Berguguran

20 views

Ada batu kerikil yang mengisi ruang otakku. Bebal! Membuatku berat mengangkatnya pulang. Kutelan pahit berkali-kali. Aku hendak membela diri, sayang, nasibku justru malang tersudutkan oleh perbuatan yang telah kuulang. Maka, sebelum batin ini didengarkan, aku sudah menjadi tersangka utama.

Menangis? Sudahlah, tak ada penyelesaiaan memuarakan airmata di dagu. Biarlah Tuhan yang mengatur perjalanan langkah otak bebalku. Sungguhkah bebal? Aku tidak mengerti mengapa diri ini menganggap seperti itu. Mungkinkah, ada separuh ingatan yang dicuri malam?

Kantuk dan kesadaranku tak ubah perbandingan lautan dengan daratan. Banyak lautan! Banyak kantuknya. Tak khayal, aku sering kehilangan kosentrasi. Jika sudah, aku limbung. Tatapan sangsi kawan akan membuatku tersungkur dalam penjara deruji pengasingan. Mengigil ragaku di penghujung waktu. Mungkinkah waktuku berujung?

Berjam-jam lamanya kepalaku menderita. Lensaku tak mampu mencahayakan suasana. Nyawa alam yang ceria dalam pandangan umum, tetap gelap di mataku. Aku terduduk layu di meja kantor. Mencoret-coret kertas bekas. Tumpukan file di sisi kepala tak kuhiraukan. Aku lelah, hendak rebah. Kuabaikan ajakan teman-teman untuk pulang. Kepala kusandarkan di atas meja. ‘Kenapa selalu aku? Bukankah sebelumnya aku sudah menunjukkan tugasnya? Meminta persetujuan? Apakah seperti ini?’

Acuh tak acuh ditanggapi. Ya! Ya seperti itu! Aku menyungging. Bersemangat melanjutkan tugas. Membuat E-billing pajak lembaga. Lari ke kantor pos terdekat membayarkannya. Ini untuk pertama kalinya aku membayar pajak secara online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *