Bentuk Kebaikan

Nenek itu membungkuk. Jemarinya lihai memasangkan sendal-sendal jepit di hadapannya. Aku mematung di sisi. Nenek mempersilakanku keluar, memberiku ruang untuk melangkah. Ia mengambilkan sandalku, meletakkan di depan kakiku.



                                              Ilustrasi

Mukenahnya melambai ke bawah. Angin pagi mengembuskannya. Tragis, aku berkutik, pasrah, memandang saja. Fisikku mematung. Entah, entah mengapa waktu tak mengizinkanku bergerak sedikit pun.

Dadaku berdesir. Sungguh mulia renta itu. Ia memuliakan sendal juga memuliakan pemiliknya. Tak sungkan mengambilkannya, tak malu harga dirinya terjatuh di hadapan anak muda. Ia menegakkan tubuh, menatapku tersenyum manis. Lembut. Menentramkan. Matahari yang barusaja tersadar dari alam bakanya pun tersenyum. Sinarnya memerahkan langit.

Induk burung berlarian meninggalkan sarang di pohon nangka, hendak mencari makan untuk anak-anaknya. Kokok ayam bersahut-sahutan, lantas serentak diam, keluar dari sangkar, memilah-milah sampah, mencari cacing segar.  Kambing melolong. Kucing di atap rumah mengeong, ia barusaja loncat dari tetangga sebelah, menjatuhkan genteng rumah. Acuh, tak mau bertanggungjawab.

Kelinci di kandang saling mencicit. Pagi mulai beraktivitas. Terdengar gesekan lidi dan pertempuran di dalam dapur warga. Dan aku, di sini tak bergeming…. Musola hijau yang hening, disambut kejernihan embun pagi, juga menghilangnya siluet kegelapan dari langit. Gemiricik air di tempat wudunya terdengar nyaring.

“Pakai!” Perintahnya. Aku menurut. Kujepit sandalku. Melangkah maju. Pura-pura acuh dengan perlakuannya yang seperti itu. Ada perasan aneh yang menyangkut di dadaku. Mendadak langkahku terdiam. Jiwaku tersentak. Aku membalik tubuh. Berjalan mendekati sang renta. Hendak menahannya.

“Nek, apa visimu melakukan tindakan seperti ini? Bukankah orang lain sanggup mengambil sendal dan merapikannya sendirian?”

“Visi itu apa?” Kening Nenek berkerut. “Nenek tak sekolah tinggi sepertimu!”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sajadah kusampirkan di pundak. “Tujuan, Nek!”

“Anakku,” panggilan yang lembut. Nyaman untuk didengarkan. “Kita berbuat kebaikan hanya  untuk mengharapkan ridho pencipta.”

“Iya, bukankah ada kebaikan lain yang layak untuk dikerjakan? Sandal itu kotor, nodanya bisa menempel di tangan Nenek!”

“Membuat orang tersenyum dan senang itu merupakan salah satu dari kebaikan,” ungkapnya sembari menarik bibir retaknya untuk tersenyum. Wajah keriput disamarkan oleh percikan sinar rembulan. Bintang masih ingin menyaksikan tubuh ringkihnya masuk ke dalam rumah, meski pagi mulai menghancurkan pesona kerlipnya di alam malam.

“Saat saya menata sendal-sendal ini, pemiliknya tentu senang karena sendal mereka tidak berantakan, tak ditindih sendal yang lain, tidak juga berpisah dari pasangannya!”

“Iya, Nek. Tapi sendal itu kotor!” Aku membantah.”Sudahlah tidak usah memperlakukan tindakan itu lagi, toh orang-orang juga tidak akan peduli!” Aku menggerutu.

“Anakku, jangan pernah melihat bentuk kebaikan!” Aku bingung. Kuembuskan napasku yang sedikit berat. Petani mengambil cangkul, bergegas ke ladang. Anak sekolah menyiram tubuh. Wanita tua menggesekkan lidi. Menantu-menantu menanak nasi. Pemuda melirik ponsel di sisi telinga, kemudian menarik selimut kembali.

Pegawai kantor sibuk menyetrika seragam dinas. Ayam berkokok angkuh! Tak mau peduli. Seekor kucing mengintai makanan di gerobak tukang bakso yang didorong pagi buta. Burung yang bertengger di kabel-kabel listrikmenggumam, mungkinkah kucing doyan bakso?, lantas para tentara semutdi pohon nangka yangsedang bergotong-royongmengangkat bangkai ulat terbahak. ‘Ada-ada saja!’

“Kebaikan tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar.”Serunya melanjutkan. Aku menyimak. Satu jamaah keluar dari musola. Memakai sendalnya yang telah berpasang rapi. Tersenyum pada sang nenek lembut, seolah hendak menyampaikan ungkapan terimakasih secara tersirat. Ia menyapa kami berdua sebelum akhirnya berlalu meninggalkan musola.

“Kebaikan letaknya di dada yang ikhlas, Anakku. Bentuk kebaikan tidak kotak, persegi, bulat, atau yang lainnya. Namun kebaikan ada di sini,” Nenek menunjuk bibirnya. “Bentuknya di sini, senyuman yang tenang, senyum puas, senyum orang lain yang ikhlas!”

 Aku mengembuskan napas. Tak ada yang salah dari penjelasannya.

“Bagaimana jika setelahnya kita tidak dihargai, Nek?”

“Dzat yang di atas, yang menciptakan alam semestah tak akan pernah tinggal diam!”

Hatiku juga mengiyakan. Bibirku bungkam. “Anakku,” Nenek menepuk bahuku. “Jangan pernah malu dan ragu jika ingin berbuat baik, serahkan semuanya pada Dzat yang menciptakanmu! Semakin banyak kau berbuat kebaikan, maka suatu saat nanti, saat kau dalam keadaan susah, akan ada banyak pula orang yang membantumu,”

“Nek! Orang ikhlas tidak mungkin mengharapkan imbalan dari orang lain!” Aku membantah sekali  lagi. Nenek tersenyum  menggelengkan kepalanya. Angin menyapu wajahku. Ia seakan hendak menampar diriku yang berbicara dengan nada tinggi pada seorang renta.

“Ini berbeda dengan mengharapkan imbalan, Anakku.”

“Lantas?” Aku memotong kalimatnya. Ia melepas sentuhannya di pundakku. Merapikan  rambut yang keluar di keningnya. Gelap nyaris sempurna lenyap. Timur, mulai merah merekah. Kicauanya membuat aktivitas penduduk bergairah. Bola api menyembul semringah. Beberapa burung terbang melintas di hadapannya. Satu jamaah keluar kembali.

“Perbuatan baik yang kau lakukan suatu saat nanti akan kembali pada dirimu sendiri.”

“Maksudnya?” Aku tidak paham. Nenek itu menepuk bahuku sekali lagi.

“Suatu saat kau akan memahaminya. Saya pulang dulu, sudah pagi!” Ia membalik tubuh, melangkah meninggalkanku yang masih bingung dengan kalimatnya. Aku menghelas napas berat.

Kutatap punggungya. Langkahnya tertatih-tatih, setengah membungkuk sambil menuntun tongkat, penopang tubuhnya. Nenek itu berbeda dari yang tinggal bersama cucu laki-lakinya di rumah yang lumayan mewah. Anaknya merantau ke luar negeri. Menantunya entah hilang ke alam mana. Jika senja datang, ia akan duduk di beranda rumah, menatap langit yang indah, menunggu cucunya pulang dari sekolah. Seorang pemuda yang hampir duduk di bangku kuliah.

Akvitas masih sama seperti pagi kemarin..

29, 12, 16. 03:30 WIB.

Penulis lahir di Magelang, 16 Juli 1995. Aktivitas sehari-harinya diisi dengan menulis dan melamun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *