Agama dan Televisi di Indonesia; Etika Seputar Dakwahtainment

27 views

Nama               : Zamhari, S.Kom. I/ 18202010007/ Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam

Agama & Televisi di Indonesia

 

CRITICAL RESPONSE

Selasa, 30 Oktober 2018

Buku               : Agama dan Televisi di Indonesia

Bab                  : 1 – 6

Penulis           : Dicky Sofjan, Ph. D.

Dosen             : Dr. Joko Wicoyo, M.Si

 

Bab 1 — Demokrasi dan Budaya Populer

Membaca hasil penelitian ini serasa diajak hidup di era orde lama. Betapa terpasungnya semua kreatifitas, termasuk salah satunya media informasi. Awalnya, saya beranggapan bahwa masa orde lama tak semengerikan itu, ternyata melalui tulisan Sofjan ini, saya merasa perlu banyak belajar menggali sejarah lagi.

Sofjan dalam monografinya berhasil membuat peta sejarah yang apik mulai dari masa keterkungkungan orde lama hingga masa pembebasan yang diawali oleh Presiden BJ Habibie. Sebuah alur sistematis yang pantas menjadi perenungan bersama bahwa kebebasan yang digelontorkan sebenarnya ada batas-batas yang jelas, yakni sebuah tanggung jawab etika.

Seperti hewan peliharaan yang lepas dari kandangnya setelah terkurung selama bertahun-tahun, berbagai media di Indonesia mulai bermunculan dengan bebas bahkan tanpa mengindahkan etika. Padahal, kebebasan pers yang selama ini dinikmati seharusnya menjadi sebuah peluang untuk membangun pondasi-pondasi kokoh profesionalisme kode etik pers.

Bab 2 — Agama di Era Media

Barangkali, kehadiran media di era ini tak terlepas dari kepentingan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Monografi ini menekankan bahwa media lebih mengejar kepentingan ekonominya. Bahkan, demi pundi-pundi uang, sebuah media rela melakukan praktik pers apa saja sepertihalnya yang sering kita kenal dengan yellow journalism (jurnalisme kuning) dalam kegiatan penulisan laporan.

Media pun tak kehilangan akal nakalnya untuk memastikan bahwa medianya bisa eksis di tengah-tengah media lainnya. Salah satu hal yang dilakukan adalah komodifikasi agama di media. Lihat saja, berapa acara keagamaan yang dikemas secara menarik untuk dakwah, namun dibalik itu sebenarnya ada kepentingan kapitalisme yang menggurita.

Buku ini menjelaskan secara gamblang bagaimana sebuah media berperan baik melalui lay outnya hingga struktur dan bagian-bagian dari advertising itu sendiri. Demi mengelabuhi masyarakat dan membangun trust, sering media mengikutsertakan “ustaz” selebriti guna mendongkrak penjualan.

Bab 3 — Agama dan Etika

Pada dasarnya, agama Islam merupakan agama yang penuh etika, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Sayangnya, etika agama ini mulai dihegemoni oleh kepentingan media yang menyebabkan etika menjadi salah satu hal yang tidak penting.

Perlahan-lahan namun pasti, media mengobrak-abrik etika agama tanpa disasari. Masyarakat dipaksa menerima dengan halus bahkan mempraktikkannya melalui alam bawah sadar. Alhasil, di era milenial ini lahirnya generasi-generasi tanpa etika, bahkan agama menjadi senda gurauan semata (baca tontonan).

Bab 4 — Permasalahan Etika dalam Program-program Televisi Indonesia

Penelitian ini memberikan hasil bahwa adanya Dakwahtainment yang berlangsung di media televisi Indonesia hanya mencakup 30% tuntunan, sedangkan sisanya 70% merupakan tontonan. Hasil tersebut bukan isapan jempol semata karena awak media juga dituntut untuk memiliki peran ganda, yakni sebagai pendakwah sekaligus mencari pundi-pundi rupiah melalui main sponshorship.

Menjadi wawasan baru bagi saya, terutama dalam hal penanganan etika siaran. Dalam kelembagaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan baik melakukan pengawasan. Kini, tinggal masyarakat kita sendiri, apakah akan mendukung sekaligus berkontribusi melakukan audit demi tersiarnya acara televisi yang mendidik ataukah sebaliknya

Bab 5 — Kegeraman Terhadap Dakwahtainment

Ada 3 hal yang digarisbawahi bagaimana upaya media memanfaatkan dakwah untuk kepentingan ekonomi, yakni efek pendangkalan, komodifikasi agama dan kelemahan-kelemahan etis.

Efek pendangkalan mulai terasa manakala awak media hanya ingin menonjolkan aspek hiburannya semata. Awak media tidak menginginkan isi yang berbobot, namun lebih pada pengemasan yang berbobot. Dengan langkah tersebut, para awak media bisa lebih leluasa mengkomodifikasi agama melalui simbol-simbol dan humor. Tak heran bila nilai-nilai agama semakin lama semakin tergerus nilainya.

Bab 6 — Kesimpulan dan Rekomendasi

Sebuah karya monografi luar biasa ini memikat pembacanya mulai dari awal hingga akhir. Pembaca tidak akan merasa bosan karena di awal, tengah dan di akhir tulisan, Sofjan selalu menghadirkan data disertai gagasan segar baik melalui wawancara ataupun dari sumber buku referensi.

Penulis buku ini berhasil menyajikan sebuah kerangka berpikir yang sistematis mulai dari sejarah orde lama hingga perkembangan agama dan media massa di era reformasi. Di akhir karya ini, penulis buku Sofjan menutupnya dengan rekomendasi yang memberikan concrete conclusion bahwa masalah etika terkait agama di media tidak bisa dilakukan sendiri. Semua pihak perlu bergandengan tangan untuk membentuk jejaring kuat demi terciptanya siaran yang sehat.

Pemilik ACADEMIC INDONESIA — Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *