9 Rahasia Kunci Belajar Menulis

9 Kunci Hebat Belajar Menulis
redmallard.com

Coba kita renungkan, termasuk tulisan manakah di antara tulisan biasa, luar biasa, atau biasa di luar? Atau jangan-jangan tidak termasuk dari ketiganya alias belum pernah nulis sama sekali. Oke, tak apa. Tulisan ini akan mengajak Anda untuk segera menulis.

Berikut akan Penulis paparkan perbedaan ketiganya, pertama adalah tulisan biasa. Tulisan ini banyak kita jumpai di mana saja, di buku tulis, diary, bahkan di tempat pembuatan bakwan. Tenang, bukan bermaksud mengejek, itu sudah wajar.

Namun jika biasa, kewajaran tersebut jangan terjadi pada diri kita, jika sudah terjadi jangan berkecil hati dan jangan kecewa. Salah satu bab di buku ini akan mengulas bagaimana agar kita tidak pernah kecewa terhadap apa yang kita lakukan termasuk kegiatan menulis.

Selanjutnya adalah tulisan biasa di luar. Tulisan yang seperti ini juga banyak kita dapati di media-media massa yang sudah terbiasa terbit. Tulisan inilah yang akan kita bangga-banggakan dan kita merasa bangga karena berhasil menembus media. Namun rasa bangga itu hanya sementara jika niat yang kita usahakan hanya sebatas tulisan agar dimuat.

Oleh karena itu, tulisan ketigalah yang seharusnya kita usahakan. Apa itu? Ya, sesuai urutannya yakni tulisan luar biasa. Tulisan luar biasa adalah tulisan yang dibuat oleh orang biasa, tapi bisa dibaca oleh orang luar biasa, biasa di luar ataupun biasa. Tulisan inilah yang dinamakan tulisan menyertakan Tuhan.

Menulislah seperti melihat Allah Swt, sehingga dalam penarian jari-jari kita tak akan lepas dari kaidah aturan yang diajarkan-Nya. Jika semua sudah kita niatkan kerana Allah-ikhlas total. Adanya pujian ataupun tidak kita tetap menulis. Itulah tulisan yang luar biasa.

Ada beberapa teman Penulis yang ingin menyerah dalam menulis karena berkali-kali tidak dimuat. Saran Penulis jangan berkecil hati! Semua juga mengalami proses yang sama, maka nikmatilah proses itu.

Agar proses itu senantiasa memberikan semangat, tentu niat keikhlasan itu harus ada, sehingga nantinya dihitung amal oleh Tuhan. Ditolak manusia itu nggak masalah, ditolak Tuhan, meranalah kita selamanya. Oke?

***

Jika orang Jawa zaman sekarang sering bilang, “Orang Jawa tapi tidak njawani”, maka Penulis juga sering teringat sindirian, “Orang Islam tapi tidak ngislami”. Bisa kita lihat saat ini, bahkan dari hal-hal kecil seperti minum sambil berdiri, menggunakan tangan kiri, dan tanpa berdoa seakan-akan menjadi sebuah hal yang wajar. Ketika tidur, sudahkah kita berdoa dan sesuai pada posisi yang diajarkan Allah lewat Rasul-Nya?

Padahal sebagai umat Islam, Islam sudah mengatur sedemikian rupa. Ya tujuannya agar kita sehat! Begitu juga dengan menulis, jika menulis hanya asal menulis, maka yang didapat hanya yang bersifat dunia saja, kosong, semu, dan akhirnya hampa tak berbekas. Berikut adalah bagaimana agar menulis bisa menjadi lebih bermakna.

1. Merdeka Sejak Pikiran

Merdeka sejak pikiran saat menulis
cense.ca

Anggaplah mudah, jangan mempersulit. Penulis pernah mendengar satu kalimat menyengat, yakni “Ilmu itu hanya siapa duluan yang tahu”. Tidak ada kata terlambat, semua mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses lewat jalan apa saja.

Terkadang, terlalu memikirkan akan kesulitan yang akan dialami, menjadikan diri lemah mental dan kadang pusing sendiri tanpa sebab. Padahal, jika kita mencoba optimis dan sadar bahwa semua perlu proses tentu kita akan menikmati setiap kesulitan itu. Dahlan Iskan pun pernah “nyletuk, ”Masa muda adalah masa untuk menghabiskan kegagalan.”

Jika masa muda kita habiskan untuk menghabiskan kegagalan, insya Allah apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita akan merasa tenang. Ketenangan itu mahal. Adanya ketenangan terbentuk dari proses gagal, gagal, dan terus gagal.

Adanya ketenangan, perlahan-lahan kita akan menemukan betapa sebenarnya semua mudah jika dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas itu membuat bahagia, kerja cepat, efisien, dan maksimal. Ikhlas itulah salah satu komponen dari kemerdekaan pikiran. Sering, mengalahkan diri sendiri itu sulit daripada mengalahkan orang lain.

Merdekalah secara pikiran! Inilah sebenarnya kunci kesuksesan. Ketika hari ini banyak orang yang takut menghadapi masalah, maka berbedalah dan tantanglah masalah itu. Jadilah pribadi yang selalu optimis, kalau perlu carilah masalah di saat kita tak mempunyai masalah berarti. Bersahabatlah dengan masalah, karena dengan begitu diri kita tak lagi berada dalam kondisi yang terikat, namun teguh pendirian, independen, dan bermartabat!

2. Fokus, Komitmen, dan Sungguh-Sungguh

Fokus dalam belajar menulis
livelifewellconsulting.com

Jika ingin cepat bisa, maka fokuslah. Dalam bidang apa pun. Barang siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil. Hal ini harus kita pegang kuat-kuat, mustahil kita akan berhasil jika tak fokus, komitmen, dan tak bersungguh-sungguh. Fokus di sini bukan berarti cuek dengan segala hal, misal di kampung ada kerja bakti, ya seyogyanya kita harus ikut kerja bakti bukan lari dengan alasan fokus menulis.

Fokus yang diharapkan adalah belajar satu hal terlebih dahulu, baru jika sudah menguasai bisa pindah ke lain hati. Upz…! Maksudnya pindah ke lain hal. Penulis sendiri untuk menjaga fokus, komitmen, dan kesungguhan sering menempel kertas di dinding kamar yang nantinya itu akan Penulis baca terus-menerus dan dapat membangkitkan gelora Penulis dalam menulis.

Keuntungan seperti itu, ingatan yang memenuhi pikiran satu per satu hilang. Selain itu, pikiran juga berjalan untuk menemukan inspirasi-inspirasi selanjutnya yang lebih besar. Selain itu juga bisa menggunakan cara apa pun yang pada intinya usahakan pikiran selalu ingat akan hal yang akan kita raih. Dengan demikian, inspirasi dan ide akan terus diolah dan terus berkembang.

Di dalam Alquran Surah An Najm ayat 39 pun dijelaskan:

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Oleh sebab itu, jangan menunggu kesuksesan. Tangkaplah dan berusahalah karena keberhasilan yang menentukan diri kita sendiri di atas pertolongan Allah Swt.

 

3. Manajemen Waktu

Belajar Menulis Butuh Managemen Waktu
halogensoftware.com

Dengarkan nasehat sobat! Jangan terlalu pusing memikirkan bagaimana agar tulisan Anda sempurna. Tapi pikirkanlah bagaimana Anda mampu menulis dengan dengan waktu yang teraratur, konsisten dan sungguh-sungguh. InsyaAllah, karena kebiasaan, kesempurnaan akan mengikuti dengan sendirinya. Tidak ada alasan untuk mempunyai skill menulis yang baik.

Terlebih hanya beralasan “Penulis hanya mempunyai sedikit waktu”, “Penulis tak sempat”. Sedikit bisa menghebatkan tulisan Anda jika dilPenuliskan teratur dan bersungguh-sungguh. Penulis sendiri yakin bahwa kesibukan bukanlah kebodohan, justru dengan kesibukan kita akan lebih cerdas selangkah lebih maju.

Mulai sekarang Penulis harap jangan banyak alasan. Segera atur waktu dan rencanakan kehidupan Anda sebaik mungkin. Ingat, masa muda hanya dua kali. Satu kali di dunia dan satu kali di syurga. Semoga kita mendapatkan keduanya! Berapa umur Anda sekarang?

4. Kecepatan

Semakin Belajar Menulis Semakin Cepat Menulis Artikel
tes.com

Coba bayangkan, pelari yang larinya lambat dengan cepat, tentu yang lebih dahulu mencapai garis finis adalah yang berlari cepat. Padahal semua ingin cepat-cepat mencapai garis finis, bukan? Lalu, apa kiatnya agar dapat berlari dengan cepat? Tentu dengan rajin berlatih sebelum bertanding. Berlatih, berlatih, dan terus berlatih.

Pertanyaannya, mengapa mesti berlatih dan terus berlatih? Belajar itu tak ada batasnya. Istirahatlah untuk belajar. Jika kita sudah menguasai atau bisa dalam satu hal alangkah lebih bijaknya jika kita melatih diri dalam hal yang lain. Dengan demikian, tegaskan dalam hatimu bahwa tidak pernah lagi ada kata “Penulis belum siap” atau “latihanku masih kurang”.

Pelajarilah apa saja jika itu memang urgen dan banyak dibutuhkan orang lain. Jadilah pribadi yang mengukur bahwa dirimu berada selangkah lebih maju, lebih siap dalam segala hal!

Berpikirlah bahwa setiap apa yang ada di dunia ini tidak ada yang sia-sia, semua pasti penuh dengan hikmah (Surat Yunus ayat 5-6). Tentu saja dengan mengharap kepada Allah Swt agar setiap hal yang kita lakukan ada kebaikan untuk hari esok. Bukankah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin adalah orang yang beruntung? Maka renungkanlah seperti ajaran Tuhan dalam Surah Al Hasyr ayat 18

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu juga dengan menulis, menulis membutuhkan kebiasaan agar apa yang kita tulis juga mempunyai ciri khas khusus. Tentu ciri khusus yang harus kita pegang adalah kejujuran, kebenaran, dan keikhlasan. Kita berharap bahwa tulisan yang kita hasilkan adalah tanaman yang buahnya akan kita unduh di negeri akhirat kelak.

5. Carilah Guru Pribadi

Belajar menulis dengan guru privat
christmasstockimages.com

Agar kita menjadi pemenang secepatnya, maka langkah selanjutnya adalah cari guru. Carilah guru menulis siapa saja. Stop! Jangan berpikir tak punya uang dulu, karena ini rasa(h) (m)bayar alias gratis. Kok bisa? Ya bisa! Pertama, cari saja kakak semester di kampus yang terlebih dahulu mempunyai ilmu pengetahuan bisa menarikan jari-jari.

Carilah satu terlebih dahulu, jika sudah bertemu cari FB atau nomor HP lalu ajak ketemu. Terus terang saja agar terang terus bahwa niat kita yang utama adalah tulus dan berkomitmen ingin belajar menulis. Jika dia menghindar ataupun sedikit cuek, jangan menyerah terlebih dahulu, itu tanda dia sedang menguji seberapa kuat mental kita. Jadi tetaplah mengejar alias istikamah seperti mengejar calon istri kita sebelum menikahinya.

Penulis sendiri awal pertama kali bertemu dengan guru bernama Dharma. Bisa dibilang budayanya beda dengan orang Jawa karena asalnya dari Lampung. Itulah persepsi, namun sebenarnya semua biasa saja, walaupun kesan yang diterima dari orang Jawa lebih lembah manah.

Awalnya memang berjalan lancar, namun karena Penulis rasa ingin tahunya sangat tinggi tak jarang selalu bertanya baik via SMS, email, bahkan jika bertemu langsung. Penulis juga mencari guru yang lain berharap ada gaya pengajaran yang berbeda.

Guru Penulis yang kedua adalah Mas Andri. Penulis mengenal beliau dari bukunya dan alhamdulillah dipertemukan beliau ketika beliau menjadi asisten dosen. Bahkan ketika ingin mengikuti lomba menulis feature di Fakultas Dakwah, waktu itu beliaulah yang mengajari cara menulis yang benar mulai dari tanda baca dan lain sebagainya dan alhamdulillah juara 2.

Penulis juga sempat belajar menulis dengan Bapak Supadiyanto, alumni KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang sudah malang melintang di berbagai seminar kepenulisan. Beliau saat ini menjadi pengasuh metamorfosa Koran Republika sekaligus Media Indonesia. Dan masih banyak guru-guru yang lain yang tak bisa Penulis sebutkan satuper satu.

Ya! Jika kita bersungguh-sungguh pasti akan menemukan jalannya. Penulis sangat bersyukur sekali karena sesibuk apa pun mereka, tetap menyempatkan waktu untuk sharing. Melalui Bapak Supadiyanto-lah Penulis diperlihatkan cara menulis buku hingga sebelum mencetak buku, dan akhirnya tulisan ini juga bisa sampai ke tangan Anda.

6. Cari Link

Belajar menulis memerlukan persaudaraan
bluedragoncreations.com

Hidup itu butuh kebersamaan, dan kebersamaan itulah tanda terjalinnya hubungan atau yang biasa kita namakan link. Bayangkan, jika kita rakus mengejar cita-cita kita sehingga terlupa dengan perintah agama dan teman terdekat kita. Apa yang akan terjadi? Penulis ambil contoh, misal tanpa doa, motivasi, bahkan buah pikiran orang lain, tentu kesuksesan itu akan terhambat.

Oleh karena itu, kesuksesan sesungguhnya juga didukung relasi sosial kita baik dari teman-teman, saudara-saudara, maupun guru-guru kita. Jika dilihat dari manfaatnya pun tak bisa bila disamakan dengan penulis yang tak mempunyai link.

Hal ini dikarenakan bisa jadi orang-orang akan sinis, tidak senang bahkan menjauhi kita karena kesuksesan kita tanpa melibatkan mereka. Maka dari itu, janganlah rakus mengejar dunia, fokus itu perlu namun tidak dibenarkan jika cuek dan acuh terhadap kebutuhan orang lain.

Salah satu cara membangun relasi adalah silaturahmi ke redaksinya secara langsung. Lebih dari itu, ajak kerja sama untuk mengadakan workshop kepenulisan ataupun seminar-seminar menjadi moderator maupun pembicara.

Di sinilah relasi akan terbentuk dengan sendirinya, selain acara kita dipublikasikan, mendapat sponsor, kita pun juga bisa berdiskusi langsung dengan para awak media. Lalu nikmat mana lagi yang akan kita dustai?

7. Karena Alquran, Tak Sempat Galau

Al Quran ilmu luar biasa
kmi-s.ppisendai.org

… dan rahasia besar itu berada dalam Alquran. (Q.S. Al Hasyr [59]: 21). Dalam menulis, Penulis pun sering terinspirasi dari kata-kata dalam Alquran, baik itu dalam menemukan ide yang tak disengaja, kata-kata hikmah, ataupun solusi problem umat masa kini.

Sering kita mendengar bahwa Alquran merupakan penawar. Tahukah sebenarnya apa maksud sebagai penawar? Mungkin kita sama, sebelum-sebelumnya Penulis cuek prek Alquran itu apa, namun karena ada masalah yang membuatku down membuat Penulis mengambil Al Quran dan kubaca. Penulis pun percaya bahwa Alquran sebagai penawar hati.

Pertanyaannya, setelah membaca mengapa diri merasa down lagi? Dari situ Penulis terus berpikir, merenung dan mencari apa makna sebagai penawar. Akhirnya Penulis iseng-iseng membuka Alquran dan tepat disitu ada penjelasan terkait masalah yang Penulis hadapi.

Ya, sebagai takmir masjid yang miskin iman terkadang rasa lelah, down dan gak bergairah memang sudah akrab. Dari situ Allah memberikan semangat langsung lewat Alquran Surat At-Taubah ayat 18.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dari situlah Penulis mengetahui yang dimaksud sebagai penawar menurut Penulis Alquran adalah solusi bagi kehidupan dan masalah-masalah yang kita hadapi. Oleh karena itu, alangkah indahnya orang yang hafal Alquran, karena setiap langkah ataupun adanya masalah dalam kehidupannya pasti ada Alquran yang senantiasa stand by memberikan pedoman.

Semua ada dalam Alquran. Bahkan kejadian-kejadian di masa yang akan datang pun sudah jelas tergambarkan. Tapi semua harus digali dengan keterbukaan wawasan dan kesungguhan ijtihad. Alquran lah yang mengajarkan kita pentingnya imajinasi yakni kitab suci yang terus berlaku sampai akhir zaman.

Bagaimanapun juga ilmu pengetahuan ataupun referensi ilmu tak berguna dengan maksimal tanpa adanya nalar dan berjalannya akal sehat.

9. Carilah Keterbatasan!

Keterbatasan akan memunculkan inspirasi
crmbusiness.wordpress.com

Pernah merasakan serba cukup? Kiriman orang tua masih lancar jaya, gaji masih bisa buat makan esok pagi atau masih ada banyak nutrisi? Pernah merasa cukup dan menjadi malas? Merasa hari ini hari untuk bersenang-senang dan bersantai-santai saja?

Itulah mereka yang bermewah-mewahan, pengundang bala sesungguhnya. Orang yang hidupnya bermewah-mewahan pasti akan selalu merasa sedikit dan merasa kurang bersyukur atas rezeki yang diperolehnya.

Karena kemewahan, harta senantiasa dihitung dan pelit untuk keluar—yang seperti inilah keberkahan akan terkikis. Kurangnya keberkahan tersebut kadang bisa berwujud rasa malas, pusing tanpa alasan, ataupun halangan-halangan lain yang biasanya tanpa alasan.

Coba kita lihat kembali perjalanan agung Muhammad Saw, beliaulah insan yang selalu mendekati kesederhanaan. Bahkan menjelang akhir hayatnya, Rasulullah teringat uangnya yang ditaruh di bawah bantalnya sebanyak 10 dinar. Rasulullah tak ingin meninggalkan harta sedikit pun. Ia lahir tak membawa apa-apa, kembali pun juga tak membawa apa-apa.

Di akhir kisah Rasulullah tersebut, Baginda Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabatnya untuk menyedekahkan 10 dinar tersebut kepada fakir miskin. Begitulah kehidupan Rasulullah Saw, beliau adalah insan yang sederhana namun besar karyanya.

Carilah keterbatasan itu ketika kita merasa cukup ataupun berlebih. Hiduplah sekadarnya dan berpikirlah bahwa kita hidup untuk kehidupan yang sebenarnya, bukan untuk kehidupan sekarang. Maka sederhanalah agar kamu bisa berkarya besar!

Selain itu, manusia memang akan dihadapkan dengan pelbagai keterbatasan, baik itu keterbatasan waktu, keterbatasan ide, keterbatasan kata, keterbatasan materi, ataupun keterbatasan mental. Banyak sekali teman Penulis yang mengeluh belum ada ini, itu, tidak suka baca, tidak punya laptop, dan lain sebagainya.

Padahal sebenarnya itu adalah alasan yang tidak perlu. Justru dengan keterbatasanlah kita akan diberikan nikmat dan karunia-Nya. Ingatlah bahwa semakin besar keterbatasan maka semakin besar pula peluang kenikmatan itu.

Penulis sarankan mulai sekarang bersahabatlah dengan keterbatasan. Keterbatasan bukan suatu halangan untuk kita gagal dalam meraih cita-cita atau membuat gagal sebuah karya yang kita inginkan. Karena karya hakikatnya milik dan untuk Tuhan, tentu saja tak ada yang mustahil.

Pernah suatu ketika “ngopi” bareng teman di kantin, dialog pun terjadi dan teman Penulis mengatakan ingin menjadi pengusaha saja agar masa tuanya dapat hidup santai. Pertanyaannya, pernahkah Nabi Muhammad Saw menggunakan masa tuanya untuk bersantai-santai?

Dari obrolan itu, semua jenis pekerjaan sebenarnya sama saja, yakni memerlukan kerja keras, ketekunan, ketelatenan, ketulusan, dan keikhlasan karena semua itu merupakan bekal menuju Allah Swt.

Oleh sebab itu, sebenarnya tak ada masa untuk bersantai-santai ketika kita sudah mencapai tangga kesuksesan dunia. Itulah mengapa kita hendaknya selalu mengharap rahmat pertolongan Allah karena hal tersebut adalah penentu keselamatan kita di negeri abadi sana. Oke?

Sertakanlah Tuhan, apa pun yang kita lakukan, baik berdiri, duduk ataupun berbaring. “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring” (An Nisa: 103). Begitupun dengan menulis, tentu Tuhan harus kita bawa ke mana-mana entah itu berupa tulisan opini, cerpen, ataupun tulisan yang lainnya.

Hal ini agar tulisan kita bukan sekadar tulisan yang dimuat di media massa saja, namun ada nilai ibadah di dalamnya. Selain itu, kita kembalikan kepada Tuhan bahwa menulis adalah memberi solusi, membuat orang gembira tersenyum, bukan memperkeruh suasana menjadi rusuh.

Sangat disayangkan ada sebagian penulis hanya karena dibayar lalu tergadailah kebenaran dan keadilan. Menurut Pak Dosen Amirudin ini dinamakan “melacurkan” tulisan. Hal yang sebenarnya harus dituliskan malah menjadi disembunyikan berupa pencitraan ataupun pencorengan nama baik.

Oleh karena itu, agar tulisan kita menjadi ibadah, tentulah jangan asal menulis, persembahkan semua yang terbaik untuk Allah Swt. Penulis sempat belajar menulis dengan wartawan senior Tempo saat berkumpul dengan kader seorganisasi (baca pentingnya menulis di Media Massa di artikel lain academic Indonesia).

Dalam pembelajaran tersebut beliau mengajarkan kami untuk selalu berdoa sebelum menulis. Bahkan didahului dengan Alfatihah, selawat dan doa kepada bapak ibu. Hal tersebut memang membawa dampak luar biasa. Analisis semakin tajam dan kebenaran insya Allah selalu dibimbing-Nya.

Bahkan mentor kami itu juga menceritakan bahwa dalam menulis tak jarang orang-orang hebat melakukan salat Tahajud terlebih dahulu jika ia hendak menulis di sepertiga malam, dan tentu Duha jika ingin menulis di pagi hari. Subhanallah!

Namun selain amal ibadah khusus di atas, ada beberapa hal yang dicontohkan Nabi Muhammad beserta nabi pendahulunya, yakni bisa dengan berpuasa Daud, puasa sunah Senin-Kamis, salat Duha, salat Tahajud ataupun sedekah. Ibadah itulah yang akan menjadi penenang sekaligus awal mulanya hadir rasa bahagia.

Salim A. Fillah, seorang penulis buku best seller juga seorang yang rajin dalam berpuasa Daud. Ippho Santoso juga termasuk orang yang gemar bersedakah. Ya, semua semata agar kelak ke depannya kita tidak menyesal dan kecewa. Belajarlah mengecewakan dan menyesalkan diri sendiri terlebih dahulu semata-mata untuk menuju sebuah keikhlasan yang murni—Allah Swt Robbul Izzati.

 

Blogger Jogja Ambil Keilmuan Jurnalistik — Hobi Men-SEO-kan Konten — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Gabung dan Dapatkan Berbagai Info Kampus di Komunitas Academic Indonesia Whatsapps di 0812-8307-7972

3 thoughts on “9 Rahasia Kunci Belajar Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *