang lain akan menduduki posisinya!’

 “Ia masih menjadi daun kelengkeng, yang menduduki juga tidak mungkin daun rambutan, dirinya yang mendudukinya, Anakku! Jangan berpikir bahwa daun itu adalah satu tubuh yang utuh, lihatlah!” Nenek mengarahkan pandanganku dengan telunjuknya. “Ia mempunyai batang pohon, mempunyai akar, tangkai, dahan, juga ratusan daun. Satu tubuh itu baru dinamakan pohon kelengkeng! Anggap saja daun yang gugur adalah persoalan hidup manusia.” Aku  tak merespon. Diam, menenggak minuman.

                “Satu daun gugur, satu daun akan tumbuh. Seratus daun gugur, seratus daun mempunyai kesempatan untuk tumbuh.”

 “Bagaimana jika semuanya gugur? Mengenaskan! Tinggal tulang! Tidak menarik!”

 “Jika ia hidup di tanah yang subur, maka daunnya akan tumbuh lagi, semakin indah, semakin hijau. Semakin berguna untuk kehidupan makhluk, burung-burung akan nyaman bersangkar di atasnya.”

 “Itu jika!’ Aku protes. ‘Daun gugur tetap daun gugur, saat ia jatuh ke tanah tetap tak akan menjadi berarti, disapu dibuang ke sampah, atau dikumpulkan dibusukkan menjadi pupuk kompas dengan daun-daun tanaman yang lain.” Aku merajuk.

 ‘Anakku, jangan berpikir hanya pada satu tahapan. Coba kau renungi sekali lagi, daun berguguran, ia memberi kesempatan daun lain untuk tumbuh, daun yang lebih hijau, yang masih muda, yang segar.. Itu artinya dengan masalah seseorang mempunyai kesempatan untuk menumbuhkan kebaikan di waktu yang lain.

Dalam arti ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, karena ia belajar dari pengalaman yang sesudahnya! Ditambah satu masalah lagi, dua kesempatan tidak salah, sepuluh masalah, maka sepuluh kesempatan, seratus masalah, seratus kesempatan memperbaiki masalah sebelumnya akan tumbuh.

Orang-orang hebat, atau pohon-pohon besar adalah pohon yang lebih sering menggugurkan daunnya, menyampahi halaman orang atau mengotori hutan-hutan. Begitu juga dengan nasib orang, tak ada orang yang hebat jika ia belum mempunyai berpuluh-puluh masalah, juga beribu-ribu persoalan!’ Nenek itu menjelaskan.

‘Tapi banyak yang mengumpat! Banyak yang berkata bahwa daun itu mengotori halaman, mereka mengusirnya!’

‘Tergantung siapa yang mengumpat! Nenek tidak pernah mengumpat, daun berguguran itu adalah keberuntungan, ia memberi kesempatan yang lain tumbuh, juga membuat tanaman yang lain subur saat bangkainya terurai menjadi pupuk dengan zat lain.’

‘Tapi banyak yang mengumpat! Tetangga kita!’

‘Karena satu orang mendukung apa yang kau lakukan lebih baik, daripada seribu orang yang mencelamu! Di dunia ini lebih banyakk orang tidak memahami daripada orang yang memahami, Anakku. Kau tahu bukan? Seseorang yang sedang  berjuang meraih apa yang ia inginkan akan mendapatkan masalah, dan sudah menjadi suratan takdir jika keinginannya kuat maka rintangannya berat, banyak yang memusuhi, sedikit yang mendukung! Ingat! Daun itu tetap berguna!’

‘Dan daun itu mati!’

‘TIDAK! Anakku, nenek sudah bilang, daun itu bukan tubuh yang utuh, ia disebut daun kelengkeng karena memiliki anggota yang lain. Ia gugur, maka yang lain tumbuh!’

Kalimat tumbuh diulang terus menerus. Ia menenggak kopi. Berdiri. Menarik tubuhku, mengajakku melangkah ke halaman. Gerimis masih bersemangat hinggap di bumi. Tak ia pedulikan rambutnya yang beruban dibutiri embun. ‘Perhatikan baik-baik pohon kelengkeng itu!’

Aku mendengus malas. ‘Coba perhatikan!’ Nenek menepuk bahuku. Akhirnya aku menurutinya. ‘Amati tubuhnya, ada ranting, batang, di dalamnya akar yang menguatkan, dahan-dahan kecil, daun-daun, kemudian bunga-bunga, barulah terakhir kelengkeng.’

‘Tapi pohon itu belum berbuah!’

                ‘Ya! Kau benar, namun ia masih tumbuh dan berjuang membuahkan dirinya. Itu sama dengan persoalan manusia, Anakku. Ada komponen lainnya yang membuat diri manusia itu menjadi utuh, ada kecerdasan, ada perasaan takut, ada lelah, ada cemas, ada khawatir, mengenaskan pada tahap akhir kegagalan.

Jika takut gugur mampu dihilangkan, maka keberanian akan tumbuh, jika khawatir gugur, keyakinan akan tumbuh, jika gagal berhasil digugurkan, maka kau tahu apa yang akan terjadi? KESUKSESAN memelukmu!’ Nenek berapi-api menjelaskan.

“Dalam arti jika gagal, pohon kelengkeng ini akan ditebang,” ketusku.

“Ya. Dia akan ditebang, tapi akan ada tunas-tunas yang tumbuh, lebih indah, berjuang dengan semangat ke dua, sebab akarnya masih menguatkan, ia memiliki arti hidupnya agar selalu tumbuh dan tumbuh, meski angin menghancurkan, panas melayukan, ia tetap akan tumbuh, sebab ia yakin suatu saat nanti akan ada musim penghujan seperti saat ini yang menggugurkan, barulah pada musim kemarau ia akan membuahkan kelengkeng yang manis,’

“Bertahun-tahun ia harus berjuang!”

“Karena tidak ada sukses yang instan, Anakku!” Aku kalah telak. “Jika kau berniat ingin menjadi orang yang berguna, maka jangan menyerah dengan kesalahanmu, jangan merasa orang lain tidak berbuat adil terhadapmu, tapi renungilah kesalahan itu sebagai pelajaran yang akan memuatmu lebih baik di kemudian hari.”

Aku menyeka airmata. Kali ini tak kuat menahan. Meluncur deras. “Jika takdir di hadapanmu akan menyukseskanmu, maka sejak sekarang kau akan diuji oleh berbagai masalah dan persoalan,”

“Aku kurang teliti dalam mengerjakan tugas di sekolah, Nek!”

“Tidak papa, lain kali kau akan lebih teliti.” Akhirnya aku menceritakan kesalahanku. Aku terisak.

“Sudah, jangan menyesalinya.”

“Tapi aku merasa bersalah, dan aku takut. Aku merasa tidak berguna.”

“Anakku, kau masih mempunyai kebaikan yang lain, kau memiliki kecerdasan lain, kau tetap dibutuhkan oleh kehidupan ini, juga kehidupan mereka, boleh kau merasa bersalah, namun jangan sampai rasa bersalah itu membuatmu layu. Ingatlah, semua makhluk termasuk pohon sekali pun ditakdirkan untuk memiliki kesempatan yang lebih baik, bagaimana denganmu yang justru diciptakan dengan adil, tentu Allah adalah dzat yang sudah mempertimbangkan sebab dan akibat sebelum kau diciptakan, Anakku!”

Bahuku berguncang. “Tersenyumlah esok nanti, jangan menangis lagi.”

Aku mengusap peluhku. Mencium tangan keriputnya. Pamit pulang. Gerimis masih abadi. Perasaanku terbelah menjasdi dua, antara sedih juga bersyukur diberi masalah. Nenek benar, aku masih mempunyai komponen lainnya. Dari permasalahan yang aku perbuat, aku mempunyai kesempatan agar ke depannya dapat lebih baik lagi.

Maka hari ini, aku tersenyum. Pagi mendung, hatiku tetap mendukung.

05 Jan 2017/05:00 WIB. Magelang.

Penulis lahir di Magelang, 16 Juli 1995. Aktivitas sehari-harinya diisi dengan menulis dan melamun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *