Meneropong Makna Dibalik Teks Berita Melalui Analisis Wacana

Pengertian Analisis Wacana

PENGERTIAN ANALISIS WACANA-Analisis wacana Van Dijk menyebutkan bahwa dalam dimensi teks, yang akan diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan.

Aspek konteks sosial, mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya akan menganalisis pada level teks saja karena keterbatasan ruang dan waktu.

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/ tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Seperti dalam bagan dibawah ini:[1]

A. Analisis Wacana dalam Dimensi Teks

Tabel I

Struktur Dalam Teks

Struktur Makro

 

Makna globalisasi dari suatu teks yang dapat diamati dari topik/tema yang diangkat oleh suatu teks

Superstruktur

 

Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan.

Struktur Mikro

Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks.

 

Pertama, struktur makro, merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang di kedepankan dalam suatu angel berita.

Kedua, superstruktur merupakan wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana struktur teks dalam teks tersebut mengandung koherensi berita.

Ketiga, struktur mikro, yaitu makna wacana yang dapat dianalisis dari bagian kecil dari suatu teks berita yakni kata, kalimat, proporsi, anak kalimat, parafrase dan gambar.

Berikut akan di uraikan satu persatu dari elemen analisis wacana teks model Van Dijk:[2]

Tabel II

Elemen Wacana Model Van Dijk

 STRUKTUR WACANA HAL YANG DIAMATI ELEMEN
Struktur Makro Tematik

Tema/topik yang dikedepankan dalam suatu berita

Topik
Superstruktur Skematik

Bagaimana bagian dan urutan berita disekemakan dalam teks berita utuh

Skema
Struktur mikro Semantik

Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat ekplisit satu sisi dan mengurangi detil di sisi lain

Latar, detil, maksud, pranggapan, nominalisasi
Struktur mikro Sintaksis

Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih.

Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti
Struktur Makro Stilistik

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam pilihan berita.

Leksikon
Struktur mikro Retoris

Bagaimana dan dengan cara penekanan dilakukakan

Grafis, metafora, ekspresi

 

struktur analisis wacana teks media
pixabay.com
  1. Elemen Analisis Wacana Tematik

Van Dijk melihat bahwa dalam struktur berita terdapat bagian-bagian yang saling melengkapi dan mendukung (global coherence). Dalam hal ini, Van Dijk menjelaskan bahwa dalam suatu susunan berita terdapat gambaran umum yang merupakan inti gagasan, ringkasan atau topik utama yang dikenal sebagai tematik.

Dengan mengamati bagian paling menonjol dalam berita, peneliti mampu mengambil kesimpulan mengenai gambaran besar gagasan yang dikedepankan wartawan dari sebuah peristiwa. Gagasan Van Djik ini didasarkan pada pandangan ketika wartawan meliput atau mengambil sudut pandang berdasarkan mental ataupun pikiran tertentu.

Dalam arti yang lain, lewat tematik ini, Van Dijk menjelaskan bahwa mental atau kognisi sosial dapat dilihat dari tematik yang merupakan hal yang mengacu dan mendukung kerja wartawan terhadap masalah yang ditulis.

  1. Elemen Analisis Wacana Skematik

Di dalam memproduksi wacana berupa teks, proses produksinya selalu menyusun kerangka untuk menghasilkan sebuah informasi. Kerangka itulah yang menunjukkan adanya skema ataupun alur dari pendahuluan sampai akhir.

Teks ataupun wacana dibentuk melalui susunan sedemikian rupa untuk menyampaikan informasi yang diinginkan. Konkritnya, poembuat teks menginginkan penerima pesan dapat memahami kesatuan arti dari teks yang ingin disampaikan.

Skema dalam teks tidak selalu sama, hal ini dikarenakan kepentingan di balik penyampaian wacana sangat beragam. Menurut kacamata Teun A. Van Djik pada umumnya berita mempunyai dua kategori skema besar. Pertama, summary.

Elemen ini merupakan elemen yang paling penting karena merupakan hal pokok yang ingin disampaikan yakni judul dan lead. Lead merupakan pengantar suatu wacana atau teks sebelum menuju ke isi. Lead inilah yang membuat daya tarik bagi pembaca, sehingga lead harus menujukkan hal menarik yang lengkap dan ingin membaca secara keseluruhan. Kedua, yakni story.

Setelah dijelaskan pengantar pada suatu wacana ataupun teks, maka alur selanjutnya merupakan isi berita. Elemen story ini juga mempunyai subkategori situasi yakni proses berjalannya suatu peristiwa dan yang kedua yakni subkategori komentar.

Subkategori situasi sendiri dibagi menjadi dua yakni mengenai  kisah utama ataupun episode kedua yakni latar. Dalam berita seperti diawal tadi bahwa alur wacana saling berhubungan, maka antara episode dan latar pun juga demikian.

Sedangkan subkategori komentar juga terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan komentar tokoh verbal yang dikutip wartawan.

Bagian ini merupakan bagian original dari bebeberapa tokoh yang merupakan pakar dalam bidangnya masing-masing, dalam wacana hal ini ditulis agak menjorok dan memakai tanda kutip untuk membedakan. Selanjutnya bagian kedua yakni komentar-komentar tersebut dihimpun wartawan menjadi kesimpulan umum ketika ditampilkan.

Van Djik menegaskan bahwa adanya skematik adalah strategi wartawan untuk mendukung topik tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan menyusun bagian pada urutan-urutan tertentu. Skematik memberikan tekanan tertentu sehingga efek yang dihasilkan sesuai kepentingan dan maksud wartawan.

Skematik juga merupakan cara untuk menyembunyikan informasi yang penting yang tidak sesuai dengan keinginan wartawan. Biasanya strategi semacam ini dilakukan dengan menempatkan informasi penting di bagian akhir suatu wacana sehingga perhatian berkurang dan terkesan kurang menonjol.

  1. Elemen Analisis Wacana Latar

Latar merupakan bagian dari struktur mikro yang bisa digunakan untuk membongkar isi tersembunyi (content latent) dari suatu teks. Latar merupakan alasan pembenar dari seorang wartawan mengapa mengambil sudut pandang tertentu dalam berita.

Namun, terkadang maksud ataupun isi utama dari berita tersebut tidak secara eksplisit dibeberkan dalam teks, tetapi kita dapat melihatnya melalui latar. Baik bagaiamana latar tersebut disajikan maupun ditampilkan dapat ditemukan arti (semantik) sesungguhnya lewat analisis.

Hemat kata, latar inilah yang digunakan sebagai pijakan ataupun dasar kemana suatu maksud wacana akan dibawa. Latar merupakan cerminan ideologis dibalik kepentingan kepentingan media.

  1. Elemen Analisis Wacana Detil

Dalam peliputan berita sekaligus pencarian data, seorang wartawan bukan merupakan pihak yang netral. Wartawan merupakan tangan panjang sebuah medua untuk mereduksi sebuah teks sehingga menjadi teks berita tersebut memberikan citra tertentu sesuai idologinnya.

Dengan kata lain, elemen wacana detail merupakan elemen ynag digunakan untuk mengontrol informasi yang hendak disampaikan seorang wartawan. Pembuat wacana dalam hal ini komunikator pasti akan lebih banyak menampakkan sisi-sisi positifnya secara lengkap dan detail demi keuntungan citra baik untuk dirinya.

Sebaliknya, jika data-data tersebut merugikan atau dapat menggoyahkan posisinya, tentu data akan diminimalisir sedikit mungkin bahkan dihapus.

Elemen detail merupakan strategi wartawan untuk menampilkan sikap dengan cara implisit. Oleh sebab itu, pengekpresian wacana yang dikembangkan wartawan tak pernah disampaikan secara terbuka, namun melalui detail bagian mana yang dikembangkan dan mana yang diberitakan dengan detail besar. Lewat analisis inilah akan diketahui bagaimana media mengembangkan sebuah wacana.

Kesimpulannya, di dalam mencari kata kunci elemen detail ini adalah melihat secara keseluruhan dimensi suatu peristiwa. Selanjutnya, mengamati bagian mana yang diuraikan secara panjang lebar dan mana yang diuraikan secara detail detail yang sedikit.

Maka dari analisis diatas muncullah pertanyaan, mengapa seorang wartawan lebih memilih menguraikan dimensi tertentu, mengapa bukan dimensi yang lain? Kemudian, apa efek dari penguraian detail terhadap suatu kelompok?

  1. Elemen Analisis Wacana Maksud

Kata kunci dalam elemen ini adalah ‘jelas’ dan ‘samar’. Sedangkan kesamaan dengan elemen detail yakni menguntungkan pihak komunikator. Oleh karena itu, elemen maksud ini sengaja ditampilkan oleh seorang wartawan jika menguntungkan dengan eksplisit dan jelas begitu sebaliknya akan dibuat samar dan berbelit-belit jika merugikan pihak komunikator.

Dalam ranah media, elemen maksud ini digunakan seorang wartawan untuk menonjolkan bagian berita yang menguntungkan sekaligus menonjolkan basis kebenaran yang ada dalam persepsinya untuk menyingkirkan kebenaran yang lain.

  1. Elemen Analisis Wacana Koherensi

Elemen koherensi merupakan elemen yang menempatkan dua kalimat yang berbeda dalam satu paragraf. Dua buah kalimat tersebut menggambarkan fakta yang sangat berbeda, namun karena ditulis dalam sebuah media maka seakan-akan menjadi tampak koheren.

Elemen koherensi ini memiliki tiga macam dalam penempatanya yakni dengan memperhatikan kata sambung (konjungsi). Kata sambung itulah yang akan member kesan apakah dua kalimat tersebut merupakan sebab akibat, dipandang berhubungan atau malah terpisah sama sekali.

Dapat diambil contoh pemberitaan akhir-akhir ini ketika Jokowi menjadi media darling terdapat dua kalimat yanag sangat berbeda fakta. Deklalrasi pencalonan Jokowi dengan kenaikan nilai tukar rupiah.[3] Dua kalimat tersebut bisa menyatakan sebab akibat, ataupun saling berhubungan.

Jika dua kalimat tersebut dianggap dua kalimaat yang saling berhubungan, umumnya akan diletakkan dalam satu item berita kemudian diabstraksikan sedemikian rupa. Berbeda jika dua kalimat tersebut dipandang secara terpisah, maka pemberitaannya pun akan berbeda dan mempunyai ruangan tersendiri.

  1. Elemen Analisis Wacana Koherensi Kondisional

Jika gambaran elemen koherensi adalah dua kalimat yang mempunyai fakta, berbeda dengan koherensi kondisional yang terdapat kalimat inti dengan anak kalimat.

Anak kalimat ini sebagai penjelas inti kalimat yang akan membawa efek citra pada kalimat utama yang diwacanakan. Baik citra positif maupun negative, anak kalimat tersebut tidak akan mengurangi makna substantif dari kalimat utama.

Koherensi kondisional inilah yang merupakan cara wartawan mengkonstruksikan bagaimana menggiring pembaca pada pemahaman pemaknaan tertentu.  Oleh karena itu, anak kalimat ini sebagai penjelas atau penghubung dua peristiwa yang satu sebagai anak kalimat (tambahan) yang dapat mempengaruhi persepsi pembaca secara tersembunyi.

  1. Elemen Analisis Wacana Koherensi Pembeda

Koherensi pembeda adalah koherensi yang berkaitan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa atau fakta hendak dibedakan. Hal ini berlawanan dengan koherensi kondisional yang menghubungkan dua kalimat sebagai penjelas.

Dengan adanya koherensi pembeda seperti ini, wartawan mampu menempatkan dua fakta atau peristiwa seolah-seolah contrast tidak saling berhubungan. Wartawan menempatkan suatu peristiwa menjadi kebalikan dari kejadian yang sebenarnya.

Koherensi pembeda lebih sering menggunakan kata sering, hal ini membawa dampak yang beraneka macam ketika diterima oleh khalayak. Kritis dan teliti adalah salah satu yang harus diunggulkan dikarenakan ada bagian sisi mana yang diperbandingkan sekaligus cara pandang seperti apa yang dilakukan.

Akhirnya, koherensi pembanding tersebut menimbulkan dua kemungkinan yakni peristiwa menjadi lebih baik atau malah dipandang lebih buruk.

  1. Elemen Analisis Wacana Pengingkaran

Elemen pengingkaran ini menurut peneliti berkaitan bagaimana suatu bahasa diubah menjadi eufimisme. Penghalusan kata untuk menyembunyikan apa yang ingin diekspresikan secara implisit. Dengan kata lain, untuk mempengaruhi pembaca, wartawan menggunakan elemen pengingkaran agar terlihat seolah-olah menyetujui padahal tidak begitu sebaliknya.

Informasi yang disampaikan wartawan terkesan samar dan tidak secara tegas mengungkapkan seakan menerima secara baik (khilafah dibanyak Negara ditolak, tetapi suatu waktu pasti akan tegak) atau menerima secara buruk (khilafah dibanyak Negara diterima, tetapi di banyak negara banyak ditolak).

Pengingkaran adalah elemen untuk membongkar apa maksud yang sebenarnya diutarakan wartawan baik itu sikap ataupun ekspresi. Hal yang latent seolah menyetujui namun sebenarnya sebaliknya.

Umumnya, elemen pengingkaran ini dengan menggunakan kata hubung berlawanan yang ditempatkan di akhir, sedangkan kalimat umunya di depan sebagai gambaran suatu pendapat umum.

  1. Elemen Analisis Wacana Bentuk Kalimat

Berita yang baik adalah berita yang mengandung informasi yang mudah dipahami. Salah satunya melalui bentuk kalimat dari segi sintaksis yang erat kaitannya mengenai cara berpikir logis. Sering kita jumpai beberapa berita yang menggambarkan antara pihak satu atau pihak yang lain yang dijadikan subjek maupun predikat. Adanya bentuk kalimat seperti ini menjadikan bahwa kalimat akan mempunyai prinsip kausalitas (hukum sebab-akibat).

Dalam bentuk kalimat ini terdapat dua macam, yakni kalimat aktif dan pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang menjadikan penerang sebagai subjek, sedangkan yang diterangkan sebagai objek. Bentuk kalimat aktif maupun pasif banyak menentukan apakah subjek diekspresikan secara eksplisiit atu implisit.

Alhasil, secara latent dapat diketahui bahwa kalimat tersebut mengarahkan pada prioritas mana yang ditonjolkan maupun di fokuskan baik dari kata-kata khusus, frase atau anak kalimat yang mempengaruhi makna kata secara keseluruhan.

Eriyanto menjelaskan bentuk lain yang digunakan adalah pemakaian urutan kata-kata yang mempunyai dua fungsi sekaligus. Pertama, menekankan atau menghilangkan dengan penempatan dan pemakaian kata atau frase yang mencolok melalui permainan semantic (ilmu tentang makna kata, seluk beluk pergeseran arti kata).

Kedua, posisi prosisi yang diatur dalam satu rangkaian kalimat. Hal ini nantinya menempatkan proposisi mana yang akan ditempatkan di awal kalimat ataupun di akhir kalimat. Proposisi ini  juga sangat mempengaruhi makna yang timbul karena akan menunjukkan bagian mana yang lebih ditonjolkan kepada khalayak.

Selain hal diatas, pemakaian kalimat induktif juga deduktif juga sangat berpengaruh terhadap makna yang dihasilkan. Kalimat deduktif adalah kalimat yang menempatkan inti kalimat diawal kemudian baru kalimat tambahan.

Sebaliknya, kalimat induktif adalah kalimat yang menempatkan inti kalimat di akhir yang di dahului keterangan tambahan. Bentuk deduktif inilah bentuk kalimat yang penonjolannya lebih kentara yang berlawanan dengan induktif yang menyamarkan atau bahkan menyembunyikan makna kalimat inti.

  1. Elemen Analisis Wacana Kata Ganti

Elemen kata ganti adalah elemen yang mengibaratkan banyak persepsi yang dimanipulasi seakan sejalan atau sebaliknya. Dengan kata ganti tunggal menjadi jamak ataupun sebaliknya, wartawan mampu membuat seakan-akan pembaca menghendaki apa yang dikatakan narasumber yang dipilih wartawan.

Singkatnya, elemen ini mengubah sebuah pernyataan dari para stakeholder bukan semata resmi dari kacamata komunikator, namun juga menjadi representasi dari sikap bersama suatu komunitas tertentu. Representasi komunikator menjadi sikap  komunitas keseluruhan dengan sengaja menghilangkan batas dengan khalayak.[4]

Prinsip pada elemen ini adalah tujuan penggunaan bahasa sebagai usaha mempengaruhi pembaca untuk merangkul dukungan dan menghilangkan oposisi yang ada. Seperti kata “kami” dalam beberapa kalimat dalam berita.

Penambahan kata kami dalam berita bukan tidak berarti tidak mempunyai maksud, namun sebagai manipulasi bahwa kalimat berita yang dihasilkan mampu mempunyai implikasi dan menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian public serta mengurangi kritik dan oposisi.

Sedangkan jika diamati dalam penggunaan kata ganti “kita”, kata ini strategi wartawan yang menginginkan manipulasi pendapat khalayak seperti yang wartawan mau sehingga dengan cara seperti penggunaan kata ganti “kita” seakan-akan yang semula hanya pernyataan pandangan watawan menjadi pandangan atau sikap dari khalayak seluruhnya.

Berlawanan dengan kata ganti “kita”, kata ganti “mereka” justru digunakan sebagai langkah untuk menciptakan jarak antara pihak kami yang mendukung atau sependapat dengan pihak mereka yang oposisi atau tidak sependapat.

  1. Elemen Analisis Wacana Leksikon

Leksikon adalah strategi pemilihan kata untuk memihak ideologi tertentu. Di Indonesia, kata-kata mempunyai tingkatan-tingkatan tertentu dalam penggunannya. Penggunaan tersebut didasar oleh beberapa hal dan kepentingan yang terjadi. Sebagai contoh adanya kata diperkosa, dinodai, digagahi atau dipaksa bukanlah suatu kebetulan, namun juga secara ideologis memberikan pemaknaan tertentu terhadap fakta atau realitas.

  1. Elemen Analisis Wacana Pra Anggapan

Praanggapan (presuppotion) adalah elemen wacana yang menempatkan kalimat pertama sebagai dasar pijakan kalimat pendukung pada kalimat selanjutnya. Praanggapan ini memberikan dampak bahwa menjadi pandangan yang terpercaya dan tak terbantahkan.

Saking banyaknya praanggapan dalam suatu berita, pembaca dengan mudah menebak alur kemana berita akan berpihak. Hal ini disebabkan karena praanggapan ini merupakan fakta yang belum terbukti kebenarannya namun dijadikan dasar untuk mendukung gagasan selanjutnya.

Praanggapan biasanya didasarkanpada ide common sense (nalar rendah) yang masuk akal atau logis sehingga meskipun kenyataannya belum terjadi dan tidak dipertanyakan kebenarannya orang sudah terlaanjur menerimanya.[5]

  1. Elemen Analisis Wacana Grafis

Berita umumnya tidak hanya melulu menggunakan kata sebagai perantara penyampai ideology namu juga melalui grafis. Pembeda dalam sejumlah berita menjadi cara latent tersendiri bagaimana komunikator mengemas berita.

Sering dijumpai bahwa berita menggunakan gambar, garis miring, tebal, atau ukuran font yang lebih besar atau table merupakan arti penting dalam penyampaian pesan.

Dengan demikian, pengguanaan grafis tersebut bukan semata-mata agar nyaman dipandang, namun merupakan strategi dari komunikator bagaimana pesan atau kalimat ditekankan dan ditonjolkan yang merupakan point penting bagi pembaca yang mengonsumsi berita tersebut. Dengan adanya elemen grafis, komunikator berusaha meyakinkan khalayak bahwa topic yang dibawakan memang benar adanya, factual dan didukung data-data yang akurat.

  1. Elemen Analisis Wacana Metafora

Wacana terakhir adalah elemen metafora. Elemen ini sebenarnya elemen yang merupakan gaya atau seni dalam menulis berita. Umumnya, berita dibumbui atau ditambah ornament sebagai penunjuk utama berita akan memihak kepada kelompok siapa.

Metafora ini dipakai wartawan sebagai cara landasan berfikir, alasan pembenar atas pendapat publik. Untuk mendapatkan kepercayaan dan kedekatan emosional, wartawan biasanya menggunakan point-point yang sudah turun temurun dianggap kebenarannya seperti ayat-ayat Al Quran, peribahasa, ungkapan kuno dan kepercayaan masyarakat yang lainnya.

B. Analisis Wacana dalam Dimensi Kognisi Sosial

C. Analisis Wacana dalam Dimensi Analisis Sosial

 

 

[1] Ibid., hlm. 227.

[2] Ibid., hlm. 228-229.

[3] Kompas

[4] David G. Smith, “Modernism, Hyperliteracy, and Colonization of the Word”, (Alternatives, No. 17, 1992), hlm. 250-252.

[5] Ibid, hlm. 257

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *