Rindu Bercandanya Rasulullah, Rindu Semua Akhlak Rasulullah Saw

BERCANDANYA RASULULLAH SAW-Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan penulis dengan salah satu tema yang akan membuat hati tenang nan menyejukkan. Ya, detik ini penulis merasa bahagia sebab sebentar lagi akan berbagi mengenai bagaimana candaan Rasulullah Saw.

Di bayangan Anda mungkin sama dengan bayangan penulis. Candaan Rasulullah adalah candaan yang jujur, lembut, penuh kasih sayang dan menyejukkan. Mengapa demikian, sebab candaan Rasulullah adalah candaan yang diajarkan langsung oleh Allah. Rasulullahlah yang di didik langsung oleh Allah.

Bercandanya Rasulullah bersama Abu Bakar, Usman, Umar bin Khattab dan Ali
last-prophet-of-god.blogspot.com

Rasulullah adalah nabi terakhir yang diemban Allah untuk menyempurnakan Akhlak. Hal ini seperti yang termaktub dalam sahih hadits;

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya Aku diutus sebagai penyempurna akhlak.” (HR. Bukhari)

Sebagai penyempurna akhlak, tentu saja Nabi Muhammad Saw dalam kehidupannya tidak terlepas dari aktivitas sebagai insan biasa. Rasulullah ya makan, tidur, berdagang dan juga Rasulullah bercanda seperti kita. Dalam sebuah riwayat dijelaskan;

Para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasaalam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda-gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallahu alaihi wassalam menjawab dengan sabdanya, “Benar, hanya saja Aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad).

Adapun contoh bercandanya Rasulullah adalah ketika beliau bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70).

Di dalam Alquran sendiri, mengenai hal ini juga di bahas di dalam surah An Najm ayat 43;

(وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى (٤٣

“dan sesungguhnya, Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,”

Dalam beberapa tafsir, pengertian tertawa adalah orang yang gembira. Begitu sebaliknya, menangis pertanda orang dalam kesedihan. Di antara dua perasaa itu tadi hanya Allah-lah yang menjadikan rasa itu. Allah juga yang menghendaki ia merasa gembira atau sedih.

Prof. Quraish Shihab juga mendukung pernyataan tersebut dengan memaparkan bahwa hanya Allah-lah yang dapat menjadikan manusia merasa sedih atau gembira. Dan Allah pulalah yang menciptakan faktor di antara dua perasaan tersebut.

Tentu saja dalam penciptaan mengenai seluruh apap-apa yang ada di langit dan bumi tidak ada yang sia-sia. Begitu pula dengan perasaan gembira (tertawa) dan menangis (sedih) semua ada pelajaran agung dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Rasulullah Bercanda

Bercanda sesuai Islam
islamghar.com

Hem… tentu Anda penasaran bagaimana Rosulullah bercanda bersama para sahabat. Berikut ini beberapa contoh ketika Nabi Muhammad Saw bercanda.

Biji Kurma dan Kulitnya

Suartu ketika, Rosulullah Saw bersama para sahabatnya sedang ifthor. Saat itu, hidangan puasa yang sediakan berupa kurma dan air putih. Dalam suasana hangat, ramah, serta menyejukkan itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul untuk bercanda.

Benar saja, Ali pun mengumpulkan kulit kurmanya dan meletakkannya di tempat kulit Rasulullah.

Dengan tersipu-sipu, Ali kemudian mengatakan kalau Rasulullah Saw sepertinya sangat lapar sebab kulit kurma yang ada di hadapan sang Rosul lebih banyak. Rasulullah Saw segera mengetahui bahwa Ali sedang iseng ingin bercanda, Rasulullah pun mengatakan dengan tenang kalau yang lebih lapar sebenarnya siapa? Sebab tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tidak tersisasama sekali (HR. Bukhari)

“Nah Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma, kerana aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya sedangkan engkau memakan kurma berikut biji-bijinya”. (Disarikan dari Sirah Nabi).

Maksud dari jawaban Rosulullah tersebut mengarah pada sahabat Ali yang sepertinya lebih lapar sebab Ali memakan kurma sampai kulit-kulitnya.

Penghuni Syurga Tidak Ada yang Tua

Suatu ketika seorang perempuan tua bertanya pada Rosulullah: “Ya Rosulullah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?”

Rasulullah Saw menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di syurga tidak ada perempuan tua”.

Lantas perempuan tua tersebut menangis mengenang nasib dirinya. Tak berapa lama setelah itu, Rasulullah Saw mengutip sebuah firman Allah dari surat Al Waqiah ayat 35-37.

“Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Riwayat At Tirmidzi, hadits Hasan).

Seketika mendengar kutipan ayat tersebut, nenek tua pun sujud syukur karena sebenarnya Nabi sedang bercanda. Begitulah candanya Nabi penuh hikmah.

Unta dan Anak Unta

Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata:

“Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.
Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah.
(Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih).

Mata yang Putih

Suatu hari, ketika Rasullullah SAW sedang beristirahat selepas pengajian datanglah seorang wanita tak dikenal. Rasul pun tersenyum ramah menyambutnya.
“Assalamu ‘alaikum wahai rasulullah ” wanita itu beruluk salam
“Wa’alaikum salam ” jawab Rasulullah
Wanita itu agak sungkan , Rasul tersenyum “Apa yang bisa saya bantu, ibu?” dengan ramah
“Begini wahai Rasullullah, suami saya mengundang tuan untuk datang ke rumah kami, apakah tuan berkenan hadir?”
Rasullullah mengernyitkan dahinya karena beliau merasa tidak mengenal suami si perempuan itu.
lalu dengan nada bercanda Rasullullah berujar “Ooo suami ibu yang dimatanya ada putih-putihnya itu kan..?”
“Bukan , Ya Rasul! Mata suami saya tidak ada putih2nya koq!!” Sergah wanita itu cepat.
“Ah masak? Benar koq pasti mata suami ibu ada putihnya”
“Demi Allah Ya Rasul, mata suami saya tidak ada putih-putihnya”.
Rupanya wanita itu tidak mengerti apa yang dimaksud “putih” di mata suaminya. Para sahabat yang duduk bersama Rasullullah menahan tawa ketika melihat reaksi spontan wanita itu. Akhirnya Rasullullah menjelaskan”Begini ibu, tidak ada orang normal di dunia ini yang tidak ada warna putih di matanya”
Barulah wanita itu mengerti. Rasulullah rupanya hanya bercanda.

Satu Batu VS Dua Batu

Pada saat perang Khandaq terjadi, Rasulullah dan para sahabatnya bekerja membangun parit (khandaq) untuk pertahanan kaum mukminin di Madinah. Pada saat mereka bekerja ada seorang sahabat yang merasa lapar dan haus sekali sampai-sampai dia mengganjal perutnya dengan sebuah batu.
Kemudian sahabat itu berkata kepada Rasulullah,”wahai Rasulullah saya sangat lapar sekali sehingga untuk mengurangi laparku aku mengganjalnya dengan sebuah batu”. Sambil berkata begitu sahabat tersebut membuka bajunya dan menunjukkan satu batu yang mengganjal perutnya.
Sambil tersenyum kemudian Rasulullah membuka perut bajunya dan terlihatlah oleh sahabat tadi ada dua buah batu yang juga mengganjal perut Rasulullah. Sambil tersipu malu sahabat tadi melanjutkan pekerjaannya.

Aisyah Tersinggung

Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi r.a. adalah seorang laki-laki yang tidak mempunyai paras tampan . Rasulullah hendak membaiatnya untuk masuk islam. Saat itu, ayat tentang hijab/jilbab belum turun, sehingga saat baiat, Siti Aisyah istri Rasulullah ikut dalam pertemuan baiat itu dan duduk tak jauh dari Rasul.
Saat Dhahak melihat wajah Aisyah, lalu ia mendekat ke arah Rasul dan berkata:
“Saya mempunyai dua orang istri yang lebih cantik dari Humaira (si manis)” ini sambil memberi isyarat kepada Aisyah yang duduk di samping Rasul. “Bila Anda berkenan aku akan ceraikan salah satu istriku, lalu engkau boleh ambil menjadi istrimu.” kata Dhahak tanpa malu2.
Mendengar perkataan Dhahhak yang cukup berterus terang dan agak kurang ajar itu, Aisyah merasa gemas dan spontan nyeletuk,
“Apa istri istrimu itu berparas lebih baik dari rupamu?” tanya Aisyah kesal.
Rasulullah spontan tertawa mendengar celetukkan Aisyah. Karena memang Dhahhak ini tipe laki laki yang terlalu PD, hingga ia tidak merasa kalau rupanya tidaklah tampan.
Dhahak menjawab dengan gagahnya,“Tentu donk, wajah saya lebih bagus dari istri istri saya”. Mendengar percakapan mereka Rasul hanya bisa tersenyum manis.

Budak Mengaku Merdeka

Dikisahkan, pada suatu hari Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan ke Bashrah untuk berniaga (sekitar satu tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat). Beliau pergi bersama Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmanah. Keduanya pernah ikut perang Badar, bedanya Suwaibith dikenal sebagai sahabat Nabi yang suka bercanda.
“Tolong beri aku makanan”, pinta Suwaibith pada Nu’aiman.
“Nanti, tunggu Abu Bakar dulu”, balas Nu’aiman.
Kemudian, ditengah perjalanan Suwaibith bertemu dengan serombongan kafilah. “Kalian mau membeli budakku?”, tanya Suwaibith pada rombongan itu.
“Mau”, jawab mereka serentak.
“Tapi dia budak yang banyak omong. Nanti, kalau kalian mengambilnya, pasti dia akan berkata, ‘Saya ini orang merdeka, bukan budak’. Jadi jangan kaget nanti. Bagaimana.., berminat tidak?”, Suwaibith menjelaskan.
“Tak masalah. Kami akan membelinya”, ujar mereka.
Mereka pun membelinya dengan 10 ekor unta yang tersisa pada mereka. Mereka lalu mendatangi Nu’aiman, dan langsung mengalungkan tali di lehernya.
Kontan saja Nu’aiman berteriak, “Hei.., aku ini bukan budak, aku orang merdeka!”.
“Ah, kami sudah dengar cerita tentangmu darinya”, ujar mereka tenang.
Akhirnya mereka pergi membawa Nu’aiman. Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang, para sahabat Nabi yang kebetulan ada disitu menceritakan kejadian itu kepada beliau. Abu Bakar langsung menyusul rombongan kafilah tersebut dan mengembalikan seluruh unta mereka dan mengambil kembali Nu’aiman dari tangan mereka.
Berikutnya, saat mereka kembali dari perjalanan dan menceritakan kejadian itu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau yang lain, serta-merta beliau tertawa diiringi tawa para sahabat beliau. [6]
[6]. Al-Adzkia, hlm. 20
Begitulah cara Nabi bercanda, semua tak luput dari akhlak mulia sebab Nabi adalah orang yang di didik langsung oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memberikan penghormatan kepada beliau dengan mengamalkan segala sunnah-sunnahnya.

 

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *