Kata-kata Mutiara Aksi Damai 4 November tentang Al Maidah Ayat 51

Kata-kata Mutiara 4 November — Keimanan adalah cinta tertinggi, sehingga kecemburuan karena-Nya adalah kecemburuan tertinggi pula. Nah, jika ada komunitas iman raksasa yang mampu ekspresikan cemburu puncaknya secara legal dan konstitusional, maka itu patut menjadi sejarah terindah sebuah bangsa.

aksi damai 4 november jakarta

Baca juga Kata-kata Mutiara Islam Fenomenal selanjutnya

Bangsaku, sungguh aku percaya bahwa di langit sana pena emas sedang diasah, karena beberapa hari lagi sebuah sejarah gemilang perlu ditulis, bahwa bangsa ini sangat agamis dengan cara teramat santun.

Tentu sangat banyak yang tak ingin tinta emas itu digoreskan. Mereka tak ingin cemburu penuh cinta itu tumpah dalam pawai nan cantik. Seperti biasa, kita tak perlu luapkan marah. Karena itu telah diurus Allah.

Rabbanaa… sempurnakanlah cahaya-Mu…

Kata-kata Mutiara 4 November tentang Al Maidah Ayat 5

foto mengharukan aksi damai 4 november

kasus penistaan al-quran

Saya pada dasarnya menyetujui proses hukum terhadap Ahok tapi tak bersepakat atas demonya. Saya tak cukup ikhlas jika Ahok menjadi terkesan besar gara-gara didemo.

Saya sadar, demo sebagai hal yang sangat wajar dalam perspektif demokrasi, hukum dan konstitusi, telah dipelintir oleh para “penumpang gelap” sehingga seakan-akan bernuansa huru-hara. Yang saya kecewa, “penumpang gelap”nya adalah orang-orang dalam kekuasaan itu sendiri.

Namun, ketika ini tak dapat dihentikan, maka kewajiban saya adalah berbaik sangka kepada Allah, membariskan hati saya bersama barisan perasaan ummat, dan berusaha meredamnya melalui status-status semacam ini.

Saya yakin, ada rencana Allah yang sangat cantik di balik segala peristiwa ini. Ini bukan tentang Ahok, tapi Allah sedang melakukan “Capacity Building Training” terhadap hamba-hambaNya di Indonesia Ahok hanya medium.

Bangsa Pemimpin Dunia

foto mengharukan aksi damai 4 november bela islam

Banyak ragam cerita orang tentang bangsa ini, karena bangsa ini memang kaya ekspresi. Terkadang ia diam, dan orang kira dia pasif… Terkadang ia responsif, dan orang bilang dia agresif… Ia begitu heroik, lalu orang anggap dia pemberang…

Bangsa ini penuh cinta. Itulah sebabnya kenapa ia begitu pencemburu… Ia begitu peduli, sehingga terkesan cerewet dan sensi…

Tapi tampaknya bangsa ini sedang menuju titik ekuilibrium antara kecemburuan yang hebat dengan pengendalian diri yang dahsyat. Percayalah, bangsa ini sedang dipersiapkan untuk memimpin dunia.

Al Maidah Ayat 5

foto terbaik aksi damai 4 november

aksi damai 4-nov

Tuhanku, beberapa hari ini hamba gelisah akan saudara-saudaraku yang rela bertengkar demi seseorang di luar sana. Mungkin hamba terlalu emosional sehingga menganggapnya sebagai sebuah tragedi.

Hamba hanya bisa mengamati, sambil membangun jiwa yang lebih baik sangka. Dan kini hamba sadar bahwa ini adalah cara Engkau memisahkan manusia, dengan surah AlMa-idah ayat 51 sebagai pemisahnya

Tapi, di manakah kini posisi hamba, yaa Rabb ? Hamba cemas dan hanya bisa pasrah berkata: Aku ridha Allah sebagai Rabbku… dan Islam sebagai agamaku… dan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasulku.

“Kampanye” Allah Sangat Cantik

foto aksi damai 4 november

aksi damai bela al-quran

Sahabat, tersinggung adalah hak kita… geram adalah adalah fitrah kita… marah adalah ekspresi kemanusiaan kita… Namun, sampai kapan kita harus mengusik ketenteraman hati kita dengan ucapan Ahok?

Kenapa tak kita nyamankan diri kita dengan sebuah berita gembira, bahwa melalui ucapan seorang Ahok Allah telah mengingatkan kita semua akan AlQur’an Surah AlMaa-idah ayat 51, untuk atasi galau Pilkada?

Sahabat, sungguh Allah telah “berkampanye” dengan cara yang paling cantik…

Demonstrasi Peradaban

Aksi Damai 4 November

foto-foto terbaik aksi damai 4 november

Tadinya aku cemas, demo ini terlalu mahal hanya untuk seorang (pe)nista. Tapi akhirnya aku sadar, ini adalah demonstrasi peradaban. Ini adalah tontonan bagi dunia tentang pesona Muslim Indonesia.

Kalau toh seorang presiden tak tahan untuk hadir dalam unjuk peradaban semacam ini, itu karena ia tak cukup percaya diri bahwa adab yang ia miliki telah setara dengan adab milik rakyatnya sendiri.

Nah, Majelis Ulama Indonesia, kini anda telah mendapatkan panggung kembali di hati ummat. Namun tugas anda berikutnya lebih rumit : membangun aqidah ummat agar tak mudah memuja manusia.

Resiko Beramal Jamai

Resiko beramal-jama’ie adalah bahwa kita mau tak mau terbawa ke dalam dinamika emosionalitas kelompok. Itulah sebabnya kenapa saya melibatkan diri pada beragam amal jama’ie, agar tak didominasi emosi tunggal.

Ada yang bertanya kenapa saya tak keluar saja dari segala kelompok itu, agar tetap “rasional dan obyektif”. Maka harus saya jawab : “Tidak ! Karena hati ini harus tetap bersama degup jantung ummat”

Ya, karena kesendirian itu adalah sebuah ekstremitas, rasionalitas itu adalah sebuah ekstremitas, bahkan obyektivitas pun adalah sebuah ekstremitas, ketika ketiganya tak tersambung dengan suara hati kebersamaan.

Istigfar yang Perlu Diistigfari

Inilah era di mana hiruk-pikuk pepesan kosong politik praktis telah memporak porandakan silaturrahim, dan debat telah menghancurkan musyawarah.

Padahal kelak kita akan siuman bahwa kita lebih pantas bersandar pada teman, kerabat dan tetangga, ketimbang kepada siapapun yang akan terpilih menjadi penguasa. Karena pada silaturrahim ada barakah

Maka, inilah era di mana kepentingan-kepentingan sesaat telah merusak hablum minallah dan hablum minannas sekaligus. Mari istighfar.

Tak Sesuai Syahwat

Tetiba terbayang tiga orang membaca ayat : “Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sungguh Allah tak menyukai orang yang berlebihan”

Lalu, penikmat kuliner berkata : “Makan-minum itu wajib”… Si Kurus menimpali : “Tidak ! Makan-minum itu naluri, tak wajib”… Dan si Kritis menyanggah : “Bukan begitu. Ayat ini melarang makan-minum berlebihan”

Duh, betapa subyektivitas dan pemihakan telah membuat kita menjadi faqih dadakan bermodal satu ayat. Bukankah fiqh tentang ini telah dikeluarkan oleh ahlinya secara komprehensif ? Atau, kita takut membaca fiqh tentangnya karena khawatir tak sesuai syahwat?

Membolak-balikkan Ajaran-Nya

Tak pelak lagi, ahlul munkar memang rajin berbuat ulah. Lalu, kita-kita yang lebih suka mendahulukan nahi-munkar daripada amar-ma’ruf tanpa sadar telah memberikan panggung kepada ulah mereka.

Tinggallah para penggiat kema’rufan terdiam nelangsa di tempat sunyi. Mereka nyaris tak sekalipun kita berikan panggung untuk tampil, karena kita jarang beramar-ma’ruf, karena kita anggap tak heroik

Begitu sibuknya kita mengecam pemimpin munkar, sampai-sampai kita lupa mempersiapkan pemimpin ma’ruf masa depan. Jangan heran jika di masa depanpun pemimpin munkar jadi pemenang. Allah memang akan menghukum hamba yang membolak-balik ajaranNya.

Baca juga Kata-kata Mutiara Pendidikan

By Adriano Rusfi

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *