6 Hal yang Sebaiknya Diperiksa sebelum Artikel Anda Dikirim Ke Media Massa

Kirimkan ke media yang tepat
kcclaveria.com

Hobi Penulis adalah menjaring ide, gagasan, bahkan inspirasi dari orang-orang yang sering kita ajak diskusi. Penulis pun sempat bertemu degan salah seorang teman ngangkring yang umurnya kira-kira sudah mencapai 50 tahun. Dengan tenang, kami pun berbincang dan tiba saatnya bapak itu mengetes Penulis dengan pertanyaan-pertanyaan soal kepemimpinan.

Ya karena saat itu memang musim kampanye. Adu argumen pun terjadi dan perbedaan-perbedaan sudah wajar terjadi. Maklum, pikiran pemuda dengan yang jauh lebih berpengalaman sangat berbeda. Dari perbincangan itu, Penulis mendapatkan satu kalimat yang sedikit banyak mengusik batin.

Zaman ini sudah modern le, apa-apa mudah. Kalo gak jadi orang sukses ya malu-maluin,ungkapnya sinis meremehkan.

Ungkapan nasihat namun bernada sinis di atas membuat bahan perenungan tersendiri. Memang benar, terkadang di tengah kecukupan dan kemapanan mesti ada yang njawil agar kembali pada kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Zaman ini tentu berbeda dengan zaman dulu.

Zaman dulu, laptop itu hanya satu atau dua orang yang punya, saat ini sudah banyak orang yang punya. Nikmat mana lagi yang akan kita dustai? Soal mengirim naskah artikel opini, jadul harus mengirim melalui surat pos atau datang langsung ke kantor media massa yang bersangkutan.

Namun, saat ini dengan mudah bantuan internet cukup dengan uang seribu sudah bisa di warnet dan dikirim via email. Jika masih kurang hemat, bawa saja laptop dan nongkrong aj di kampus, insya Allah wifi gratis.

1. Jual Mahal-lah

Ada tips yang selama ini Penulis gunakan dan terbukti manjur. Tidak hanya berlaku di dunia kepenulisan saja, namun juga aspek-aspek kehidupan lainnya. Tips tersebut Penulis tuangkan dalam artikel opini “Bangkitlah Aktivis”. Perlu diketahui bahwa untuk mencapai sesuatu hal, kita membutuhkan sikap “jual mahal”.

Apa hubungannya? Ya, sikap jual mahal menunjukkan bahwa daya tawar kita mempunyai arti yang cukup penting. Namun jika kita tak mempunyai daya tawar jangan coba-coba jual mahal, nanti sudah dijauhi, juga tak akan dianggap.

Daya tawar ini ada apabila kita yakin terhadap diri kita sendiri bahwa kita mempunyai kekuatan ataupun kemampuan yang tak bisa diremehkan. Jika kita yakin menjadi bagian yang terpenting, tentu kita akan cepat mengambil jalan apa yang kita impikan.

Banyak penulis yang kelemahannya ada di sini, terlalu banyak mengirim artikel ke suatu media massa sehingga terkesan murah dan gampang didapat. Oleh karena itu, ketika mengirim artikel tentu saja cukup sekali, dua kali perminggu atau dua minggu. Jangan over hingga redaktur pun hafal dan bosan terhadap tulisan kita.

Selama ini, Penulis mengakui bahwa tulisan yang Penulis buat bukan tulisan biasa dan dibuat asal-asalan. Tulisan Penulis adalah tulisan karya terbaik yang lahir dari ide gagasan Penulis. Maka dari itu, Penulis pun tak pernah tak menghargai tulisan Penulis.

Jika tulisan Penulis ditolak di suatu surat kabar, Penulis pun berhak untuk mengambilnya untuk Penulis evaluasi ataupun Penulis kirim ke media massa yang lain. Nah! Maka dari itu, coba bercerminlah. Teliti potensi diri, kembangkanlah dan perdalam hingga menjadi ahli. Kalo tidak mulai detik ini, kapan lagi?

2. Pahami Karakter Media

Beberapa kendala yang sering tidak disadari penulis pemula adalah kurang memahami karakter media. Hal ini sangat penting. Semua berkesinambungan dalam meloloskan artikel dan menaklukkan si redaktur. Koran Meteor tentu saja berbeda dengan koran Kompas dari segi konten, bahasa yang digunakan ataupun ideologi yang diperjuangkan.

Berdasarkan konten, setiap media menyajikan konten unggulan sesuai ideologinya. Koran Kompas mempunyai slogan “Hati Nurani Rakyat”, Koran “Merapi Tuntas Tanpa Tendensi”, dan lain sebagainya. Dari segi kontennya pun ada yang memang khusus menyediakan rubrik opini ada juga yang tidak.

Maka yang perlu diketahui ketika hendak ingin mengirim opini ke sebuah surat kabar, periksa dulu adakah rubrik opininya. Jika tidak ada, jangan berharap termuat ya. Penulis jamin nggak bakalan dimuat.

Ada pentingnya juga selain memahami ideologi media, juga berkaitan memahami ciri khas bahasa yang digunakan. Coba sekarang ambil koran KR, KOMPAS dengan Republika dan Tempo. Keempat media tersebut memilik gaya yang berbeda-beda dalam segi penggunaan bahasa.

Maka dari itu amati terlebih dahulu karakter bahasanya. Menurut Penulis, hal yang paling terlihat dari perbedaan penggunaan bahasa terletak pada kata peralihannya atau yang sering disebut kata sambung. Ada yang “nggajluk”, lembut, menukik masalah, dan lain sebagainya.

3. Alamat Palsu

Hal yang tanpa disadari oleh penulis pemula selanjutnya adalah alamat palsu. Ini bukan lagunya si Ting Ting lho. Serius! Ya, Penulis sendiri sering tersilap oleh mata, ketika mengirim artikel tertulis “daelermon”, itu pertanda artikel belum terkirim.

Selanjutnya, sering juga penulis pemula kurang update alamat email-nya. Bisa jadi email yang digunakan merupakan email yang sudah kedaluwarsa alias tak dipake lagi. Oleh karena itu, untuk kolumnis alangkah lebih baiknya jika membeli koran langsung sehingga mengetahui alamat email yang pasti.

Selain itu, keuntungan membeli koran atau memegang secara langsung koran yang bersangkutan akan mempermudah dan terus meyakinkan penulis bahwa syarat yang dikirimkan memang benar.

Hal ini tidak lain karena memang setiap media cetak berbeda-beda dalam membuat persyaratan. Ada yang harus menggunakan KTP, ada juga yang tidak, tergantung media massanya. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi penjual koran!

4. Ideologi

Berkaitan ideologi, tak bisa dipungkiri memang setiap media massa mempunyai ideologinya masing-masing. Di sinilah letak kelemahan sebagai kolumnis, ia tak bisa berbuat banyak tentang hal ini. Berdasar pengamatan pribadi, banyak media cetak yang kurang berkenan memuat ideologi yang berlawanan.

Tapi memang di sinilah bukti bahwa media cetak juga menyebarkan paham ideologi. Tapi tak masalah, jika gagasan ataupun ide kita tak dimuat media massa hanya karena perbedaan ideologi kita masih bisa mem-posting di media sosial lainnya seperti blogger, website pribadi, ataupun di mading-mading lingkungan.

Dari hal-hal di atas, Penulis sarankan jangan mengirim satu artikel untuk dua atau lebih media massa. Perilaku ini sangat tidak baik di mata redaktur, bisa-bisa langsung di-blacklist dari daftar penulis. Jika kita tetap menulis, hikmah yang akan didapat tentu menulis bukan untuk menunggu untuk dimuat, namun menulis untuk terus berkarya.

Jadi yang ada seharusnya berkarya dan terus berkarya, jangan menunggu satu artikel yang belum jelas akan dimuat. Bukankah banyak berkarya lebih baik daripada menunggu satu karya yang menghambat karya-karya selanjutnya? Terus saja berkarya lewat tulisan, pasti ada salah satu yang akan termuat di koran.

Menurut Bang Didik, cara ini dinamakan jurus “najur”. Jurus yang artinya banyak-banyak berkarya, suatu saat pasti ada yang hebat, bermanfaat, dan tentunya dimuat.

5. Momen-Momen Spesial

Banyak penulis pemula yang mengeluhkan bingung mau nulis apa. Tak usah jauh-jauh, ambil saja kalender. Simaklah beberapa tanggal yang memang disengaja berwarna merah. Tanggal itulah momen spesial dan urgen untuk dijadikan tema menulis artikel.

Misal tanggal 1 Januari bertepatan Hari Tahu Baru Masehi. Pada momen ini kita dapat mempersiapkan bahan 3 minggu atau 2 minggu sebelumnya untuk ditulis. Ambil saja satu sudut pandang yang paling kita kuasai, misal pendidikan, sosial, ataupun budaya yang dirangkum selama satu tahun.

Tulislah apa yang ada di pikiran dan carilah data-data untuk melengkapi artikel tersebut.

6. Dikritik, Sudah Biasa

Obat itu pahit, namun semakin pahit rasanya, khasiatnya akan sangat mujarab.

Orang yang tidak mau dikritik itu adalah orang yang tidak mau maju.

Setelah kita menulis dan melakukan pengeditan berulang kali, tentu perasaan lega dan kepuasan batin ada pada diri kita sendiri. Setidaknya, beban pikiran di otak kita berkurang dan kita merasa aman karena gagasan telah tersimpan di dalam karya berbentuk tulisan.

Agar kita lebih lega dan merasa puas, cetak dua atau tiga lalu mintalah pendapat masukan dari teman-teman. Jangan lupa, mintakan koreksi kepada dosen jurnalistik, insya Allah pencerahan sekaligus “akselerasi ilmu” akan cepat didapat.

Di antara teman dan dosen tersebut tentu sangat berbeda dalam menilai. Dari mereka mungkin ada yang akan berkata itu bagus, kurang bagus, jelek, sangat jelek, dan lain sebagainya. Pendapat dari beberapa orang tersebut pasti akan berbeda-beda.

Maka sesuai pengamatan,kita bisa memilih mana orang yang bisa membuat kita nyaman dan senantiasa memotivasi kita untuk selalu menulis. Namun jika semua tipenya suka mengkritik, saran Penulis, janganlah takut akan perkataan dan masukan orang lain.

Itulah kritik yang membangun. Mulailah belajar dari sebuah kritikan lalu lengkapi dan perbaiki dari hari ke hari. Katakan saja dalam hati, “Sudah biasa.”

Penulis mempunyai banyak teman yang kurang suka dikomentari, alih-alih dikritik. Padahal jika orang mau dikritik tentu ia akan maju selangkah melebihi yang lain. Penulisngnya, terkadang yang namanya kritikan itu malah kita asumsikan sebagai rasa benci, padahal kritikan adalah rasa Penulisng.

Hal itulah yang perlu kita tanamkan dalam diri. Bagi penulis pemula, mendapat kritik pertama mungkin saja langsung membuat down, namun di saat-saat itulah sebenarnya kita harus bangkit membuktikan pada dunia bahwa kita bisa. Di saat-saat itulah terjadi pemikiran-pemikiran tak terduga untuk melawan kelemahan diri. Katakan saja, “Mereka saja bisa, kenapa Penulis tidak?”

Poin berikutnya, jangan menjauhi orang yang mengkritik. Ya, mata tak bisa dilihat oleh mata sendiri. Artinya, bagi yang belum menemukan bakat dan potensi diri, orang lainlah yang bisa melihatnya. Mereka-mereka para pengkritik itulah yang menjelaskan kita apa adanya dengan jujur.

Selain itu, terkadang kita sangat mudah menyalahkan, namun sulit untuk menyalahkan diri sendiri. Maka jika ada yang mengkritik, kejar terus jangan sampai jauh. Dialah orang yang akan membuatmu hebat lewat jalan setapak demi setapak menapaki tangga kesalahan-kesalahan.

Contoh Kolom-Kolom

SKH Kedaulatan Rakyat

Kategori: Mahasiswa

Nama Kolom: Dialektika Swara Kampus

Terbit: Setiap hari Selasa

Tulisan: 3.500 karakter dengan spasi, Ukuran Font 12, Spasi 1,15.

Tema: Bebas

Pengiriman: Via email di Swarakampus@gmail.com

Honor: Rp75.000,- biasanya bisa diambil lewat wesel

Kategori: Dewasa/Umum

Nama Kolom: Kolom Opini

Terbit: Setiap hari kecuali Minggu

Tulisan: 4.000 karakter dengan spasi (600 kata), Ukuran Font 12, Spasi 1,15.

Tema: Bebas, aktual, dan faktual

Pengiriman: Via email di Opinikr@gmail.com

Honor: Rp350.000,- via rekening

SKH KOMPAS

Kategori Mahasiswa

Nama Kolom: Argumentasi Kompas Kampus

Terbit: Setiap hari Selasa

Tulisan: 1.500-2.000 karakter, Ukuran Font 12, Spasi 1,15.

Tema: Tematik

Pengiriman: Via email di redaksikompaskampus@gmail.com

Kategori Umum/Dewasa

Nama Kolom: Kolom Opini

Terbit: Setiap hari kecuali Minggu

Tulisan: 5.000 karakter (700 kata), Ukuran Font 12, Spasi 1,15.

Tema: Bebas, aktual, dan faktual

Pengiriman: Via email di Opini@kompas.com

Honor: Rp750.000-Rp1.500.000

Dua media di atas sengaja Penulis sertakan sebagai contoh ketentuan dalam menulis opini. Penulis sengaja tidak menyertakan semua terkait rubrik-rubrik opini, karena menurut Penulis, lebih baik melihat langsung di media massa.

Penulis beranggapan bahwa tanpa membeli koran, kita akan kebingungan jika langsung menulis artikel. Selain karakteristiknya yang berbeda, terkadang alamat email-nya pun ada yang ganti. So, kita perlu up date! Selebihnya, kita bisa menemukannya sendiri di surat kabar yang hendak kita tuju.

Intinya semua hampir sama, di dalam mengirim artikel ke media/surat kabar ada beberapa hal yang perlu disertakan, antara lain:

  1. Foto, setiap media berbeda permintaannya. Ada pose santai, resmi, ataupun bebas.
  2. Kartu identas diri (KTP, KTM, dan lain-lain.)
  3. Riwayat hidup
  4. Nomor rekening
  5. Dan tentu saja artikel yang hendak dikirimkan.

 

 

 

 

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *